Ada Apa Dengan Cinta?

Sedikit cerita di tengah matahari Jakarta yang sedang menyengat, membuat siang ini semakin panas karenanya. Ada apa dengan cinta? Ya, memangnya ada apa dengannya? Hmm.. kami wanita biasa berkumpul untuk membicarakan para pria. Pria mana saja. Yang sedang kami suka, yang sedang terlintas di pikiran kami atau mungkin mereka yang sudah berlalu.

Tiba saat membicarakan sosok laki-laki yang duduk di seberang meja makan kami. Kami membicarakan bagaimana senyumnya, matanya, kumisnya yang baru saja dicukur. Tiba-tiba berlanjut dengan cerita sebuah bibir. Ya, bibir. Kata temanku, dia lebih suka dengan bibir yang tipis. Ah, aku bilang aku lebih suka yang tebal. Supaya adil. Haha. Rahasia ini ‘keadilan’ ini hanya aku yang tahu. Kami berbicara lagi tentang lelaki lain. Dalam sekejap, karena memang tak seru berlama-lama membahas satu orang lelaki.

Kami berlanjut ke sosok lelaki manis bertubuh tinggi berkulit sawo matang yang memiliki bibir tebal yang kami bahas penampakannya di salah satu media sosial. Ya, sedikit menyinggung tentang dia kami membahas tak pernah melihatnya duduk makan bersama-sama kami. Entah kenapa dia tak pernah ada di sini. Mungkin kami terlalu eksis atau kami tak peduli dengan dunia lain karena kami sibuk menertawakan dunia kami.

Sebenarnya sedikit membingungkan karena gayanya. Pertanyaan pertama yang terlontar dari kami, “Dia lurus nggak ya?”. Usut punya usut kami bertanya pada salah seorang teman yang cukup banyak mengenal para bujang di lingkungan kami. Sayang, jawaban yang kami terima tak semenyenangkan melihat senyum di wajahnya. Pada foto yang terpampang jelas sebagaimana semestinya dia sebagai seorang laki-laki.

“Oh, dia laki-laki, dulu. Sekarang.. sudah belok. Udah cari yang lain saja.”

“Apaaaaaa…..”

Bukan hanya satu hati yang patah. Hati yang lain juga pecah. Resah. Kenapa susah sekali mencari yang lurus. Sudah. Cukup sampai di situ, lalu kami kembali membahas laki-laki lainnya.

Ya, dia yang diam-diam disukai oleh teman kami, yang sempat menjadi buah bibir tadi malam.

Kabar ini seperti angin kering yang tak sedikit pun membawa keceriaan. Katanya, kemarin baru saja ia mengajak wanita di gedung lain itu nonton berdua. Akhir-akhir ini memang tersiar kabar bahwa ia sedang dekat dengan wanita itu, tapi belum pasti. Sontak patah hati, lemah terkulai kembali. Kami hanya bisa tertawa dalam perih. Lalu, apa yang harus kami lakukan pada cinta?

Mudah. Kami hanya tertawa. Toh, cinta datang untuk dinikmati.  Tertawa saja, nanti juga akan datang lelaki yang baru lagi.

Lelaki baru yang bisa ditertawakan setiap hari. Lelaki baru yang bisa dijadikan bahan pembicaraan setiap hari. Lelaki yang bisa ditanyakan kabarnya.  Mereka selalu ada, tetapi tak tahu keadaannya apakah mereka lurus atau sudah berbelok.

Yah, populasi wanita yang terlalu banyak mungkin sedikit membingungkan mereka mengambil keputusan hingga mereka mengambil keputusan yang lebih mudah. Just relax.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s