Kenyataannya, Sakit Itu Belum Juga Hilang

Kali ini pagi.
Layar monitor menyambutku. Ku buka tiap jendela satu persatu dengan harapan salah satu jendela membawa ku pada semangat dan harapan akan hari ini. Tapi salahnya aku terseret pada sebuah memori setelah aku mendengar deru ombak dan tawa lepas, keluarga.

“Dia tidak pantas untukmu!” , suara lantang itu memekakkan telingaku. Perlahan ku rasakan darah dan air mata mengalir begitu deras.

Tersentak! Aku hanya bisa menutup kupingku dan menahan teriak sambil berlutut.

Setelah perlahan suara lantang itu menghilang aku memberanikan untuk membuka mata. Ku rasakan butiran halus di telapak kakiku, warnanya oranye mengilap bagai berlian yang disinari cahaya. Aku bernafas lega. Kembali aku melihat ke depan sambil mengusap air mataku. Aku mendengar beberapa orang berteriak menjual air kelapa segar, menawarkan untuk mengepang rambut sesekali mereka berbahasa Inggris dengan logat aneh yang sangat menjadi ciri khas daerah tersebut, daerah yang dikenal sebagai Indonesia. Padahal Indonesia tak hanya sebesar pulau dewata.

Seseorang menarik tanganku. Kami berkejaran dengan ombak.
Tawa lepas, riang, hangat memenuhi setiap nadi. Kami bahagia. Tiba-tiba semua berubah. Aku bingung, tapi aku terus mengikuti orang yang menarik tanganku itu. Aku mengenal kehangatan ini.

Tangan itu menggenggam erat milikku kala ombak bercanda ria menggelitik setiap sentinya. Setiap ruasnya memiliki cerita akan masa lalu dan mungkin menyimpan masa depan dia dan aku. Kami tertawa dalam cinta. Apa ini masa depan?

“Kak, lihat ke sini…”, seru si manis yang sudah siap dengan kamera profesional terbaru miliknya. Ia tampak semakin manis dengan kulit kuning langsat yang dibalut dengan birunya laut yang senada dengan baju yang ia kenakan. Aku rindu padanya.

Aku tersenyum. Dia ikut tersenyum. Kami tersenyum.
Tapi aku merasakan sesuatu yang tidak biasa. Aku memincingkan mata. Mengapa rasanya senyumku tak seperti senyum mereka?
Aku tatap ia lekat-lekat. Ia tersenyum. Lebar. Sepertinya ia bahagia.

Aku kembali merasakan tarikan waktu. Seperti menaiki roller coaster yang berjalan mundur. Cepat dan tidak membiarkanku bernafas walau sekali tarikan.

Aku tiba di tanggal 28 Agustus. Aku mengenali tanggal itu karena sekarang rambutku masih panjang. Angka 28, tidak bias bahkan semakin jelas terpajang.
“Kita tidak bisa bersama-sama.”, aku mengeluarkan suara.

“Kenapa?”, kata ia di sana.

“Haruskah ku jelaskan lagi kondisinya?”

Kami berakhir dalam pelukan dan pelukan itu juga yang melemparkanku kembali ke tepi pantai.

Sakit.

Aku terjerembap.
Kali ini tak ada tangan.

Aku ditinggalkan.
Ku lihat mereka tertawa lepas. Ku lihat tangan yang saling silang melingkar di pinggang di hadapan kedua orang yang sama yang tak mengizinkan wajahku berpasangan dengan kesayangannya. Ia yang dulu.
Ku lihat masa depan di antara masa laluku. Perih berbalut sayang.
Ku lihat sebuah penerimaan di antara penolakan yang ku rasakan.

Aku mulai memilih untuk diam. Segera aku mencari tanda silang.
Dan hilang. Semua gambar tersebar memecah bagai serpihan. Tak sempat ku hitung berapa lama proses itu terjadi, yang jelas sebelum jantungku berhasil memompa darah untuk kesekian kalinya yang menandakan aku masih hidup.
Kenyataannya, rasa sakit itu masih ada. Belum juga hilang. Perlahan ku hapus karakter ku dalam drama.
Dan akhirnya cerita ini berakhir bahagia.

Jakarta, 10 September 2014.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s