Lulabi

Manhattan sore itu dipenuhi keriuhan dan dengung sirine yang membuat kepadatannya semakin tak terkira. Klakson mobil-mobil mewah hingga angkutan umum serta kendaraan roda dua lainnya semakin nyaring ku dengar. Jalanan di depan sana memang terkenal sebagai jalur yang padat merayap di jam-jam tertentu, seperti misalnya sore. Dan sore ini jalanan itu benar-benar tak bergerak karena beratus pasang mata mendadak penasaran dan memusatkan perhatian mereka pada tubuh kaku yang sempat menggelepar di pinggir taman yang baru saja dibersihkan oleh seorang bapak tua berbaju biru. Bapak tua itu secara terbata-bata mengungkapkan kejadian yang ia lihat lima menit yang lalu.

Dari seberang jalan masih ku lihat ia sedikit gemetar, tangannya menunjuk ke atas gedung. Tempat kejadian perkara sepertinya.

“Saya tidak tahu pasti, hanya saja akhir-akhir ini korban sering melamun di taman. Dia.. dia wanita yang ramah. Beberapa kali ia bertegur sapa dengan saya dan mengajak saya berdiskusi,” . Kata bapak tua itu.

Pendengaranku cukup tajam dan memang aku selalu mendengar suaranya akhir-akhir ini ketika melintasi dan berhenti sebentar di taman Manhattan.

Bapak tua itu masih menjelaskan sambil sedikit menepis air matanya yang perlahan meleleh turun dari kedua matanya, melewati kantung yang sangat besar dan turun ke kumis putihnya yang tumbuh tidak beraturan. Sepertinya ia merasa bersalah dan kehilangan.

“Wanita ini sering membawakan saya makanan di sore hari. Ia sering mendengarkan musik. Katanya lagu yang menenangkan dia. Lagu yang membuatnya semakin ingin merasakan ketenangan. Saya tidak tahu lagu apa, lagu bahasa Inggris. Somwer the reinbo,” Jelasnya pada pria muda di depannya yang mengenakan baju seragam coklat yang menanyainya sebagai saksi mata.

“Lalu, apa yang sering ia ceritakan pada bapak?”

“Wanita itu bertanya pada saya, apa saya bahagia sebagai pengurus taman. Saya juga ditanyai bagaimana jika ternyata hidup saya hanya menjadi beban? Dia juga berkata, apa yang ia lakukan sampai saat ini ternyata tidak membahagiakan keluarganya. Saya tidak tahu pasti di mana keluarganya, ia cuma berkata demikian.”

Segerombolan orang semakin banyak mengerumuni lokasi. Beberapa di antara mereka mengambil ponsel dan mengabadikan gambar aliran darah yang masih tersisa dari tubuh yang jatuh dari gedung berlantai 36 itu. Sepertinya mereka berlomba untuk menyiarkan pada teman-teman mereka di dunia maya bahwa ada tubuh wanita muda yang jatuh dari lantai yang cukup tinggi dengan sebuah ipod yang masih dalam genggamannya menunjukkan tanda segitiga dan berjalan sebuah teks di sana “Somewhere over the rainbow” mengiringi kepergiannya menuju rumah sakit terdekat.

***

“Bapak sudah berapa lama bekerja sebagai tukang kebun?”

“20 tahun.” ucap bapak bertato di depanku sambil mengaduk-aduk tanah di depannya.

“Menurut bapak, apakah pekerjaan bapak membanggakan? Bapak sudah berkeluarga?”

Ia mengelap peluh yang membanjiri dahinya.

“Saya senang saja. Saya menikmati pekerjaan saya. Membanggakan atau tidak, tak jadi masalah. Saya sudah berkeluarga, anak saya satu, sudah kuliah.”, katanya sambil melanjutkan pekerjaannya dan melempar senyum kecil padaku.

“Kalau anak bapak dua, bapak akan lebih sayang pada yang mana?”, aku mengayun-ayunkan kaki sambil menopang tubuhku pada kedua tangan yang menempel pada kursi taman. Ku lihat langit sore ini cukup cerah dan hangat.

“Wah, saya tidak tahu. Saya hanya akan mencintai dan memberikan kasih sayang saya pada mereka seutuhnya. Bukannya sebagai orangtua sudah seharusnya seperti itu? Memangnya kenapa?”

Aku mengusap hidung sembari menahan jatuhnya air mata. Tersenyum. “Tidak apa-apa. Pak, kalau anak bapak tidak pernah menanyakan kabar bapak, apa yang bapak rasakan?”

Ia menaruh tanaman terakhir, bunga berwarna kuning, pada barisan tanaman sejenisnya dan lengkaplah bentuk gelombang yang menghiasi taman kecil di samping Manhattan ini. “Tergantung. Dulu, saat saya masih muda, saya adalah anak yang terbiasa mandiri hingga akhirnya merasa bahwa jika tidak ada yang perlu didiskusikan antara orangtua dan anak dan selama saya baik saja mengurus hidup saya, saya tak pernah menghubungi orangtua saya. Dan mereka tidak apa-apa dengan hal itu. Maklum, saya sudah merantau sejak muda. Tetapi, anak saya sekarang, ia lebih peduli pada saya dan ibunya. Entahlah, setiap anak kan hidup berbeda-beda.”

“…”

“Kenapa diam? Apa yang terjadi dengan keluargamu?”

“Menjadi anak itu, apakah harus selalu menuruti orangtuanya? Apakah setiap yang dikatakan orangtua demi kebaikan anaknya harus dijalani demi memuaskan orangtua? Apakah itu menjadi dosa jika tidak menanyakan kabar orangtua setiap hari dan masih bergantung pada orangtua?”

Bapak tua itu hanya diam dan tersenyum. Aku larut dalam lagu yang ku putar terus menerus. Yang mengalun indah mengisi relung hatiku yang menginginkan ketenangan.

” Saya ingin hidup sendiri rasanya, Pak.”

“Hidup sendiri itu tidak enak, jangan.”

“Tidak. Saya ingin hidup sendiri, di mana saya tidak perlu mengingat lagi masa lalu dan masa kini. Saya ingin pergi dan bekerja di tempat yang berbeda. Mengerjakan pekerjaan yang hanya menghasilkan sedikit uang tetapi ada orang-orang yang bangga dan menghargai apa yang saya lakukan, bukan diukur melalui keberhasilan jabatan atau pun uang yang saya hasilkan, apalagi dari seberapa banyak bantuan saya pada keluarga.”

“Jadi orangtua saja dulu, nanti kamu tahu bagaimana rasanya. Atau, mungkin kamu harus mencoba hidup di dunia lain, dunia yang berbeda dari dunia yang sekarang kamu jalani.”

There’s a land that I heard of once in a lullaby…

“Tadinya saya semangat ingin membina rumah tangga, tapi sekarang saya jadi takut sendiri, Pak. Saya masih belum percaya diri. Dunia lain? Tempat baru? Kehidupan baru?”

“Hidup itu pembelajaran. Harus mau mencoba dan menjalani. Anggap saja kamu adalah bayi yang sedang berjalan, kamu belum tau kan apa yang terjadi saat kamu sudah berjalan. Kehidupan baru? Ya, mungkin…”

Aku terdiam. Menutup mata dan berusaha menenggelamkan diri dalam nikmatnya angin sore serta senja di balik awan-awan tebal putih yang perlahan berubah menjadi kelabu.

***

Ditemani rintik hujan dan gemuruh suara kerumunan orang yang menghalangiku, aku mencoba untuk berdiri dan pergi.

Ku genggam ipod milikku.

Lagu ini terasa semakin kencang.

Terngiang-ngiang di kepalaku setiap baitnya.

Akhirnya aku berhasil menerobos tubuh-tubuh berbau masam karena bakteri yang bercampur dengan hujan yang turun setitik demi setitik hingga menjadi ribuan titik yang mengusir mereka semua. Karena mereka takut kebasahan.

Aku melangkah ringan, tetapi ku rasakan berat di kepalaku. Pusing yang tak terkira, sekali, lalu hilang. Aku masih memerhatikan bapak tua yang selalu menemaniku di taman itu. Ia menangis.

Ia benar, seharusnya dari dulu aku melangkah dari lantai itu dan menemui kehidupan baruku.

Manhattan kembali ramai sore ini. Namun kali ini dengan klakson dan sirine ambulance yang membawa tubuhku pergi. Ku lihat segerombolan orang mengabadikan momen yang ku rasakan lima menit yang lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s