Waktunya Berpisah

“Aku sedih..”

“Sedih kenapa?”

Hmmmh… bagaimana mungkin dia masih bertanya apa yang membuatku sedih. “Seminggu saja kamu di sini, aku pasti akan sangat bahagia.”

“Lalu kau akan melupakan perasaaamu padaku setelahnya?”

“Could i?”

Aku tak ingin memperpanjang obrolan kami. Ku peluk tubuhnya lekat-lekat. Wangi tubuhnya yang tak berubah, parfumnya memang berubah, tapi ada satu aroma yang tak berubah dari dirinya. Wangi yang selalu ku rindukan dalam tidurku.

Perlahan ku lihat senyumnya yang menggodaku. Senyuman dari bibir yang selalu ku kecup dan mengecup punggung tanganku sebelum kami berpisah. Senyuman yang selalu membuatnya terlihat cantik. She’s not beautiful, she’s wonderful.

Ku ambil gelas. Ku tuangkan air ke dalamnya sembari merasakan hangat tangannya yang melingkar di perutku seakan mengatakan jangan pergi. Jangan pernah pergi. Ku teguk air dalam gelasku, setengah kosong sudah dan ia memaksaku untuk menghabiskannya. Dia, yang selalu mengingatkanku untuk minum air putih.

Berhasil satu gelas ku minum dan bibirnya kembali mendarat di pipiku. Aku minta lebih, ia tak memberikannya sambil menggoyangkan telunjuknya. Ya, bisa panjang urusannya kalau sudah begitu. Entah aku atau dia yang akan tergoda untuk tinggal lebih lama.

Ku pakai alas kakiku namun masih juga tak ku izinkan kakiku untuk menggunakan kemampuannya melangkah keluar dari kamar ini. Ia membalik badannya, masih dalam posisi bersandar di dadaku, kami berdiri menghadap cermin dan saling tersenyum, ku peluk ia dari belakang dan ku sandarkan daguku di atas bahunya. Kami hanya tersenyum-senyum geli.

“Sudah siang,” katanya.

Aku kembali berkemas dan memakai jaket sebelum meninggalkannya. Ku tarik tubuhnya merapat ke tubuhku, ku cium keningnya, sedikit ku remas tubuhnya tanda aku tak ingin meninggalkannya. Sungguh-sungguh tak ingin. Aku tautkan tanganku ke gagang pintu dan ku buka.

Cahaya dari luar kamar masuk dan langsung menyerang menerpa wajahnya. Ia bercahaya dan semakin mempesona. Aku berbalik dan karena tak tahan kembali ku daratkan sebuah ciuman di dahinya. Ingin ku lakukan ini berulang kali karena aku tau ia sangat menyukainya.

“Aku pergi dulu ya,”

“Iya, sampai jumpa lagi.”

Ku langkahkan kaki dengan berjuta beban di hati. Satu langkah, dua langkah hingga entah langkah ke berapa. Aku kembali menghirup udara sedalam-dalamnya di parkiran.

Terduduk sejenak di atas motor tuaku. Membayangkan wajahnya.

Ku kenakan helm. Ku ingat ciumannya.

Ku putar kunci untuk menyalakan mesinnya dan aku tinggalkan tempat pertemuan kami semalam.

Lagi-lagi aku meninggalkannya.
Lagi-lagi aku akan menunggu waktu yang tak pasti untuk menunggunya.
Lagi-lagi aku harus menerima kenyataan kalau dia adalah adikku.

Advertisements

One thought on “Waktunya Berpisah

  1. Ini jadinya si cowo suka sama adik nya sendiri?? Uhh ohhh…
    😂
    Adek-adekan ketemu gede apa adek kandung??
    Kamu seru banget ya ambil tema ceritanyaa… Suka deh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s