Mungkin Begini Percakapan Mereka di Surga

Angin berdesir semilir membelai rambutku yang sedikit ikal. Hangat mentari menyapu perlahan wajahku, ku pikir pasti akan tampak lebih pucat jadinya. Ku usap rambutku perlahan, ku tarik nafas dalam-dalam menghirup segarnya udara sebelum aku memutuskan untuk membuka kedua kelopak mata dengan bulu lentik yang menghiasinya. Hari ini benar berbeda, rasanya seperti memiliki jiwa yang baru. Aku buka perlahan mataku dan ku kembangkan senyumku. Setelah mengucap syukur pada Allah, aku bangkit dari tempat pembaringanku.

Aku mengambil segelas air bening, bening seperti pemandangan yang ku lihat saat ini. Ku minum air itu sampai habis. Alhamdulillah.

Semuanya putih, semuanya bersih. Hari ini sepertinya ramai sekali. Aku mendengar ribuan bisikan, senyum dan tangis kehilangan. Aku tak begitu ingat berapa usiaku saat ini, yang jelas ku dengar beribu lantunan doa terpanjat untukku. Doa-doa itu mereka panjatkan untuk kebaikanku di tempat yang baru.

Kadang-kadang aku merindukan mereka juga, namun memang aku harus pergi. Setelah selesai aku bertugas, tentu masa dinasku tak bisa ku perpanjang seenaknya, walaupun aku sangat menginginkannya. Aku mencintai gadisku, aku sudah berandai-andai tentang masa depan kami. Aku mencintai ayah dan ibuku, tetapi jika waktuku sudah habis, apa dayaku? Aku mencintai pekerjaanku, bahkan walaupun lelah sampai setengah mati rasanya tetapi menjadi inspirasi dan membangkitkan semangat orang lain melalui hidupku adalah hal yang tak ternilai rasanya bagiku.

Seketika aku teringat pada beberapa orang kepercayaanku, mereka tak sekedar karyawan, mereka juga adalah teman bagiku. Teman di mana aku bisa berkeluh kesah tentang bisnis kecil-kecilanku. Ya, belum seberapa memang tetapi aku bangga bisa mendirikannya. Walau baru satu dua orang yang bisa ku pekerjakan tetapi setidaknya aku bisa memberikan sesuatu untuk sekelilingku.

Aaaah.. Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Kalau dirasa-rasa, kemarin sepertinya baru saja aku lulus kuliah. Mengingat kegilaan bersama teman-teman kuliahku, bersaing mendapatkan poin tertinggi, berdiskusi bersama teman bahkan dosen, menikmati bahkan mengomentari macetnya kota Bandung setiap akan pergi atau pulang kuliah, mengingat sotoy-nya diriku kadang-kadang. Mengingat mantan kekasihku yang… yaah.. mungkin ada sedikit rindu di sini. Apa kabar kalian semua? Hidupku hampa rasanya tanpa kalian di sini. Apalagi keluargaku. Tunggu, hidup?

“Hei, kawan..”, sapa seseorang yang mengenakan baju serupa denganku. Seragam terbaru kami.

“Ya, “, jawabku singkat. Aku tak mengenalnya, namun wajahnya bersinar. Damai dan sangat enak dipandang.

“Ayo, waktunya sudah tiba. Allah menunggu kita di sana. Ada cerita seru apa ya hari ini? Sepertinya hari ini kau lah tokohnya. Cepat!”, serunya meninggalkanku selangkah di belakangnya.

Aku tersenyum. Ku kejar setapak demi setapak, ringan, ringan sekali rasanya. Bahkan aku sepertinya melayang-layang. Aku tidak jatuh, aku tidak sakit lagi, tidak sesakit saat rasanya seluruh tubuhku berhenti bergerak. Tidak seperti saat aku tercekat dan tak bisa menghirup oksigen sebanyak yang aku butuhkan. Tidak lagi berurusan dengan para koruptor kecil dan orang-orang yang berusaha menghilangkanku dari muka bumi. Tidak lagi berurusan dengan angka dan uang-uang. Aku bebas. Aku hanya memuji dan memuji kebesaran Allah di sini. Aku bahagia.

*Missing you, selamat ulangtahun Ilham.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s