Sampai Maut Memisahkan

“Sama seperti dendam, rindu pun perlu dituntaskan Bang!” kata pria berkumis kepercayaan kekasihku. Karena kecerobohanku, terpaksa ia datang untuk membantuku, berkonsultasi. Ia duduk rapi di kursi kayu bercat biru yang sepertinya tidak baru. Kondisi kursi itu sebenarnya sudah tidak layak, berderit-derit dan tampak rapuh, tapi toh masih bisa dijadikan penumpu berat badan lelaki gempal berambut cepak dengan senyum menawan ini. Masih menawan untuknya yang berusia empat puluhan. Ku lihat ia meneguk larutan pekat berwarna hitam dalam botol minumannya. Itu kopi, kesukaan gadisku.

Sesaat kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku kecil sebelah kanan. Aku sempat menghindar kalau-kalau senjata yang dikeluarkannya. Kalau-kalau ia tahu ini hanya rencana.

Lega. Ternyata dia hanya mengeluarkan api untuk membakar “amunisi”.

“Tapi.. dendam itu sebenarnya tidak baik, aku tau itu. Lain cerita dengan rindu.” Aku menjawab.

Aku masih menunduk mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di depan sebuah toko roti beraroma kopi yang tersohor. Saat itu aku menunggu gadis berambut ikal sebahu. Cantik. Selalu datang menghampiriku dengan lipstik merah andalannya. Ia akan datang untuk mengambil pesanan yang sudah aku siapkan dengan bungkusan cantik. Ya, aku tambahkan pita berwarna sama dengan warna bibirnya pada kertas pembungkus berwarna kuning coklat itu. Malu sebenarnya, tapi namanya juga jatuh cinta.

Setelah berkenalan dengannya dan beberapa kali berbincang dari hati ke hati, ternyata dia tak menolak cintaku.

Bibirku melengkung.

Awalnya dia itu pelangganku. Tapi dia bukan pelanggan biasa. Dia pelanggan istimewa sejak tanggal 14 Februari, bulan lalu. Terlalu manis, bagai candu. Lebih membuatku kecanduan daripada aroma kopi, bahkan kopi yang selalu ku sesap setiap pagi sebelum aku memulai langkah untuk mengejar kopaja 60.

Demi dia, apapun ku lakukan. Bodoh. Sampai-sampai aku tertangkap dan terpaksa mencari pembela, si tua ini, yang ternyata adalah kepercayaan dia.

“Tau apa ko soal itu? Pikir Bang, rindu dan dendam itu,” kembali dia mengisap lintingan putih berisi tembakau yang baru saja dibakarnya semenit yang lalu, “Sama saja buruknya. Sama-sama bikin orang mati. Tewas! Ko mau mati? Cuma karena rindu.. taik!”

Masih dalam imajinasiku, aku membayangkan dirinya. Seminggu ini aku tidak bertemu dengannya, gadis mungil berwajah oval. Semua karena pria yang mengadukan tindakanku. Manajer sialan.

Aku pura-pura berpikir, lagi, darimana ceritanya dendam dan rindu bisa membuat orang mati, “Bagaimana bisa?” Aku melanjutkan pertanyaan basa-basiku untuk membuatnya terus bicara, sementara aku mengamat-amati sekitarku untuk mencari jalan bagaimana pergi dari tempat yang lebih mirip kandang anjing ini. Menemui kekasihku.

Lama dia berkomat-kamit. Kuperhatikan lagi dan lagi bibir tipis pria beruban dengan kacamata bermerek ini, sepertinya dia memang gemar bercerita tentang dirinya. Bodoh! Seharusnya jangan terlalu percaya dia pada orang yang baru dikenalnya beberapa jam saja.

Ia menerawang. Diam sebentar dan kembali mengeluarkan kepulan asap putih dari mulutnya.

“Sekarang, cobak ko bayangkan, yaa! Kalau bukan gara-gara rindu bagemana bisa orang banyak masuk penjara? Rindu istri orang, dituntaskannya suaminya. Rindu dia pujian dari teman-temannya, dituntaskannya motor orang. Haa.. ko tengoklah pejabat-pejabat tu! Rindu dia eksistensinya, dituntaskannya semua orang yang halang-halangi. Hahaha” Kembali ia berbicara dengan logat kesukuannya.

Aku masih mencari-cari celah. Dibalik kemeja berlogo kuda dengan penunggang bertongkat serta jas hitam ternama satu-satunya milikku, dadaku berdegup kencang. Ia, yang di depanku, mendorong kacamatanya yang melorot ke atas hidungnya yang mancung dan besar sambil sedikit tergelak. Gelak tawanya yang terakhir.

Berhasil aku menarik pelatuk. Tepat saat itu juga cairan berwarna merah segar mengalir deras.

Tuntas. Siapa suruh dia sombong.

Aku rindu. Tunggu aku, sayang. Pintu ku buka. Aku lari sekencang-kencangnya. Aku ingin menuntaskan kerinduanku padanya, cintaku. Kini tak ada lagi yang menjadi penghalang antara kita.

Tidak ada lagi ikatan pernikahan antara kau dan dia. Maut telah memisahkan kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s