Ratu Semalam

Pagi ini, ku persiapkan semuanya. Ku sikat rambutku agar terlihat rapi. Terurai indah mengilap rambut yang tidak hitam namun selalu memesona setiap pria saat ujung-ujungnya menyentuh belahan dadaku yang kadang mengintip dari balik kemeja yang ku gunakan. Aku berencana untuk memotong sedikit ujung tersebut agar lebih indah lagi mahkota yang menjadi kebanggaanku itu. Tapi, nanti saja, aku tak ingin terlambat.

Ku persiapkan peralatan kecantikanku. Ku oleskan pelembab paling mahal yang pernah ku punya, pelembab yang akan membuat setiap inci kulit wajahku semakin bersinar. Semakin indah tanpa kerutan di sana, terang saja, aku masih 22 tahun. Ah, sisanya, ku persiapkan di belakang panggung saja. Bukan hal yang sulit untuk menggunakannya, toh, aku punya penata rias kelas atas. Yang biasanya memoles wajah artis-artis papan atas. Dia temanku sejak aku masih menjadi pramusaji di sebuah klub. Dia yang membantu merubah putaran roda kehidupanku. Hah.. sekarang aku bisa seperti mereka yang tiap minggu menghabiskan berjuta-juta untuk sekadar membuang komedo di hidung.

Ku buka tabung kecil dan ku putar sedikit bagian bawahnya, kuberi sentuhan merah muda yang lembab untuk bibir ku yang sedikit tebal dan indah ini. Kata mereka, aku melakukan operasi. Cih!

Bibir ini sudah ku miliki sejak aku masih menggunakan popok. Sejak aku masih belum mengenal apa itu mestruasi terlebih masturbasi. Saat aku belum sesukses ini, bahkan saat kehadiranku masih tak dihiraukan.

Ku lihat jam tangan digital berwarna hijau neon di tangan kananku. Sudah menunjukkan pukul 12 siang, tandanya aku harus bergegas. Jangan sampai terlambat untuk mempersiapkan malam kemenanganku. Malam di mana aku akan dinobatkan sebagai pemeran wanita terbaik tahun ini. Itu harapanku. Masuk nominasi setelah beberapa film ku perankan dengan baik. Sebuah penghargaan atas setiap jerih lelah dan waktu tidur yang tak pernah ku dapatkan secara penuh. Bayaran atas hilangnya lelap dan keperawanan.

Waktu di jam tangan keluaran terbaru milikku semakin cepat bergerak menuju pukul 2. Mobil hasil keringatku pun tak kunjung datang. Ke mana Pak Jamal? Sudah sesiang ini belum juga datang. Aku tak ingin terlambat. “Setan!” Bentakku dalam hati. Aku ambil telepon genggam keluaran terbaru dari sebuah merek berlogo apel. Ku geser tanda kuncinya dan memasukkan sandi yang merupakan waktu saat pertama pertemuanku dengan kekasihku, Rano. 0001. Dan aku selalu ingin menjadi nomor satu.

Kunci terbuka. Ku tekan angka 3, angka panggilan cepatku untuk Pak Jamal. “Jamal! Saya tidak mau terlambat! Cepat jemput saya!”. Waktu terasa cepat berjalan. Ku lirik kembali ponselku, batang digitalnya membentuk angka 15. Semakin sore. Sedangkan butuh 2 jam untuk menempuh perjalanan. Sialan. Di mana si Jamal!

Aku diburu waktu. Mendadak setiap detik menjadi sangat menakutkan. Begitu mencekam hingga aku merasakan sesak nafas. Semakin tercekat. Semakin mendidih emosiku. Tak tertahankan. Aku merasakan panas mulai merasuki tubuhku. Panas. Panas sekali hingga aku ingin menceburkan tubuhku ke dalam lautan, kalau bisa laut yang seperti di film Titanic itu. Aku membayangkan, sepertinya di bandingkan Nikita Willy atau artis muda lainnya, aku lebih cocok memerankan Rose dalam seri terbaru Titanic, kalau saja ada. “Jack… Jack.. Wake up!” Aku menirukan nada desahan Kate Winslet dalam salah satu adegannya saat berada di tengah laut.

“Huuuuuuuuuuuuuuuuuuhh..”, Aku menghela napas panjang setelah menarik udara dalam-dalam untuk mengisi kembali paru-paruku. Aku semakin cemas. Keringat mulai mengucur deras disusul air mata yang menetes. Aku tak boleh melewatkan kesempatan ini. Ini adalah kesempatan pertamaku. Ini adalah masa depanku. Aku harus mendapatkan piala itu. Aku harus tampil sebaik mungkin. Aku menunduk. Terduduk. Wajahku mulai muram. Aku benci si Jamal! Kenapa dia tak datang-datang. Di mana mobilku? Jangan-jangan ia curi. Di mana mau ditaruh wajahku kalau aku datang terlambat dan semua orang sudah bersiap untuk pulang. Bagaimana kalau ternyata bukan aku yang menang. Bagaimana jika aku yang menang tapi aku tak datang. Aku tak ingin menyesal.

Tiba-tiba melintas sebuah taxi berwarna biru. Dengan gegabah aku memberhentikannya. Aku putuskan untuk meninggalkan hunianku yang tak seberapa, yah, hanya ada satu kolam renang dan garasi luas untuk menyimpan mobilku. Mobil kedua yang ku miliki. Rumah bertingkat dua dengan balkon mewah di atasnya. Aku bergegas. Dimas sudah menungguku untuk menjadikanku semakin cantik. Untuk menjadikanku ratu malam ini.

***

“Terimakasih kepada Ayah, Ibu, Dimas, Rano. Terimakasih kepada semua orang di balik kesuksesanku….” Terdengar riuh redam tepuk tangan mengiringi langkahku meninggalkan podium. Aku tersenyum. Aku tersipu. “Heeehh.. hehehe..hehe..”. Aku sedikit terkekeh.

“Saatnya minum obat, sudah jam 5 sore Kinan.”

Aku menoleh sesaat, mengangkat wajahku yang tertutup lenganku yang bersedekap sedari tadi.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrgghh!!! Pergi! Pergi nggak lo! Lepas! Lepasin! Jangan rebut pialaku! Aaaaaaaaaaaaaaaarrghhh!!”

Piala yang terbuat dari botol minuman soda itu jatuh, piala kebanggaanku. Hancur berkeping-keping botol plastik itu dalam bayanganku.

“Saya nggak gila! Apa-apaan kalian! Aku nggak perlu minum obat! Dengar! Hei, perawat sialan. Kembalikan pialakuuuuuuuuu!”

“Dok… dokter Rano, Kinan kumat lagi! Segera ke sini dok!”

“Telepon Pak Jamal segera, kita tak bisa membiarkan anaknya seperti ini terus. Efek suntikan hanya akan menahannya beberapa saat. Tahan tangannya. Jauhkan benda tajam yang ada di sekitarnya sebisa mungkin, suster!”

“Baik, dok!”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s