Tak Bisa Tanpamu

ImageGulita dan sepi datang meninggalkan senja berwarna jingga. Kakiku mencoba menapak lebih dalam di atas hamparan pasir putih. Ya, setidaknya itulah hal sederhana yang coba ku lakukan menyambut malam ini. Menikmati pantulan cahaya bulan di hamparan pasir yang hangat. Sehangat dadamu yang tak pernah ingin aku tinggalkan.

Terang bulan. Baik rasanya jika aku menikmatinya sambil menyatu dengan semilir yang menyisir helai rambutku. Lembut. Selembut jarimu yang selalu menangkup wajahku kala aku bilang “Aku tidak apa-apa” padahal sebaliknya. Aku merindukannya.

Ku lihat punggung itu di sana. Punggung yang putih, tegap dan kuat. Ada sedikit bekas luka di bahu kanannya. Luka yang tercipta akibat melindungi tubuh rapuhku dari tumpukan kayu yang jatuh saat pertama kali kita bertemu. Saat gelar ahli dalam bidang komunikasi belum kita miliki. Saat cinta kita masih belum berbunga.

Semakin lama aku berjalan semakin aku mengingat dirimu. Ku putuskan untuk sekali lagi aku mengangkat kepalaku melihat indahnya bulan di atas sana. Ku sadari bentuknya semakin bulat sempurna memancarkan cahaya seperti matamu. Terang dan damai. Semakin jelas cahayanya semakin aku menikmatinya. Seperti saat aku menikmati pagi-pagiku dengan membuka mata dan mendapati kau menatapku, dalam.

“Sedang apa?”

“Menantimu terjaga.”

Percakapan ini hampir terjadi setiap pagi. Sampai pada suatu pagi tak lagi ku lihat indahnya mata itu. Gelap dan pudar warnanya. Basah dan merah. Aku berusaha mengembalikan sinarnya setiap pagi. Namun tak diacuhkan kehadiranku. Aku putuskan tetap menemaninya. Empat puluh hari semenjak itu aku pasrah. Tak bisa lagi ku kembalikan cahaya nya.

Namun, betapa tidak bahagia malam ini tiba-tiba kembali ku lihat punggung kebanggaanku. Kembali ku lihat mata indah yang selalu menatapku di tempat pertama kali kami berkencan. Cahaya nya kembali, seiring semakin temarang cahaya bulan. Kau berbisik mendekat, katanya kau merindukanku. Kau ingin kembali menanti pagi bersamaku. Kau tak bisa sendiri. Kau menyusulku datang ke tempat ini. Tersungging bibirku, menetes air mataku.

Sayup-sayup ku dengar banyak orang yang menghentikanmu datang padaku. Mereka menarikmu menjauh dari air. Namun, kau menangis dan semakin kencang berlari meraih tanganku.

“Aku tak bisa hidup tanpamu.” katamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s