Duduk Berdua Denganmu

Duduk aku memandang batas laut biru. Ku ikat rambutku yang sudah menyentuh bahu.
Diam-diam dari ujung mataku, ku lihat senyummu.
Kemudian matahari menjilati sendu wajahmu, manis memang.
Melirik sejenak.
Aku berusaha menatap lurus ke depan tak mengacuhkan tatapanmu.
Kuat dan tegas, aku tak mau menoleh.
Tak kuat aku, ku pilih menunduk sebagai jalan keluar.
Kau kembali memandang lingkar samudra. Berbataskah ia? Apa yang kau lihat?
Ku lihat sebuah gereja tua tak jauh dari tempat kita terpaku. Memaku. Tanpa memadu.
Kasih, dengar kah?
Sekeras suara lonceng gereja berdentang aku menyuarakan kasihku. Setenang samudra aku menikmati tiada balasmu.
Kamu tahu?
Namun, jika menikmatinya menyejukkan jiwa, apalah arti balas yang berujung duka.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s