Diragukan

Namaku Riski. Tanpa Z, tanpa Y. Riski. Riski Kayana. Usiaku tepat 35 tahun nanti saat aku pulang kerja di mana arah jarum jam di tangan kiriku melewati pukul 12 dan aku merayakannya sendirian. Lagi-lagi sendirian.

Apa yang ku lakukan di saat itu? Berdoa? Tidak. Kebanyakan aku berkeluh kesah pada yang memberikanku nafas kehidupan, mengapa aku masih bekerja di malam bahagiaku? Di mana kejutan? Di mana orang-orang yang seharusnya menghabiskan malam pergantian usiaku beramai-ramai mengiring doa, peluk dan cium untukku?

Tapi, di sini aku saat ini. Melangkahkan kaki meninggalkan gedung berlantai empat puluh dan setumpuk pekerjaan  yang masih meronta ingin cepat diselesaikan. Berbeda dengan orgasme-orgasme yang dilakukan pasangan hura-huraku, mereka ingin lebih lama. Kalau bisa lama-lama sampai matahari kembali membuka mata. Aaaah! Jika ku pikir-pikir, terlalu banyak calon presiden yang ku buang-buang di atas perut, payudara bahkan mulut-mulut yang haus akan uang itu. Biarlah!

Masuk aku ke dalam sebuah kafe yang terkenal dengan kenikmatan kopinya. Ku pesan satu yang panas dengan ukuran kecil, mereka menyebutnya tall. Tall, seperti sebuah nama yang masih ku ingat saat ini aroma kentutnya. Hah! Bukan aku seorang penyyakitan hingga mencintai dirinya sampai bau terbusuknya, tetapi Tallita, ia akan berlari dan menjaga jarak hingga 5 meter saat ia mengeluarkan gas, setelah itu ia akan berlari di sampingku dan tertawa-tawa. Bagai anak kecil yang lega setelah menahan taik berhari-hari dan akhirnya keluar meluncur dengan mulus tanpa hambatan.

Kini? Tallita sudah pergi bersama orang yang tak bisa membuatnya kentut dengan bahagia. Biarkanlah. Kata orang, aku belum move on. Padahal, aku hanya tenggelam dalam keseharianku di ibukota yang kejam ini. Bayangkan saja, kerap pulang setiap pukul 11 malam itu apa namanya kalau tidak kejam. Cih! Kapan aku punya pacar baru? Kapan aku bisa bergaul? Bisa. Hari Sabtu dan Minggu. Di mana semua teman-temanku berkumpul bersama pasangan atau keluarganya dan aku hanya numpang tertawa menghabiskan masa demi masa, kembali tidur dan mengheningkan cipta hingga pagi.

Yang ku inginkan di ulangtahunku kali ini? Hmmmmm… Sederhana. Aku ingin calon presiden yang akan keluar dari tubuhku masuk ke lubang yang tepat dan membuahi wanita yang ku cintai dalam waktu dekat. Aku tak berminat untuk cepat membina keluarga sebenarnya, namun, ada satu ketakutan yang terus menerus menghantui malamku.

Aku, orang yang sangat percaya pada ilmu pengetahuan.

Suatu hari aku membaca salah satu media online terbesar di Indonesia yang mengatakan bahwa pada usia 30 tahun hormon testoteron akan terus menurun. Di atas umur 31 tahun, gen dan kromosom sperma akan menurun kualitasnya. Timbul keraguan dalam diriku. Kapan? Calon presiden berkualitas sudah banyak ku hambur-hamburkan. Bisakah malam ini aku mendapatkan tanah gambut yang tepat untuk benihku? Bisakah nanti wanitaku menerima ku karena usia yang melompat semakin tua? Kemungkinan memiliki anak yang terbaik akan lewat begitu saja!

Tallita, kenapa kau meragukan ku saat aku masih perjaka? Saat aku yakin dan menanam patok pada hatimu, kau satu milikku. Sekarang, hanya keraguan yang tersisa. Aku kembali diragukan. Tak hanya olehmu, kini semua hawa akan meragukan kualitas diriku. Aku kini menerima nasib saja, toh sejak kecil aku pun diragukan, siapa ayah ibuku yang sebenarnya, aku pun tak tahu.

Ku lihat sepasang mata memandang di sana. Aku tergoda. Ku kedipkan mata beberapa kali, ia membalas dengan senyuman. Sinyal sudah mulai kuat saudara-saudaraaaaaa!! Teriakku dalam hati. Ia datang. Kami bersalaman.

Riski.

Arjuna.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s