Kata Mereka Karena Aku Berbeda

Kepada kamu yang entah sebenarnya siapa. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan padamu. Izinkan aku menarik napas sejenak sebelum aku mengeluarkan setumpuk pemikiran mengapa aku ingin menulis beberapa hal berikut ini.

Aku mulai dari deskripsi akan aku. Aku terlahir dalam sebuah keluarga dengan suku dan latar belakang Batak. Kata mereka, saat menikah batak harus sama batak. Kata siapa? Keluarga ku tidak demikian. Mereka, kedua orangtua ku berpendapat berbeda. Yang penting cinta Tuhan, seagama, sayang keluarga dan bisa memberikan yang terbaik untukku. “Sayang sama kamu,” itu syarat yang paling penting. Kata mereka, toh jodoh tidak disediakan Tuhan hanya berdasarkan kesamaan suku. Belum tentu yang satu suku lebih baik dari suku lainnya. Terserah Tuhan, kata mereka, karena Tuhan yang akan membawamu pada siapa yang akan menjadi bagian hidupmu. Pada siapa yang akan menjadi pelindung, penopang serta penghibur nantinya. Yang akan berkumpul di ruang tengah kala hujan, memainkan gitar dengan secangkir teh hangat dan roti manis yang tersedia di meja. Sederhana namun bahagia, sambil menanti matahari kembali bersinar.

Aku bersyukur atas pemikiran mereka yang tidak rasis dan sangat rasional.

Dari semenjak usiaku masih kecil, aku sangat menyukai laki-laki. Bukan karena fisiknya. Tapi karena sikap ‘pahlawan’ yang mereka miliki. Aku mengagumi mereka sebagaimana aku mengagumi papa. Yang putih, bisa main musik, bisa melakukan apa saja. Kagum dengan segala kelebihan diantara segudang keburukannya. Aku mencintai suku lain yang memiliki kulit putih. Dan yang paling ku suka sebenarnya mereka yang terlahir dari suku seberang yang sangat mirip kebudayaannya dengan kami. Punya marga, punya semangat hidup yang sama, sama-sama menganut patrialisme dan sangat mencintai musik. Entahlah, namun rasanya itu tidak cukup kuat untuk bisa menjalani hidup untuk mencalonkan atau memiliki kemungkinan untuk hidup dengan mereka.

Kata mereka, ini karena aku berbeda. Pernah aku bertanya, kata seorang teman dari suku itu. Katanya, tak selamanya harus seperti itu. Yang penting percaya diri. Aku agak sedikit ragu dengan itu.

Kata mereka aku berbeda. Karena aku bermata bulat besar alami.

Kata mereka aku berbeda. Karena kulitku kuning langsat dan tidak putih.

Kata mereka aku berbeda. Karena aku tidak bisa menguasai bahasa mereka.

Kata mereka aku berbeda. Karena itu jika aku bisa bersama pun akan sulit ke depannya.

Kata mereka aku berbeda. Jadi, lebih baik hilangkan saja harapannya.

Lalu, tertutupkah pintu harapan itu karena kata mereka aku berbeda? Lalu, bagaimana jika aku berdoa pada Tuhan?

Tapi, kalau memang bukan kamu jawaban doaku, tak apa. Toh, Tuhan tau apa yang kau butuhkan. Setidaknya aku tak menjadi jawaban yang salah. Dan kau tak hanya menjadi jawaban yang sedikit benar dan bernilai setengah.

Harapan itu harus ada. Selama tidak berharap pada harapan yang salah. Berharap itu benar saja. Selama harapan itu membawamu pada sesuatu yang lebih baik.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s