Buku Manual

Menjadi seorang redaksi di salah satu majalah ternyata benar-benar membutuhkan kerja keras, karena tanggung jawab yang diberikan tak melulu masalah tulisan. Event, klien, pergi dari satu toko ke toko lain, meminjam barang, menyeleksi bahkan terkadang merangkap sebagai stylish dan badut harus dikerjakan.

Baru-baru ini dipercayai sebagai PJ untuk artikel peralatan bayi membuat diri ini excited tapi juga ketakutan. Takut fotonya tidak sesuai yang diharapkan, takut barang-barang yang dipinjam kembali dengan cacat dan masih banyak alasan lain. Peralatan bayi ternyata bukan barang-barang yang mudah untuk di”apa-apa”in. Sebut saja baby crib, baby bather, baby bouncher, baby gym mat dan masih banyak lagi, itu butuh banget dirakit. Dari potongan besi yang nggak beraturan hingga menjadi sebuah mainan dan alat yang berguna untuk bayi yang akan menggunakannya.

Sebenarnya, senang-senang aja merakit. Tapi, entah kenapa setiap kali merakit seperti itu lebih suka menebak-nebak ini masuk ke mana, yang ini pasangannya yang mana padahal sudah jelas ada manual book-nya. Saat itu beberapa kali sudah dibilangin, “Itu kan ada manual booknya, coba diliat.”

Akhirnya, memutuskan untuk menyerah dan mengikuti panduan gambar yang ada di dalam buku. TAAARAA! Dengan waktu yang lebih cepat, peralatan-peralatan itu terbentuk dengan baik, tanpa cacat dan persis seperti apa yang tercantum pada gambar.

Jepret-jepret untuk tiga halaman, akhirnya selesai. Saatnya membereskan kembali peralatan yang tersebar ke mana-mana di studio. Tibalah pada saat yang berbahagia, yaitu membongkar rakitan. Ya, harus banget melakukan ini karena pengembalian barang harus seperti bentuknya yang semula. Beberapa kali mencoba mengurai batangan besi namun tak kunjung menelurkan hasil. Sampai pada satu titik ingin menyerah dan meninggalkan rakitan tersebut, ada salah seorang bapak petugas di studio yang menertawakan apa yang saya lakukan, “Jualan sendiri neng? Hahaha.. Mau bongkar alatnya ya? Tadi buku manualnya mane? Liat aja gimana awal pemasangannya,”, ujarnya dengan logat Betawi.

Damns! *MENGGUNAKAN ‘S’ KARENA INGIN MENYEBUT DAMN BERKALI-KALI.

Kenapa nggak daritadi ya? Kalau saja daritadi buku itu dibaca dan langsung diaplikasikan pasti pembongkaran bisa lebih cepat dan tidak membuat wajah ini desperate sampai diertawakan. Oke, akhirnya satu persatu besi lepas dari pengaitnya dan selesai.

Berbicara tentang buku manual, katanya, orang Indonesia terkenal banget paling malas membaca buku manual. Kurang tau penyebabnya apa, tapi coba diingat-ingat saat membeli gadget. Pasti lebih percaya temen yang ngajarin ketimbang baca buku manual. Padahal kalau dibaca, buku itu bisa memberikan informasi yang lebih banyak dan akurat.

Terkadang kita juga melakukan hal yang sama saat kita merancang hidup kita atau merancang sebuah relasi. Satu yang saya tahu, sebagai seorang pengikut Yesus sudah jelas ada buku manual bernama Alkitab. Di dalamnya tercantum beragam informasi dan petunjuk yang bisa dengan mudah kita aplikasikan. Bahkan, dengan membacanya kita bisa mendapatkan banyak pelajaran. Tapi, namanya manusia pengennya yang gampang aja. Alkitab atau kitab apapun dalam agama mu terkadang hanya sesekali dibaca dan pasti lebih suka meraba-raba saat menjalani hidup. Pengalaman memang pelajaran yang paling berharga, kalau tidak pernah salah tidak akan tahu mana yang benar. Itu betul.

Tetapi, untuk mendapatkan ikan di laut kita tidak perlu ‘nyemplung’ dan tenggelam karena tidak bisa berenang. Ada alat bernama pancingan yang bisa kita rangkai dan gunakan untuk mengambil ikan tersebut. Selain itu, sama halnya saat menyelesaikan masalah. Sejak SD kita sudah dikenalkan dengan kata : Diketahui, ditanya, jawab dan jadi. Ternyata kata-kata itu memang benar-benar diciptakan dalam manual book matematika untuk membantu kita menyelesaikan masalah.

Dimana waktu sekolah masalah yang paling berat dalam hidup memang cuma MATEMATIKA.

Saat ingin menyelesaikan satu problem, tanyakan apa yang dirimu ketahui tentang masalah itu, tanyakan apakah benar demikian, tunggu jawabannya dan jika memang jawaban tersebut benar, maka buatlah kesimpulan yang benar. Do not judging. Do not assuming.

Karena semua hal dalam hidup ini ada buku manualnya. Buku manual tersebut  akan membawa hidup kita menjadi lebih baik walau tidak mudah, tetapi kita bisa menghemat tenaga dan mengurangi rasa putus asa karena memang kita tahu bahwa kita memiliki petunjuk yang tepat.

If you wanna know, asking. Don’t assuming. – Monica.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s