Mancing

Menggoda wanita adalah keahlianku. Menggugah hasratnya? Jangan ragukan aku.

Aku sudah lama hidup dengan kehidupan seperti ini. Aku bercermin. Ku sisir rambut kekinianku, dengan sedikit bagian tipis di samping dan panjang di bagian tengahnya. Mengilap. Seperti rambut para model ternama. Ku usap sedikit kumis tipisku. Parfum mahal? Tak perlu. Kata mereka, tubuhku wangi sempurna tanpa perlu ku gunakan wewangian kelas raja.

Hari ini aku bertugas untuk shift malam. Menjadi barista di salah satu toko kopi ternama berlogo ratu berwarna hijau adalah profesiku.

“Tall? Grande?”, tanyaku pada salah satu konsumen yang baru saja masuk bersama lelakinya. Ku perhatikan gelagat mereka. Oh, bukan. Ternyata, mereka sahabat. Jelas terlihat karena sang lelaki justeru menggodaku dengan senyum tipisnya. Lihatlah bagaimana aku tak hanya menggoda bagi wanita, pria pun menyukai tubuhku. Tubuh yang tak terlalu tinggi memang, namun memiliki daya magis di setiap lekukannya. Sempurna.

Aku memang memiliki kulit yang sedikit gelap, namun, itu dia sensasinya. Kata mereka, “sensual,” dengan bibir yang tipis dan wajah yang bersih. Urat-urat di tanganku kian menyembul yang membuat perempuan gemetar saat melihatnya. Mereka bisa tahu seberapa kuat tanganku dapat memuaskan hasrat mereka. Kata mereka.

“Tall. Whipped cream. Coffe.”

Pesan gadis ini. Manis.

“Jangan lupa, ekstra karamel.”

Ia menambahkan keinginannya. Heran, sudah manis masih saja ia tambahkan ektra untuk sesuatu yang membuatku gila. Ku lakukan trik seperti biasa. Ia tersenyum kegelian. Jika begini, kalian tahu ujungnya akan ke mana.

***

“Hmm.. Lagi..”

Katanya.

Ku tekan lagi sesuai keinginannya.

“Aaahhh…”

Dia kaget. Iya sedikit mendesah kaget dan desahan itu menciptakan senyum simpul di bibirku.

“Tekan mas.. tekan.. aaaahh..”

Berani-beraninya dia menggodaku. Jangan salahkan jika aku mengeluarkan semakin banyak cairan. Mungkin, di mulutnya ini akan semakin terasa manis. Semakin ku tekan, semakin dalam tatapan kami.

“Mas.. sudaaah.. suu..”, nafasnya tercekat ia semakin melotot, “daah.. sudah Mas”

Aku terus menekannya dan sedikit memincingkan mataku agar dia semakin berteriak karena godaanku.

“Mas.. iihh. Dibilangin sudah. Ekstra karamel, sih, ektra karamel. Kalo terlalu ditekan nanti jadi kemanisan, rasa kopinya hilang… Lagian, saya udah manis nggak perlu berlebihan.”, katanya.

“Yang buat juga udah manis ya, Mba. Hahaha”

Mudah sekali bercanda dengan para pelanggan. Siapa suruh memancing aku. Ku serahkan pesanannya, dia tersenyum.

“Parah! Mas.. Mas.. Hahaha”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s