Selamat Datang, Selamat Belanja.

Selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja.

Ku dengar suara pintu dibuka. Sosok tegap, berkulit putih, berkacamata dan berkaos warna senada dengan langit pagi ini memasuki toko.
Menelusuri rak pertama, sedikit bolak-balik di rak kedua dan pergi ke rak minuman untuk mengambil minuman dingin berbotol cokelat. Funtastic Mocacinno. Kemudian ia kembali melangkah dan berdiri tepat di depanku.

Beep…

“Enam ribu lima ratus,”

Dia merogoh dompetnya yang berwarna cokelat. Ku lihat gambar buaya di sana, ya, orang kaya sepertinya. Tidak begitu tebal, tetapi banyak kartu di sana. Tak hanya kartu transaksi saja, kartu nama perusahaan penting pun ada di sana. Tak butuh waktu lama, ia menaruh selembar uang berwarna biru.

“Ada uang kecilnya saja, Mas?”

“Nggak ada, Mba.”

Aku kembali sibuk mengutak atik mesin kasirku. “Kalau lima ratusnya ada, Mas?”

“Nggak ada juga, Mba.”, katanya lagi dengan suara yang cukup serak.

Akhirnya, ku serahkan sejumlah uang kembalian padanya. Ia memintaku untuk tidak memasukkan pembeliannya ke dalam plastik. Aku rasa ia termasuk salah satu orang yang sudah mulai peduli dengan lingkungannya. Seketika saat aku melayani pembeli di belakangnya ia mendorong pintu dan bergegas masuk ke dalam mobil putih yang terparkir depan di depan toko.

Priiit.. Priit..

Pak Agus, si tukang parkir, membantunya keluar menuju jalan raya. Ia menurunkan kaca, memberikan uang kemudian melempar senyum yang sampai saat ini terpajang rapi di ruang hatiku. Entah siapa namanya, tapi aku harap ia akan sering berbelanja di sini.

Seminggu berselang, aku kebagian jaga malam. Malam ini sedikit sepi dari hari biasanya, hanya riuh di luar toko karena sedang hujan. Atap luas di depan toko ini membuat banyak orang sekadar numpang berteduh. Ada seorang pria tua di pojokan menggenggam plastik hitam sambil menghisap sebatang rokok kretek untuk mengurangi rasa dingin yang membalut tubuhnya. Bergeser sedikit ke kiri ku lihat sepasang tangan bergandengan. Pasangan muda ini tak sadar banyak mata yang memandangi mereka. Si perempuan asyik bergelayutan sambil sesekali menciumi pundak sang lelaki dan sesekali tersenyum manja. Kemudian si lelaki…

Selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja.

Bunyi pengeras suara membuyarkan konsentrasiku menyorot adegan-adegan kala orang-orang berteduh dari derasnya hujan, munkgin juga disertai kenangan.

“Ini saja, Mas? Pulsanya se…ka..lian?”

Dia. Ini dia.

Dia melambaikan tangan, bukan, bukan mengucapkan perpisahan denganku tetapi ia tak butuh pulsa yang ku tawarkan.

“Ehm.. Pakai plastik?”

“Nggak usah,” katanya sambil tersenyum. Di atas bibirnya tumbuh rambut-rambut kecil yang mempertegas kelaki-lakiannya. Senyumnya semakin indah dengan titik-titik hitam itu. Ia memperhatikan sekeliling toko.  “Mba, kalau toilet ?”

“Haa? Mau dimasukin ke toilet mas?” dan aku. Salah. Tingkah.

“Haha.. Nggak, Mba. Maksud saya toiletnya ada?”, ia menarik bibirnya pelan tapi pasti. Oh, Tuhan. Dia. Ganteng.

“Ada mas, nggak bayar kok.” ia menahan tawa. “Oh, eee… Lurus saja ke belakang. Toiletnya bersih kok.”

“Oke, terimakasih ya.”

Sambil berjalan ke arah toilet yang ku tunjukkan, ia mengibaskan rambutnya yang tipis. Mengusap air yang menetes di dahinya kemudian masuk ke dalam ruangan kecil di pojok toko. Aku menghela nafas. Malam ini, ditemani dinginnya malam serta hangat senyumnya, aku merasakan tubuhku bergetar. Kata google kalau golongan darahnya seperti aku, saat jatuh cinta dan berada di dekat orang yang kita suka bisa-bisa jatuh karena salah tingkah.

“Terimakasih ya, Mba,” serunya seraya meninggalkan jejak punggung dalam ingatanku.

Gubraaak!

“Maaf, Bu.”

Dan kotak susu yang ku pegang saat memasukkan barcode, terjatuh.

***

Kamis manis. Begitulah aku menyebut hari ini.
Kalau hari ini kami bertemu lagi, ini adalah kali keduapuluh tujuh aku menjatuhkan barang.
Aku berdandan semanis mungkin, siapa tahu dia datang lagi berkunjung ke store kami. Aku berdoa pula sebelum meninggalkan kamar kosanku yang penuh dengan batu dan kerang hasil buruanku. Batu dan kerang dalam berbagai ukuran ini ku kumpulkan dari sepanjang batas pantai pulau di Sumatera dan Jawa. Maklum, hobiku mencium debur ombak tak kunjung hilang sejak pertama kali almarhum papa membawaku ke Pantai Penggajawa Flores.

Selamat datang di Indomaret, selamat berbelanja.

Suara itu berkali-kali terdengar hari ini. 256 kali sudah namun ia tak muncul juga. Sudah saatnya ganti shift dan ia tak juga menampakkan punggungnya. Punggung yang jika dipeluk aku rasa kenyamanannya setara dengan kenyamanan bantal bulu angsa yang banyak dijual dengan harga minimal satu hingga dua juta rupiah itu.  Aku melengos menata rak barang satu persatu. Pekerjaan terakhir yang harus aku selesaikan sebelum aku pulang. Sambil menjajarkan sabun-sabun sembari bersenandung dalam hati, hidungku mulai tergelitik akan wangi yang maskulin yang sepertinya aku kenal.

“Halo Mba, Shella.”

“Eh, halo Mas…,”

“William. Panggil William saja.”

“Mau bayar mas?”

“Hee?”

“Eh, iya. Saya lagi nggak ngasir. Hehe” ujarku sambil menggaruk-garuk bagian tubuh yang bisa ku garuk saat itu.

“Duluan ya, Mba”

“Pulsanya nggak sekalian, Mas?”

Dia kembali melambaikan tangan.

“Dia tau nama ku dari mana? Mungkinkah… Mungkinkah?” kataku dalam hati.  Pikiranku mulai kacau saat ia mengambil salah satu sabun khusus laki-laki di rak yang sedang aku tata.

“Jadi, ini aromanya saat mandi? Ini sabun yang membuat kulitnya terlihat bersih dan mengilap? Oh, Tuhan. Stop!” pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Aku girang bukan kepalang bisa bertemu dengannya hari ini.

Haah, tapi kapan aku bisa mendapatkan nomor teleponnya. Cih. Menghayal kamu, Shella. Beberapa hari yang lalu aku sempat mendengar gosip kalau ternyata dia anak pemilik store ini. Pantas saja, rumahnya, mobilnya dan barang-barangnya saja mewah. Mimpi apa aku bisa dekat sama dia. Katanya, dia juga penyanyi. Suaranya bagus, kuliah di luar negri, di tempat artis-artis beken lahir, Hollywood. Tinggalnya di LA, Singapore, Amerika. Mungkin juga dia sudah keliling dunia.

Aku? Yah, nggak apa-apa lah, menikmati dia sejauh punggung nya menghilang saja. “Eh, apa ini?”

William Chandra.
+628568998588
Kramat Raya Besar 15/B
Ku ambil ponsel pintarku. Ku ketik nomor telepon yang tertera pada sehelai kartu yang ku temukan di dekat meja kasir.

“Hubungi, nggak, hubungi, nggak…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s