Nikmatnya Ngejilatin Gelato Dan Ngopi Di Kapal Starwars. Cuma Bisa Di ICONIC Yogyakarta

Jujur aja nggak pernah-pernah seniat ini nge-review tempat nongkrong. Tapi, kali ini nggak tahan banget buat nulis lokasi yang satu ini.

Jadi, waktu lagi liburan di Yogyakarta bareng keluarga aku nyewa kamera. Nah, perjalanan nyewa kamera ini membawa aku ke sebuah kafe bernama ICONIC Gelato & Bistro.

Tampilan depan plus smoking area ICONIC.

Tempat parkir.

Awalnya setelah mengambil kamera yang disewa, aku nggak pengen langsung balik ke Adhisthana Hotel (review Hotel menyusul). Akhirnya, aku ngajakin adikku untuk jalan kaki sekitar JCM alias Jogja City Mall. Siapa tahu ada yang bisa ditongkrongin. Random aja gitu.

Baru aja jalan 200 meter sudah menemukan satu tempat yang kece banget. Tampilan luarnya kece, parkirannya luas, dan bangunannya terlihat menarik. Heran juga kenapa namanya ICONIC.

Akhirnya, karena pengen minum kopi banget dan cari yang manis, kita masuklah ke kafe ini. Lampunya menggoda banget asli! Yes, aku pecinta lampu.

Area kanan yang nggak ada action figuresnya

Then, begitu masuk kita disambut sama mbaknya. Dia langsung bilang mau duduk di area smoking atau non, galeri atau di area depan. Namanya juga turis, aku langsung banyak nanya deh sebelum duduk. Setelah banyak tanya, kita diantar masuk melalui sebuah pintu yang mirip banget sama kapal-kapalnya Starwars. Yang ini SS-01.

Di depan pintu ini bahkan kita disambut sama Darth Vader, lho. Hihihi…

My lightsaber.

Pintu abu-abu di sisi kiri ku pun secara otomatis terbuka and welcome to the superheroes gallery. Karena punya waktu terbatas aku cuma liat-liat sekelebat aja. Di ujung ruangan ada Spiderman besar berdiri barengan sama Superman, di sisi kanan pintu ada kumpulan action figures Starwars. Ada juga koleksi action figures nya Iron Man yang berjajar keren banget di dalam sebuah kaca panjang yang menjadi pembatas antar sisi tempat duduk konsumen.

Area action figures

Gimana? Keren banget, kan? Nah, karena sifatnya galeri, kita bisa banget dan boleh banget untuk jalan-jalan mengitari area. Nggak masalah kamu mau foto atau melihat-lihat lebih laNa Yang penting hati-hati sama semua koleksinya, ya. Kalau sudah puas liat-liat koleksinya, langsung aja pinjem lightsaber ke mbak-mbak kasir di depan, palu Thor, atau tangan Thanos dengan batu-batunya juga ada. Silakan langsung berpose sekeren mungkin di depan pintu dan jangan malu-malu, semua juga pada foto di situ, lho. Hihihi.

Di sini juga menjual kaos merchandise MARVEL dan DC dengan harga terjangkau yaitu Rp120.000,- untuk semua ukuran. Murah kan? ūüôā

Untuk makanan, aku nggak nyobain karena memang mencari kopi dan cakenya saja. Tapi di sini harganya relatif murah. Rp50.000-Rp100.000/orang. Tersedia makanan Asia dan juga Western. Jadi, sesuaikan saja sama seleramu.

Yang asyiknya lagi, ada gelato dengan berbagai rasa. Nggak kalah sama yang di Bali, deh! Beberapa rasa yang cepat habis dan jadi favorit adalah Cookies&Cream, Zen Mango, Hojicha, Matcha Cheese Cake. Ada rasa-rasa yang unik juga seperti Butterbeer & Flamingo! Nggak perlu jauh-jauh deh ke Jepang demi Butterbeer, hahaha. Kalau ada kesempatan ke sini lagi, aku bakalan nyobain sih!

The Gelato

Untuk kopinya sendiri di sini tersedia Espresso based seperti Americano, Picolo, ICONIC Coffee, dll. Manual Brew nya ada V60, Vietnam Drip, French Press, Kopi Tarik, dan Kopi Tubruk. 

Karena lambung nggak kuat, aku cuma pesan yang standar yaitu capuccino. Ini juga udah lumayan di perut. Adikku pesanannya justru lebih seru, Caramelo Trooper Dopper. Ini rasa kopinya lebih masuk akal buat aku pecinta manis.

Oia, untuk cake aku suka banget sama Baileys Cake yang ada di sini. Kerasa banget alkoholnya di kepala tapi nggak begitu manis.

So, dari sekian banyak yang aku ceritakan sudah jelas kan kenapa kalian  d harus mampir ke kafe yang baru aja melakukan soft opening di bulan Februari 2018 kemarin ini? Rekomen banget laah buat kalian yang ingin liburan ke kota Yogyakarta.

Kapan lagi kan minum kopi di dalam pesawat SS-01 bareng sama heroes kesukaan mu? ūüėä

Baileys Cake. Rp35.000/piece.

Coffees

Meja kasir sekaligus meja penyambutan di depan pintu.

Ini adek aku. Si kedua.

Bisa liat dapurnya langsung.

ICONIC GELATO&BISTRO
Jalan Magelang KM 5,9, Sleman, Yogyakarta. (Selatan JCM)

Monday-Thursday: 08.00-22.00 WIB

Friday-Sunday: 08.00-23.00 WIB

IG: @iconic.jogja

Advertisements

Kantor Imigrasi Ruko Boulevard-Paspor Yang Tertunda

So, ini adalah tulisan yang cukup pedih mengingat tadi pagi sudah bangun subuh demi antri menulis nama di sebuah papan.

Cerita ini berawal dari ngobrol-ngborol bareng sobi aku di sebuah tempat makan yang berujung pada penemuan luar biasa yaitu tiket promo PP Jakarta-Singapore-Jakarta. Memang paling nggak bener kalau kamu lagi nongki dan menemukan hal-hal yang menggiurkan seperti ini. Hal menggiurkan lainnya adalah diskon kosmetik untuk pembelian online atau voucher makanan yang membuat kamu menambah berat badan.

Oke. Alhasil, setelah memutuskan untuk berlibur bersama, kami pun memulai pertanyaan dengan “Semua sudah punya passport kan?” Ya, passport. Sebuah buku kecil yang mengizinkan kamu untuk terbang ke negara manapun yang kamu mau. Dan aku tidak memilikinya. Dan mereka membanting meja. Kidding…

Singkat cerita, aku pun memulai usaha pencarian kantor imigrasi yang bisa membantuku mewujudkan impian ini. Dan Jakarta nggak menjadi jawaban. Semua kuota habis karena memang sedang high season. Duh!

Akhirnya, setelah googling Aku menemukan bahwa kantor imigrasi Tangerang masih memiliki kuota. Dengan semangat aku mengikuti setiap instruksi.

Source: Pinterest

1. Menyimpan nomor pendaftaran via WhatsApp untuk mendapatkan nomor antrian di hari Senin tanggal 07 Mei 2018. Nomor yang harus disimpan adalah 08118119000. Ini merupakan layanan mesin yang akan membantu kamu mendapatkan nomor antrian.

2. Ketik #NAMA LENGKAP#TANGGALLAHIR#TANGGALPENDAFTARAN

CONTOH: #MIRABEL#04051992#07052018

3. Langkah selanjutnya tergolong mudah karena kamu tinggal mengikuti instruksi untuk mengkopi kode tanda persetujuan kalau data yang kamu masukkan sudah benar.

Senang dong, sudah dapat nomor antrian di kantor imigrasi Tangerang. Kemudian aku melakukan re-check ke kakak di BSD. You know what, she said that I applied to wrong office. Sebelumnya, memang kakak bilang kalau ada kantor imigrasi yang sangat dekat dari rumah. Dan kantor tempat aku melakukan pendaftaran tadi adalah kantor yang jauh. Huft!

Alhasil, #BATAL pun ku ketik sebagai tanda pembatalan pendaftaran. Aku memang sempat berpikir apakah sebaiknya aku biarkan saja nomor pendaftaran ku, supaya kalau ada orang yang memerlukannya, aku nggak menghambat jalan orang itu. Dan juga memang pembatalan harus dilakukan maksimal satu hari sebelum pembuatan paspor. Yasudah.

Setelah mengumpulkan semua berkas yang dibutuhkan seperti FOTO KOPI KK, IJAZAH/AKTA LAHIR/SURAT BAPTIS/SURAT KAWIN dan FOTOKOPI E-KTP, aku memutuskan untuk pergi ke BSD, Tangerang. Dengan modal “kesempatan yang lebih besar ketimbang di Jakarta”, then, I go.
Oma sempat berpesan untuk datang mendaftar jam 3 pagi. Whaaaat!!! And I say, thanks Oma. Pagi hari tepat pukul lima aku bangun dan bersiap. Mandi subuh dan kurang tidur sangat nggak disarankan. Bersiap dan kemudian salim sama Oma.

Perjalanan dari rumah kakak ke kantor imigrasi hanya memakan waktu 15-20 menit. Sesampainya di sana aku mulai curiga karena kantor terlihat sangat sepi. Di mana orang-orang yang mau mengantre untuk pembuatan paspor? Ah, aku pikir ini kesempatan baik karena kemungkinan akan lebih cepat dipanggil. But, you know what… The security told me kalau kamu mau membuat paspor, kamu harus mendaftar dulu. Nggak ada lagi daftar manual.

Would you please gimme some water? Aargh.

Bapak sekuriti nya bilang kalau sekarang semua pendaftaran sudah bersifat online. Jadi, bagaimanapun kamu berusaha memelas, kamu nggak akan bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Huft! Untuk kantor pembantu yang berlokasi di Ruko Golden Boulevard BSD Blok E no.5-6, Lengkong Karya, Serpong Utara, Tangsel, hanya akan melayani 120 pendaftar setiap harinya. Dan, kamu hanya bisa mendaftar setiap Jumat mulai pukul 17.00 WIB untuk menentukan jadwal seminggu kedepan. Gara-gara hal ini, aku nggak bisa mendaftar langsung untuk besok atau dua hari kedepan. Dan gara-gara ini pula sepasang suami istri berantem di sebelah aku.

Awalnya, mereka juga ingin membuat paspor untuk sang istri dan anak mereka. Kemudian, setelah mendapat penjelasan yang sama dari sekuriti seperti yang aku dapat, mereka mulai berargumentasi. Istri yang memang cenderung dominan masih saja nggak ngerti saat pak sekuriti bilang bahwa pendaftaran penentuan tanggal bisa dilakukan lagi hari Jumat depan. Dia tetap ngotot sambil menunjukkan hape kalau dia tidak bisa melakukan reservasi. Sang suami yang mulai gemas pun menyambut dengan kalimat yang cukup pedas dan mengatakan, “Kamu kok nggak ngerti-ngerti. Baru bisa daftar lagi hari Jumat nanti. Makanya nggak bisa daftar sekarang…”

Mendengar suaminya yang hmmm… benar, maka dia pun menjawab, “Ya, nggak usah gitu juga dong ngomongnya…” Dengan nada do dengan titik di atas. Demi tidak melanjutkan peperangan, sang suami pun kembali ke mobil. Dengan pose berpura-pura sibuk dengan gadget aku masih mendengar pembicaraan mereka. Tiba-tiba pak sekuriti yang berdiri di sebelah kiriku (pasangan di kanan) berkata, “Susah kalau nggak ngerti, ya Mba?” dan aku menyambut dengan “Hehehe…”

Bapak sekuriti sempat bertanya padaku apakah aku sudah mendapaftar, dan aku bilang sudah tapi aku batalkan karena kata kakakku lokasinya berbeda. Kemudian, dia menunjukkan satu nomor “Yang ini? Ini kantornya di Sukasari. Tangerang City, tahu?” Dan dengan sukarela aku menjawab, “Nggak, Pak.” Bapak pun kembali menyahuti, “Adek nggak pernah jalan-jalan, ya?” DANG!

“Hehehe… Taunya (menyebutkan nama-nama mall).” Mungkin bapak ini berpikir aku kurang jauh mainnya. Hmmm… Tak apalah. 

Bapak juga sempat mengatakan kenapa dibatalkan pendaftaran sebelumnya, karena kalau tidak aku sudah bisa berangkat ke sana dan menyelesaikan misi ku. Ya, mau bagaimana lagi kalau sudah dibatalkan. Apalagi, ternyata nomor WhatsApp pendaftaran unit BSD berbeda. Kalau kamu mau mendaftar di unit Ruko Boulevard, kamu bisa mengirim format yang sama seperti di atas ke nomor 081221700044.

Akhirnya, aku kembali mendaftar untuk nomor urut di kantor imigrasi kelas 1 Tangerang, yang bertempat di Jln Taman Makam Pahlawan Taruna no.10, Sukasari, Tangerang. Bersyukur nya langsung dapat untuk tanggal 09 Mei 2018. Karena, sepertinya terlalu lama kalau aku menunggu Jumat untuk kembali mendaftar Minggu depan. Kita nggak tahu apa yang terjadi dalam satu minggu ini bukan?

And at the end, moral of the story is jangan buru-buru membatalkan penjadwalan. Karena ini adalah kesempatan yang mungkin kamu nggak bisa dapatkan lagi. Sekali-sekali memang harus tega untuk diri sendiri. Jangan mikirin orang melulu.

Kedua, jangan menyerah. Langsung daftarkan diri kamu untuk pendaftaran selanjutnya. Biar agak jauh dikit, yang penting cepat selesai. Ketimbang kamu harus menunda lagi dan belum tau kapan bisa diambil.

Ketiga, ada baiknya mengumpulkan informasi terbaru dan terakurat sebelum akhirnya memutuskan untuk mendaftar.

Oia, harga untuk membuat paspor sekarang adalah Rp355.000,- dan bisa dibayar di bank manapun dan sudah bisa diambil 3 hari kemudianSo, please doakan aku dalam penyelesaian misi besok, ya! ūüôā
Cheers,

Ninta
Ps: Thanks to Reza, anak Medan who picked me up at train station and please me to laugh all night long.

Radit Batal Nikah

Cerita ini merupakan cerita fiksi yang aku tuliskan untuk seorang Raditya Dika. Sudah lama aku memendam rasa pada youtuber, comedian, dan juga penulis yang satu itu…
“Aakkk!!” cepat-cepat aku menutup layar laptopku dari tatapan sengit Tania.

“Apaa tuh? Cerita fiksi tentang Radit? Kamu masih ngefans sama doi? Udah mau nikah kali lakik orang, Din.” Tania selalu begitu, “Lagian, basi banget pembukanya kayak gitu. Dikira Radit mau baca surat dari kamu?”

“Hufttt… Tarik napas panjang juga, nih, aku Ta.”

Aku kembali menatap layar laptopku yang kini kosong dan berisi sebuah garis berkedip. Ya, aku berpikir kembali apakah kalimat pembuka tadi memang sebasi itu? Auk ah! Kenapa juga tombol delete ini mudah sekali ditekan dan membuat semuanya menjadi layar kosong kembali.

Karena belum juga mendapat inspirasi, aku memutuskan untuk membuka Instagram Stories. Hitung-hitung cari ide dari sampah orang-orang yang aku ikuti akun pribadinya ini. Baru saja aku melihat beberapa akun, guess what… Tiba-tiba aku menemukan boomerang bergambar undangan pernikahan Raditya Dika di salah satu akun yang aku ikuti. Oh My God! Ini berita penting yang harus aku sembunyikan dari Tania. Akun itu adalah akun milik Kaka, Kanda Gregorius, itu nama lengkapnya.

Duh, bisa dibilang aku belum lama mengenal Kaka. Bertemu pun jarang sekali. Setiap bertemu dia, bisa-bisa aku kehabisan kata. Iya, benar aku gugup. Aku gugup karena aku nggak tahu apa yang bisa aku bicarakan dengannya. Ya, aku pernah sih berbincang beberapa kali. Tetapi, nyatanya aku jarang sekali bisa berpapasan dengan dia. Lalu, bagaimana bisa aku meminta jadi partnernya untuk datang ke pernikahan Radit? Hmmm… Sumpah, ini adalah ide gila!

“Din, ngapain lama-lama ngeliatin akunnya Kaka? Kamu…”

Sebelum habis kalimat Tania, aku pun segera memotongnya sambil menutup layar laptopku dengan sedikit membanting.

“Aku ingin datang ke pernikahan Radit, Ta. Bareng Kaka bisa kali, ya? Undangan biasanya buat dua orang, kan? Kaka and partner gitu…”

“Gila apa! Mau bilang apa sama Kaka? Memangnya kamu sudah sedekat itu sama Kaka sampai berani minta jadi temannya datang ke pernikahan Radit? Di sana kamu nggak bakalan ngumpulin berita, kan? Secara pasti bakalan banyak banget artis yang datang.”

“Nggak, dong. Aku beneran nih pengen menyaksikan pernikahan Radit secara langsung. Kamu kan tahu gimana perasaan aku ke Radit. Kamu ingat waktu dia putus sama yang itu, aku ikutan nangis Ta. Novel-novel dia semuanya aku punya. Semua aku ambil intisarinya tiap bab. Dan aku menemukan cinta di sana…”

“Din, baru kali ini lho aku melihat seorang fans yang benar-benar jatuh cinta sama idolanya. Trus, misi kamu apa datang ke sana?”

“Hmmm… Kira-kira…”

Aku terdiam dan sedikit memajukan tubuhku ke arah Tania sambil berbisik setelah mendengar mama memanggil kami untuk mencicipi kue buatannya yang baru saja matang. Mama adalah penguping tingkat dewa.

“Kira-kira apa?” mata Tania yang sudah perfect dengan bubuhan eye liner kini memandangku semakin tajam.

“Ta… Kalau aku minta ikut ke Kaka…”

“Apa??? Si Kaka bakalan suka sama kamu? Trus pulangnya kalian end up di kafe dan ngobrol sampai pagi? Jangan pikir ini Drama Korea dong, Din.”

“Bukan dong, Ta… iiihhh… Dengerin dulu,” Ucapku sambal menghela napas berkali-kali sambil melihat story yang berisi undangan berwarna emas dan biru itu.

“Jadi apa kalau bukan kamu ngarep jadian sama Kaka?”

“Ih… Tania!” Kali ini ku lipat kakiku ke atas sambal menumpu wajahku yang sudah menekuk sedari tadi.

“Kira-kira Radit bakalan batal nikah nggak, ya?”

Kemudian terdengar suara semburan air dari mulut mama yang diam-diam juga asyik mendengarkan percakapan aku dan Tania sedari tadi. Seketika, curah hujan meningkat dan membasahi wajahku yang belum terkena air sejak pagi.

“Kamu pikir kamu Bela Saphira?” tegas mama yang masih sibuk mengelap wajahnya yang juga setengah basah karena ucapan bodohku. Sedangkan Tania sibuk tertawa terbahak-bahak di sofa. Ya, Tania selalu begitu.

“Ihhh… Tatjana Saphira, Mamaaaa…”

“Ya itulah, yang Mama tahu si Bella Saphira. Mama akan anggap kamu lebih sehat kalau kamu berpikir bahwa bisa nggak kamu jadian sama Kaka, bukannya Radit yang bakal batal nikah karena ada kamu di sana. Kecuali kamu artis, ini kamu cuma reporter yang pernah meliput sehari-harinya Radit, doang. Belum tentu lagi, Radit ingat kamu.”

Yah… Mimpiku memang ketinggian, sih. Tapi, apa salahnya dicoba. Hmmmh… Aku pun memandang tajam ke Tania sambil membentuk hook dengan jariku yang ku arahkan ke matanya.

Oke, sudah ku bulatkan tekadku untuk mengirimkan pesan pada Kaka. Bagaimana pun hasilnya, setidaknya aku mencoba. Ku ketik satu persatu huruf hingga membentuk kalimat random yang sedari tadi melayang-layang di kepalaku.

Hai, Ka… Ka, sudah tahu mau pergi bareng siapa ke nikahan Radit? Aku boleh ikut nggak nemenin kamu? Jadi tukang foto kamu juga nggak apa-apa, deh!

DM sent!! Aaaaaaaaaaaaaak!! Bodoh. Kenapa aku kirim pesannya secepat itu. Aakkk… Maaaa… Taniaaa. Help!!!”

Tania hanya diam, menoleh sambil berkedip beberapa kali, kemudian ia mengarahkan matanya kembali ke layar televisi yang sedang menayangkan Drama Korea kesukaannya.

Nggak berani melihat balasan Kaka, aku pun bergegas lari mengambil handuk dan bersiap mandi. Aku pikir, kalau aku mandi dulu, mungkin aku bisa lebih siap membaca jawaban Kaka yang sudah jelas banget jawabannya nggak. Duh, tadi mikir apa sih? Kaka pastinya pergi bareng sama teman-teman kantornya yang hits itu. Ku pukul, pukulkan tanganku ke kepala udang ku yang entah sudah di mana otaknya berada.

“Hmmhh… oke, setidaknya kepalaku bisa lebih dingin dan jantungku nggak menggebu-gebu seperti sekarang setelah mandi. Tapi… malunya mau aku buang kemana? Huaaaaaa…”

Ting… Ting…

OMG, itu suara pesan DM. Huffftt!!! Hufft!!! Tenang Dinda, tenang. Kamu harus mandi dulu, keramas, kemudian pakai parfum, baru kemudian setelah itu membaca pesan dari Kaka.” kataku memerintah diriku sendiri.

Selesai mengguyur kepala udangku dengan air hangat selama hampir setengah jam, aku pun bergegas menggunakan baju tidur favoritku. Ya, ya, ya… Aku tahu ini masih pukul tiga sore, semua orang bersiap menghabiskan waktunya di luar rumah, dan yang terpenting ini adalah hari Sabtu. Akhir pekan, long weekend, dan Jakarta mendadak sepi.

Tapi, aku lebih nyaman berada di dalam rumahku yang sangat asri bersama kue-kue buatan mama. Serta omelan Tania yang sedari malam menemaniku karena dia nggak mau pulang ke rumahnya dengan alasan kesepian. Bukannya dia jomblo sepertiku, dia nggak jalan bareng pacarnya karena alasan keuangan alias belum gajian.

“Bunyi-bunyi tuh dari tadi…” ketus Tania. Tania selalu begitu.

“Iya, si Kaka paling.”

What… kamu jadi melaksanakan ide gilamu itu?”

Aku mengangkat bahu menjawab tanda aku sudah tak peduli dengan kebodohan yang ku lakukan. Perlahan ku gerak-gerakkan jariku untuk mengaktifkan kembali layar yang ku biarkan sejak tadi.

Benar saja, ini pesan dari Kaka…

******

“Aaaaaaah!!! Gue belum sempat nyimpen cerita yang barusan lagi,”

Mati lampu! Gue benci mati lampu!

It’s Hard, God. But, Well Done, My Dear

98599f06de8fd96aabf86c939ed6e835

Source: Pinterest

 

“Well done, My dear.”

Ini adalah sebuah kalimat yang seorang Ninta dengar ketika dia berdiri, mengantre untuk masuk ke dalam toilet. Seketika itu juga air mata meluncur membasahi pipi ini. Mendengar kalimat tersebut rasanya mengalahkan perasaan ditembak gebetan atau mendapatkan Nobel. Well, ditembak gebetan pastinya pernah. Sedangkan Nobel, mungkin masih di angan-angan. But, at least i received a compliment from The Almighty One. 

“What? Are you kidding me?”

Yeah, maybe this question is up on your head. It’s oke. I know, maybe right now you wont believe it. But, if you have the same experience… i’m pretty sure you believe in me.

So, what is the cause that bring The Almighty One talk that sweet to me? *pardon my bronglish a.k.a broken english.

Suatu hari bertahun yang lalu, God just sent me a mission. Memang benar, bertahun yang lalu aku sendiri pergi ke gereja dan mendengar kotbah dari Ps. Sidney Mohede.¬†Actually, the sermon is¬†not about purpose, but because of that sermon i’ve got my vision.¬†Percaya nggak percaya, sih. Nah, satu kalimat yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah tentang anak-anak broken home. Maybe, we’re broken. But, we’re not a broken creation.

Maybe, we’re broken.
But, we’re not a broken creation.

Then, because of i love to write… i thought i will write a book.¬†Mulailah dengan perencanaan pengumpulan materi, bukunya akan seperti apa, tentang apa, siapa yang harus aku wawancarai, dan lain-lain. Yes, i think and plan that far.

Kemudian, berjalannya waktu kok kayaknya ribet dan lama-lama mulai kendor semangatnya. Tapi, aku tetap menulis tentang hal-hal yang bisa aku bagikan melalui blog yang satu ini. Dan semua berjalan dengan baik sampai suatu hari aku melihat sebuah testimoni tentang seorang remaja lesbian yang bertobat. Penyebab awalnya nggak lain dan nggak bukan adalah keretakan keluarga.

Yup, peran keluarga adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Terutama, peran ayah. So, nggak heran kalau kamu harus teramat sangat hati-hati dalam memilih laki-laki as your spouse nantinya. Karena iblis sangat senang “bekerja” menghancurkan generasi melalui laki-laki. Kamu bisa tonton video Ps. TD Jakes tentang laki-laki¬†¬†di sini.

Nah, aku benar-benar terinspirasi dengan testimoninya. Dalam hati bilang,¬†one day¬†aku bisa nggak ya melakukan hal yang sama seperti dia?¬†It’s an honour¬†for me¬†untuk menyaksikan kebaikan Tuhan yang sudah menyelamatkan aku.¬†Then,¬†kamu pikir iblis seneng dengar permintaan bodohku? Nggak!

Setelah lama berselang, suatu hari di bulan Juli aku beribadah di Kota Kasablanka. Telat. Jadilah aku harus beribadah di depan pintu. Waktu lagi asyik penyembahan (sambil malu-malu karena telat, booo!) Holy Spirit speaks to me. Terjadilah percakapan yang luar biasa dalam hati.

Notes: Kamu boleh bayangkan suara Roh Kudus sesuai kemampuan dan kepercayaan kamu, ya.

“Ninta, kamu harus membagikan pengalamanmu.”

“Hee? Yang mana, nih?” , sambil merem melek menyembah.

“Yang memalukan itu.¬†That one.

What? Sekarang banget? Are you kidding me? Aku baru saja pindah komsel. Sama komsel lama saja aku nggak cerita, gimana komsel baru. They don’t know me at all. Gimana kalau mereka judge aku? Aku anak baru.”

Just do it.¬†Kamu kan mau bicara tentang ini di depan banyak orang. Mulai lah dari DATE kamu. Lalu, This Is My Story. Dan semua akan terjadi sesuai sama rencanaKu.”

Hmm… gini deh, iya aku tahu aku ingin ‘menyelamatkan generasi’ dan punya purpose¬†ke sana. Tapi, aku belum siap ini. Kalau memang aku harus membagikan tentang hal ini, kasih aku jadwal 5¬†minutes sharing. Aku nggak mau ujug-ujug¬†share tentang ini. Malu kali…”

Suara itu menghilang.

Hari berganti dan jadwal tugas di DATE alias komselku pun tiba. You know that Holy Spirit can use everyyyyyybody to fulfill the plan. Jadwal 5 minutes sharing tertulis nama NINTA. Mau mengelak gimana lagi?

Stage one, done.

Setelah itu, Roh Kudus nggak berhenti bicara sama aku.

“Kapan mau susun naskah untuk This Is My Story?”, “Kapan dirampungkan?”, “Ayo, dong mulai nulis.”, “Cepetan kirim.”, “Udah tinggal¬†sent, tuh.”

Percayalah, ini benar nyata. Kalau kamu belum pernah dikejar deadline nya Roh Kudus, mungkin kamu perlu minta sama Dia.

Mudah? Nggak. Segala sesuatunya aku pikirkan. Bagaimana nantinya kalau ternyata karena hal ini nggak ada yang mau sama aku? Apa kata orang-orang yang kenal sama aku? Apa kata keluargaku? Dan banyak pertimbangan lainnya. But, at the end, Tuhan cuma ingatkan aku.

Ketika video ini muncul, ini akan menjadi berkat yang besar untuk aku dan banyak orang. Jadi, aku harus menyelesaikan misi ini. Huft. Dan aku meng-iya-kan apa kataNya. Setidaknya, dengan video ini aku bisa menyaring mereka-mereka yang akhirnya memiliki hati untuk aku. Aku nggak perlu repot menjelaskan siapa aku dan percaya kalau Tuhan bekerja melalui aku. Dia backup aku. Aku alatNya.

Aku alatNya.

Stage two, cerita sudah dikirim. No response. Sampai suatu siang, Ps. Alvi mengirim e-mail yang berisi akan menjadikan ceritaku sebagai video testimoni terpilih. Selang waktu berjalan, aku menunggu lama untuk merealisasikannya. Hampir setahun berselang, akhirnya pesan itu datang juga. Namun, dasarnya iblis nggak suka, ada saja halangan yang membuat syuting video ini nggak lancar. But, ini nggak sepenuhnya salah iblis. Ini juga ada salahnya aku.

Tapi, Tuhan baik. Intinya, Tuhan nggak mau aku dipermalukan. Dia benar-benar menyelesaikan masalahku sepenuhnya, baru Ia mengizinkan video ini selesai dan ditayangkan. Jarak antara syuting terakhir dan pemutaran video hanya satu minggu. Jarak yang cukup singkat. Final stage, done.

 

bfdd6b0a4d7f4ed1d8d7129e3f02fe73

Source: Pinterest

20 Januari 2018.

Aku berdoa sekitar setengah jam waktu itu. Jam 1 sampai jam 1.30 am.¬†Can’t sleep. Aku berdoa¬†untuk video yang besoknya akan diputar. Inti doaku adalah:

  1. Editor sudah mengedit video dengan baik
  2. Video ini bisa benar-benar jadi berkat
  3. Pesan dari video ini benar-benar sampai ke yang membutuhkan
  4. Ada satu orang saja yang messagge aku sebagai respon konfirmasi dari videoku
  5. Aku tidak dipermalukan, jujur, aku tetap nggak siap karena aku cukup dikenal di gereja. Dan ini bukan hal lumrah untuk disaksikan.

21 Januari 2018.

Jujur (lagi), aku sebenarnya ragu apakah benar video ini diputar minggu ini. Hari ini. Hampir setiap jam aku terbangun dan menantikan pesan di layar gadget. Dan tepat pukul 08.11 am, salah satu teman panitia pada waktu DATE gabungan kemarin mengirimkan pesan.

“Hi, Nin. Thanks for sharing what God has done for you. It’s kind of…. confirmation to me. Happy Sunday and God bless you.”

HOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! *sorry alay.

What is this, God?

Kemudian, pesan demi pesan bermunculan seharian.

“We thankful for your courages, your bravery heart. So, we know we’re not alone. And we are blessed.”

Tanpa melebih-lebihkan, inilah kesimpulan yang aku dapatkan atas jawaban doaku selama ini. Dan 21 Januari 2018 akan menjadi sebuah tanggal bersejarah untuk perjalanan hidup dan panggilan hidup seorang Erninta Afryani Sinulingga, or you can call me Ninta Afryani.

Yes, it’s not easy to share your scars, but God can use it if you want.

Seorang pemimpin berani terbuka akan masa lalunya (weakness) supaya menjadi inspirasi untuk orang lain.

Aku mendapatkan kalimat ini dari salah seorang¬†leader¬†di gerejaku.¬†Frankly, i’m speechless.¬†Begitu banyak pesan yang datang dan mengatakan kalau mereka terberkati. Dan semakin banyak lagi cerita yang aku dapatkan. Bagaimana mereka pun mengalami hal yang sama, tetapi nggak tahu mau cerita pada siapa.¬†Dan aku semakin yakin untuk mengatakan,¬†“Yes, God. You can use me.”

 

c87e61182d460eb9ca79e09b5f217d0b

Source: Pinterest

 

Dari penyerahan tugas pertama hingga video ditayangkan memakan waktu hampir 2 tahun. Tuhan bekerja. Melalui pergumulan selama 2 tahun tersebut. Melalui jatuh bangun di 2 tahun tersebut.¬†And i’m SURE that God is working in holistic way. Pekerjaannya untuk sebuah¬† misi nggak pernah setengah-setengah. Dia tahu kapan waktu yang tepat.

By the way, few days before the video coming up…¬†Aku ikut DMS (Discipleship Ministry School). Di sana, aku berdamai sama Tuhan. Ya, aku sempat ngambek sama Tuhan dan ini termasuk dalam proses jatuh bangunnya aku. Dan bersyukur melalui semua materi yang diajarkan, aku semakin paham tentang Dia dan cintaNya. PekerjaanNya di bumi ini. Di hari terakhir, kami belajar tentang nubuatan. Salah satu nubuatan yang aku dapatkan dari leaderku¬†adalah:

“Saya merasa bahwa Tuhan akan memberikan sebuah kehangatan yang baru di dalam hidupmu. Mungkin ada masanya kamu merasa dingin dan beku. Tapi Tuhan ingin membawa satu kehangantan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.¬†Dan itu akan membuat engkau merekah dan engkau akan seperti bunga yang merekah yang akan bisa dinikmati oleh orang-orang.

Engkau akan jadi sebuah tanda yang baik buat orang-orang. Sebagai satu kesaksian yang baik bagi orang lain. Hidupmu yang merekah itu, menjadi berkat buat orang lain dan akan keluar bau yang harum dari engkau untuk orang lain. I feel that. The warm of the Lord.”

Percaya nggak percaya (sekali lagi), Tuhan bisa bicara lewat siapa saja. Dan hal ini nggak hanya dinubuatkan oleh satu orang. Nubuatan lainnya akan aku tulis in another page, ya.

And, at the end. Aku ingin menyampaikan bahwa siapapun kamu, kamu bisa dipakai oleh Tuhan. Kesaksian tentang kasihNya, kekuatanNya, kebaikanNya, nggak hanya bisa diceritakan melalui kesuksesanmu. Luka, cacat, cela, yang terjadi dalam hidupmu pun bisa dipakaiNya untuk pekerjaan tanganNya.

Kalau kamu mau, Dia bisa pakai. Asal kamu mau, kamu  menyerahkan hidup kamu sama Dia, dan bersedia di proses (proses itu nggak enak tapi membahagiakan pada akhirnya). Dia mengasihi kamu.

P.S: For video, you can PM me. ūüôā

XOX and to God be the glory,

Ninta

dd62d371cd589e766b74bafd0356fd72

Source: Pinterest

 

Sesulit Itukah Meninggalkan Jeva?

4e62ff96fe3a68e6401a55786b0895b3

Source: Pinterest

“Ca, kenapa bengong aja?”, pagi-pagi benar Ica, dengan rambut yang digulung ke atas, menggunakan piyama kesayangannya, lengkap dengan bantal dalam pelukan, sudah menghela napas berkali-kali sambil menghirup aroma teh kamomil. Ia seakan menghirupnya dalam-dalam untuk melepaskan segenap pikiran yang sudah sesak memenuhi semua ruang bahkan rongga otaknya yang cemerlang itu. Tebakanku, Ia kembali memimpikan Jeva.

Matanya masih terus memandangi langit pagi yang tidak begitu terang hari ini. Sinarnya bahkan tak cukup kuat untuk menembus hati Ayesa yang harus dilelehkan kembali. Yang selalu kembali kelabu, ketika Jeva datang ke mimpinya.

“Aku kan sudah selesai sama dia, Ge. Lalu kenapa aku harus berkali-kali memimpikan dia? Tapi… kali ini berbeda…”, ucapnya sambil menelungkupkan wajahnya ke bantal berwarna biru keabuan itu. Bantal favorit Ayesa setiap kali ia datang kepadaku.

Yaahh… Ayesa dan Jevanda, pasangan yang tak terpungkiri kemesraannya belasan tahun lalu. Mereka menghabiskan masa SMA hingga akhir perkuliahan bersama-sama. Sampai suatu kali semua itu harus berakhir. Restu tak kunjung datang atas hubungan mereka berdua. Salahnya, Ayesa lelah. Tapi, jika aku adalah Ayesa, mungkin aku akan mengambil keputusan itu lebih cepat darinya. Tapi, Ayesa itu anaknya berjuang banget, dia percaya dan masih selalu percaya kalau suatu hari akan ada perubahan. Namun, entah apa yang disembunyikannya sampai ia akhirnya mengambil keputusan untuk melepaskan.

Kini, Jeva sudah memiliki Hanin, bayi mungil dengan mata persis seperti mata Jeva. Mata yang selalu menggoda Ayesa kala itu. Bulu mata panjang yang selalu merayu Ayesa kala ingin menikmati makanan favoritnya namun Ayesa tidak mengizinkannya. Mata bulat yang menangis sepanjang malam ketika Ayesa mengambil keputusan berat saat itu. Keputusan untuk mengakhiri mimpi-mimpi mereka.

Mungkin, Jeva tidak tahu bagaimana Ayesa tersiksa. Jeva tidak mengetahui begitu banyak rahasia yang Ayesa simpan tentang perasaannya. Ayesa memang selalu terlihat tertawa dan dekat dengan banyak pria, tapi ketika ia kembali ke sarangnya, si tupai kecil itu akan meringkuk dan mengingat semua yang pernah ia lewati. Bagaimana Jeva begitu menyayanginya.

Sepenglihatanku, ada yang pernah menyayangi Ayesa lebih daripada Jeva. Tapi, ketika mereka kembali berjalan masing-masing, Ayesa tak pernah kembali pada siapapun yang sebelumnya. Ia akan kembali ke titik awal, Jeva. Seakan ia masih menyimpan Jeva sebagai obatnya. Mereka memang sudah seperti teman yang terlalu dekat. Mereka terlalu dekat.

Bahkan, terakhir kali aku main ke apartemen Ayesa yang minimalis dan serba putih, dengan sentuhan pastel pada setiap perabotnya, aku masih menemukan surat-surat cinta mereka waktu SMA. Aku masih melihat cincin yang dijanjikan Jeva untuk jari manis Ayesa, “Aku yang akan memasukkan cincin ini ke jari manismu” tertulis jelas di suratnya.¬† Cincin itu tidak pernah bergeser dari tempatnya lengkap dengan surat dan kotak hati berwarna merah.¬†Cihhh… anak SMA mana yang bisa seyakin itu? But, sometimes i envy her.

Ayesa pernah menjalin hubungan dengan beberapa orang, namun mereka tak bisa menggeser apa yang ada di dalam palung hatinya. Cinta dari Jeva. Surat cinta bahkan pas foto ukuran 4×6 milik Jeva masih tersimpan cantik di sana. Pernah Jeva memberikan sebuah kotak musik yang berisi penari balet dengan lagu kesukaan Ayesa. Kotak musik itu mungkin sudah terlihat usang, namun setiap kali Ayesa membukanya, memori itu kembali terkuak. Kotak musik itu masih memainkan melodi lagu natal yang akan selalu Ayesa dengarkan setiap tahun, ketika bersama Jeva.

Kadang, aku rasa Ayesa adalah perempuan yang sedikit gila karena move on¬†ternyata tak semudah yang ku kira. Dia sudah¬†move on, aku tahu. Tapi, aku rasa pasangan Ayesa selanjutnya harus sedikit rela kalau Jeva tak akan tergantikan. Hmm… bukan, Jeva pasti tergantikan. Namun, mereka harus memiliki apa yang tidak Jeva miliki. Dan hanya Ayesa yang tahu, apa itu.

Pernah suatu malam, aku pulang terlalu larut. Saking lelahnya, aku malas kembali ke apartemen ku sendiri. Aku memutuskan untuk menyinggahi apartemen Ayesa yang lebih dekat. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Sesampainya di sana, aku berdiri di depan pintu kamar Ayesa. Ku dengar suara tangisan. Ku dengar suara isak tangis Ayesa sambil memanggil nama Nathan.

Jevanda Nathan. Itu adalah nama lengkap Jeva dan memang mereka pasangan yang aneh, mereka sudah merencanakan nama yang sama untuk anak mereka kelak, dan anak laki-laki itu dipanggilnya Nathan. Mereka hidup bersama bayangan Nathan.

“Mama kangen Nathan… mama kangen Nathan…”

Yah, terpaksa aku biarkan dia menikmati tangisannya. Kemudian aku memutuskan untuk menghilang.

“Ge…” , panggil Ayesa lembut sambil mengusap air matanya. Suaranya membuyarkan ingatanku tentang kisah cintanya dulu.

“Ya…”, ngomong-ngomong, aku yakin barusan Ayesa berdoa. Suaranya lembut melantunkan doa yang biasa ia lakukan dalam agamanya.

“Apa seharusnya dulu aku nggak menyerah, ya?”, ia mengatakannya sambil menatap mataku. Aku terdiam.

Belasan tahun aku kenal Ayesa, aku nggak pernah liat dia seperti ini. So, desperate!

“Ca, nggak ada yang salah dengan keputusan kamu. Ingat, Tuhan bakalan ngasih kamu orang yang lebih tepat buat kamu. Kamu punya mimpi yang luar biasa, kamu punya sesuatu yang nggak dimiliki Jeva. Tuhamu punya seseorang yang lebih dari Jeva buat kamu.”

“Iya, aku percaya.”

“Lalu?”

“Tadi malam, aku mimpi Jeva lagi. Tapi…”

“Tapi apa?” Aku menarik kursi ke arah meja makan, mendekati dia sambil memberikan roti yang sudah ku olesi selai stroberi. Ia mengambilnya dan menggiggit bagian ujung roti itu.

“Kami berpisah baik-baik. Di mimpi itu, aku bertemu kembali dengan dia. Semacam acara gathering.¬†Kemudian, kita berenang. Dia dan aku saling melihat, tapi kami menghindar. Kemudian, sampai akhirnya kita harus pulang kembali dan menyebrangi sebuah jurang dengan jembatan yang sangat rentan. Aku melangkah lebih dulu, dia ada di belakangku. Tidak persis, tetapi setelah beberapa orang di belakangku. Aku melihat kakak senior kita, dia menggoda aku dan Jeva. Ku lihat Jeva tersenyum.”

“Lalu?”

“Lalu ku lihat beberapa orang jatuh ke dalam jurang. Dan aku kembali melangkah sambil ketakutan. Aku bergoyang di atas jurang itu, aku hampir jatuh. Lalu, aku kembali berjalan ke seberang. Ku lihat sudah banyak orang di sana. Oia… waktu di kolam renang, aku menyelam. Saat aku menyelam, aku sengaja bertahan lama di dalam air untuk bisa menikmati dia dari dalam air, dari kejauhan. Walau hanya kakinya.”

“Hmm…”

“Sesampainya di seberang, kami berpelukan. Entahlah. Kami masuk ke sebuah kedai. Semua orang yang berhasil menyebrang beristirahat di sana. Kemudian aku dan dia, kami memisahkan diri berdua. Kami bercanda, bermain, dia duduk tepat di belakangku. Aku bisa merasakan tubuhku bersandar pada tubuhnya. Lalu, aku bilang padanya ‘anakmu, cantik.’, kemudian dia sedikit menjauh, ‘Terima kasih.’ itu katanya. Kemudian dia membelai kepalaku, seperti yang biasa ia lakukan. ‘Kamu sih, main-main dulu.’ aku nggak ngerti. Lalu aku tersenyum dan memeluknya. Kami menghabiskan waktu mengobrol sampai akhirnya aku dijemput oleh Melinda dan yang lainnya. Mobil mamanya sudah menantiku untuk pulang. Dan…”

“Dan apa?”

Ayesa mulai berkaca-kaca.

“Kami berpamitan. Selamat tinggal. Itu yang aku ucapkan. Aku melihatnya kembali merapikan barang-barangnya bersiap pulang. Dan sempat ku dengar kalau kedai itu miliknya. Entah apa hubungannya…”

Ia menitikkan air mata sambil tersenyum. Kemudian, ia menggigit kembali roti yang kuberikan tadi.

“Menurutmu bagaimana?”, Tanyaku datar.

“Hmmm… Aku harap ini mimpi terakhir setelah bertahun-tahun. Mimpi yang sama terulang, mimpi di mana kami bertemu dan dia meminta aku untuk kembali bersamanya. Mimpi yang ketika aku membuka mata, membuat aku akan kembali merasakan kasih sayangnya.”

Jeva, seandainya kamu tahu ini… Oh, Ayesa sahabatku…

It will be better. Aku tahu kok, kamu selalu berusaha menyembunyikan ini. Aku tahu kamu sudah berusaha melepaskan dan meninggalkan Jeva. Aku juga tahu, kamu serius sama hubungan-hubunganmu yang lain. Walau Jeva ada di dalam sana. Jeva sudah tidak memberikan pengaruh apa-apa sama kamu.”

“Iya. Kamu tahu? Aku sudah membakar semua surat cinta, membuang cincin dari Jeva, dan semuanya.”

Whaatttt???¬†When??¬†Akhirnya, Ayesa…Akhirnya. Aku mengedipkan mataku beberapa kali untuk menutupi ekspresiku.

“Semua sudah selesai, Ge. Aku sayang sama dia. Dia juga pasti sayang sama aku.”

Sure. So?

“Sudah. Begitu saja. Aku sudah berdoa. Aku minta dan putuskan ini yang terakhir. Aku sudah berpamitan dengannya di dalam mimpi. Karena aku sudah siap melangkah, bersama Bram.”

“Jadi, kamu sudah mengambil keputusan untuk menerima Bram?”

“Ya. Seumur hidupku.”

Aku tak dapat menahan air mataku untuk Ayesa. Aku memeluknya dengan erat dan aku menghilang. Terima kasih, Bram. Sudah berusaha, menjaga dan menemani hari-hari Ayesa. Terima kasih untuk setiap kata-kata dan penerimaanmu atas Jeva. Terima kasih untuk perjuangan mengenal dan memberi lebih banyak untuk hidup Ayesa. Aku pamit.

***

“Angkasa Bramastya, aku Ayesa Geadinda menerima lamaranmu.”

Sent.

Kemudian aku terpaku, tersenyum menatap cermin.

Mama: Pernikahan Bukan Tentang Cincin

Salah satu yang menjadi elemen penting dalam sebuah pernikahan adalah cincin. Cincin yang berbentuk bulat pun sering dianggap sebagai simbol ikatan yang nggak akan pernah berujung, yang diharapkan terjadi dalam setiap pernikahan. Cincin juga merupakan hadiah terindah yang diharapkan kebanyakan perempuan dari pasangannya lebih dari apapun.

Aku punya cerita tentang cincin…

Suatu hari waktu aku masih kecil, kedua orang tuaku mengunjungi sebuah toko emas. Seingatku, aku tinggal di dalam mobil dan menunggu beberapa waktu bersama adikku. Tidak lama kemudian, papa dan mama datang ke mobil dan kemudian kami pulang. Beberapa waktu kemudian aku menemukan cincin di jari manis mama menghilang.

Satu cerita lain yang aku ingat adalah ketika mama menggadaikan perhiasannya. Entah itu termasuk cincin pernikahan milik mama atau tidak. 

Aku lupa mana cerita yang benar, tapi aku ingat dua kejadian di atas. Kejadian di masa laluku. Ketika semua benar-benar tidak enak.

Hmmm… Dulu aku pernah hidup dalam kelimpahan. Aku pernah merasakan hidup dengan dua pembantu di rumahku yang kecil. Aku pernah merasakan bagaimana hidup berkecukupan. Sampai suatu saat, aku harus menerima kenyataan kalau kehidupan berubah. Bahkan kenyataan kalau mama nggak akan pernah memakai cincin pernikahannya.

Sebabnya adalah cincin itu dipakai untuk membantu biaya kehidupan keluarga kami atau mungkin dipakai untuk menambah biaya sekolah kami. Jujur, sampai sebelum aku cukup dewasa aku kesal. Sangat kesal.

Bagaimana mungkin begitu tega menjual cincin pernikahan? Bagaimana mungkin merelakan cincin pernikahan untuk setumpuk uang? Pernikahan itu kan sekali seumur hidup. Trus, kalau cincinnya dijual nanti gimana? Sejak saat itu, aku bercita-cita untuk mengembalikan cincin tersebut. Cincin pernikahan untuk menjadi salah salah satu wish aku di tahun ini.

Saat itu, mungkin aku masih terlalu naif untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya masalah cincin. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah pelayanan yang besar yang Tuhan berikan pada kita, kelak. Pernikahan berarti memberikan komitmen seumur hidup pada satu cinta. Pernikahan berarti beradaptasi dan menyesuaikan. Pernikahan berarti bagaimana bertumbuh bersama. Dan lebih dari itu semua pernikahan adalah hal yang sulit dijalani untuk mereka yang masih tidak tahu apa yang mereka inginkan. Pernikahan itu pengorbanan. Pernikahan itu mengisi kotak kosong dengan kebahagiaan. Pernikahan adalah hal yang sulit dijalani untuk mereka yang tidak mau berubah, belajar, dan berusaha. Pernikahan adalah hal yang sulit jika tidak dijalani dengan bahagia dan belajar membahagiakan pasangannya.

Marriage is a work in progress. – AR.Bernard

Aku sendiri belum menikah. Beberapa kali membaca buku tentang pernikahan, aku hanya berpikir apakah aku benar mampu menjalaninya kelak? Apakah aku bisa bertemu dengan pasangan yang bisa bekerjasama dengan baik? Berkomunikasi dengan baik? Memiliki keterbukaan yang baik? Dan banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam kepala ini. 

Namun, belajar dari pengalaman mama. Pernikahan bukan sekadar cinta dan cincin semata. Pernikahan adalah tentang komitmen, kasih, penerimaan, memaafkan, mengupayakan, tidak bertoleransi dengan hal yang tidak benar, pertumbuhan, perubahan ke arah lebih baik, menjadi diri sendiri, bekerjasama dalam sebuah visi, jauh dari keterpaksaan, dll.

And today, I really thank God because after years I can make my dream comes true. I thank God ‘coz I can bought a beautiful ring for my mom as a present. For her birthday, mother’s Day, and Christmas gift.

This hand is my favorite. This hand is my home. Thank you for everything, Mom.

Love,

Ninta.