Apanya Yang Baik? Please, Lah!

“Good morning, everyone. Everything’s good????”
Dan dalam hitungan detik hampir semua orang di dunia ini bisa dipastikan akan menjawab, “Great. Luar biasa. Puji Tuhan. Alhamdulilah.”

Berapa banyak sih dari kamu mau menjawab dengan jujur tentang keadaan yang lagi kamu hadapi ketika pertanyaan itu datang tepat di depan mukamu yang sebenarnya mau senyum aja susah?

e5fba411fdf12d855add49e2df5fc1a7--one-word-truths

Source: Pinterest

 

Oo.. tunggu dulu, nanti kalau aku jawab jujur apa kata orang? Yah, apa kata orang nanti. Nah, sebelumnya saya mau sedikit mengingatkan untuk tulisan kali ini, tolong siapkan waktu dan pikiran yang agak lebih, ya. Karena akan sedikit berat dan bisa saja kamu ninggalin artikel ini di tengah jalan. Jadi, kalau nggak siap lebih baik tutup halaman ini sekarang. You choose ūüôā

Okei, jadi kamu memutuskan untuk lanjut membacanya sampai habis? Good then.

Lately, saya sendiri berada dalam keadaan yang nggak baik-baik banget juga, sih. Kalau ditanya kabarnya, ya sebisa mungkin menjawab sejujurnya. Masalah ini terjadi di banyak aspek, baik relationship, pekerjaan, pelayanan, dan banyak lagi. Terutama, my relationship with God. Hubungannya sih baik-baik saja, tapi sempat berada di masa-masa banyak pertanyaan yang nggak jelas.

Yup, setelah beberapa kejadian yang menurut saya nggak enak, banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam kepala saya. Bukan, bukan marah-marah dan merengek-merengek nggak jelas ke Tuhan gitu, tapi pertanyaan semacam… ya.. iya.. mungkin yang sekarang lagi ada di kepalamu saat membaca tulisan ini.¬†Then,¬†suatu hari waktu saya sedang pelayanan di¬†Women Conference, salah seorang sahabat saya menghadiahkan buku judulnya¬†You’ll Get Through This: Hope and Help for Your Turbulent Times – Max Lucado.

What? Orang ‘patah hati’ dikasi buku yang berat macam itu? Yeah… since that day i committed to read that book. Setiap 1 bab harus dihabiskan dalam 1 malam. Dan setiap malam pula saya benar-benar ‘belajar’.

Salah satu bab di dalam buku itu bilang sama saya, kalau saya (kamu juga) harus menaruh Allah di tengah kehidupan. Ini sama banget dengan kotbah Ps. Jose Carol – What To Do When We Don’t Know What To Do yang jadi salah satu kotbah pegangan saya. Keduanya sama-sama menjelaskan bagaimana kita harus meletakkan Tuhan itu jadi jembatan antara masalah dan hidup kita.

Nggak percaya? Coba ingat beberapa tokoh Alkitab yang kamu tahu dan ceritanya. Di buku yang saya baca, Yusuf menjadi tokoh utamanya. Kamu mungkin bisa pakai Ayub atau siapapun yang kamu tahu. Dijelaskan dalam Alkitab, pola seperti ini terus berulang:

Kejahatan. Allah. Kebaikan. 

Hidupnya Yusuf itu ‘drama’ banget! Ngalahin telenovela, sinetron India, atau pun drama Korea. Di awal, dia mengalami kejahatan seperti dikhianati, dijual, dibuang, nggak dipedulikan, dipenjara, dll (name it¬†with your problem now). Kemudian, dia membawa Allah dalam setiap masalahnya itu, ini merupakan perbuatan berserah dan bukan pasrah. Kenapa? Soalnya, Yusuf bisa aja lho nggak jadi¬†excellent ketika menghadapi masalah-masalahnya, tapi dia nggak memilih seperti itu. Dia tetap melakukan bagiannya dan Tuhan juga ngerjain bagian Dia. Dan dalam periode yang cukup lama semua rasa nggak enak yang dia alami menjadi kebaikan. Bahkan kebaikan untuk banyak orang.

Simpelnya, sama seperti waktu kamu naik pesawat. Kamu duduk, pakai¬†seat belt,¬†pesawat¬†take off dan perjalanan di mulai. Di tengah perjalanan, nggak diduga-duga kamu ngalamin turbulent.¬†Apa yang akan kamu lakukan? Ninggalin tempat duduk dan marah-marah ke pramugari atau pilotnya? Atau kamu terjun dari pesawat karena nggak suka sama keadaan itu? Deuh…

Satu-satunya yang bisa kamu lakukan saat itu adalah percaya pada pilot yang menerbangkan pesawatnya sampai waktu guncangan itu terlewati, kan? Beriman dan percaya sama Tuhan juga sama seperti itu.

Ps. Rick Warren bilang faith is not denying reality. Faith is facing reality without being discouraged by it.

 

Faith is facing reality without being discouraged by it.

 

Hmmm… lalu gimana dengan saya ketika menghadapi banyak kejadian kemarin? Sejujurnya, saya sempat nanya sama Tuhan apa saya masih beriman apa nggak. Rasanya masih kok, tapi kayak ada yang mengganjal di dada, ya? Dan beberapa kali beragam pertanyaan muncul di kepala saya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu cukup berlebihan. Kenapa? Karena saya merasa panik dan mulai ‘goyang’. Semua¬†plan saya meleset, saya harus ubah semua dari nol. Saya harus¬†restore hati yang hancur, saya harus kembali menstabilkan keadaan sekitar saya, saya harus ini dan itu.¬†Too much to ask, too much to do, too much. Bleeh!

But, i’ve learnt that everything need process.¬†

Everything you are going through right now is to prepare you for everything you have asked for. – Ps. Sidney Mohede

 

Jadi, gimana dengan iman? Apa jangan-jangan saya mulai meragukan? Atau saya cuma terguncang aja sih. Jujur saya takut, lho waktu membayangkan ini. Rick Warren mengatakan bahwa Iman, Faith, Pistin/Pistis bukan berarti kita menolak keadaan terpuruk, sedih, dan selalu berkata “I’m good. I’m fine.”¬†tetapi bagaimana dalam masalah kita tetap maju dan nggak berkecil hati. Terus minta hati yang baru, hari yang baru. Fiuh…

Kenapa? Kok bisa? Okei, begini… Lagi-lagi ngutip kata-kata pastor, ya. Ps. Steven Furtick bilang karena Tuhan nggak pernah menciptakan penderitaan, tetapi Dia menggunakannya untuk mendevelop apa yang ada di dalam diri kita. Kehidupan kita. Ini asli bukan kebetulan,¬†this morning me and¬†my mom have a great chat and she has sent me a great story.

Ada seseorang yang menanam pohon jeruk Bali di Florida. Namun. dia kecewa karena pohonnya nggak berbuah banyak. Ia pun mencari tahu pada pakar perkebunan. Bapak ini mendapat saran untuk memukul batang pohon jeruk tersebut dengan sebuah papan beberapa kali. Faktanya, hormon yang mendorong pertumbuhan bunga di pohon itu terhambat, sehingga harus dibantu dengan cara dipukul hingga muncul memar di batang pohon tersebut.

Sekarang, kamu sedang merasa dipukul dari segala arah? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalamu? Sakit, yaa.

Tapi ‘pukulan’ ini, lho, yang bisa merangsang pertumbuhan dalam diri kita. Syaratnya gampang, asal kita mengizinkan diri kita diproses untuk bertumbuh supaya menghasilkan buah yang lebih banyak. Coba bandingkan proses si jeruk itu dengan proses penanaman hingga panen anggur.

Terus, apa dong kuncinya biar bisa melalui ini semua? Kan nggak gampang katanya. Ini kuncinya,

2 Corinthians 4:18.

So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen, since what is seen is temporary, but what is unseen is eternal.

 

Jadi, sudut pandang apa yang kamu lihat? Sudut pandang kamu sendiri atau sudut pandang Tuhan? Is it conflict or chance to grow? (Ps. Steven Furtick)

Salah satu panutan saya di gereja adalah Hana Carol. Dalam sebuah ibadah, dia pernah menyampaikan hal yang belum pernah ia ungkapkan di muka umum about her background. Kamu bisa cari kotbahnya dengan judul Reserved for A Purpose. 

Melihat bagaimana saat ini dia dan keluarganya bisa berbuah, mungkin banyak yang nggak menyangka perjalanan hidupnya seberat itu. Sedikit banyak saya bisa merasakan karena saya pun sempat dan pernah mengalaminya. Tetapi, dia sendiri dengan yakin mengatakan kalau Tuhan bisa membalikkan semua keadaan menjadi kebaikan.

Tuhan bisa membalikkannya menjadi kebaikan. I’m grateful that He never let me go.- Hana Carol

 

Coba ingat lagi apa yang saat ini sedang kamu hadapi, apakah keadaan itu datang dari luar atau diri kamu sendiri? Apa kamu ngerasa hancur? Apa kamu ngerasa kenapa hidup kamu musti kayak gini? Apa kamu ngerasa kenapa semua nggak berjalan sesuai apa yang sudah kamu rencakan? Apa kamu ngerasa sendirian? Ditinggalkan? Daaaaan lain-lain…

9670cba2fb39da70e187c6e3a4d05592--handwritten-quotes-jeremiah---calligraphy

Source: Pinterest

Come, fix your eyes. Seek Jesus. He is always willing to give us a new beginning.

Look into Jesus, seek His face, and you will find that everything is under His control.

Kejahatan. Allah. Kebaikan. RencanaNya dan caraNya nggak pernah salah, asal kita percaya dan mau melihat dari sudut pandang yang berbeda (reframing).

Xox,

Ninta

 

Advertisements

Oh My God! This Is Gray Hair…

“Oh my God! What is this?”

Jujur saja saya sempat teriak dalam hati saat menemukan uban pertama di kepala saya. Uban ini saya temukan ketika saya sedang mengeringkan dan menata rambut sebelum berangkat ke gereja.

Wait, usia saya belum setua itu. Masih berada di kepala dua. Masih muda dan rasanya saya ingin menolak kenyataan kalau saya memiliki uban.

Sejujurnya, kurang tahu juga apa penyebab uban ini ada. Apakah memang karena pigmen rambut saya yang tidak begitu kuat? Ataukah ini akibat pewarnaan rambut beberapa tahun yang lalu? Atau memang sudah waktunya saja uban itu tumbuh?

Lalu, kenapa harus cemas? Kebanyakan orang cukup cemas saat mengetahui bahwa ia memiliki uban karena ini adalah salah satu tanda kalau mereka sudah mulai tua. Is that right?

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Jelasss… Pertama melihatnya saya tercengang, diam, dan berusaha mencabut nya. “Malu lah kalau tahu punya uban.”

But, sambil meneruskan untuk menata rambut dan berdandan saya mendapatkan hal yang berharga. Saya mulai berpikir seperti ini…

“Ninta, tahukah kamu, banyak sekali orang di luar sana yang harus kembali pada Bapa sebelum ia melihat ubannya sendiri. Yang belum sempat melakukan banyak hal untuk dirinya dan orang lain. Yang belum sadar bahwa ia semakin tua dan tak banyak melakukan apa-apa. Karena nyatanya nggak semua orang punya usia yang panjang dan berkesempatan untuk melihat bagaimana satu persatu rambut mereka memutih. Kamu begitu beruntung. Kamu masih bisa menyadari kasih dan penyertaan Tuhan selama ini. Sejak kamu dilahirkan hingga kini kamu bisa melihat satu persatu rambutmu mulai memutih…”

Dan saya mulai berkaca-kaca sambil membubuhkan bedak lipstik. Bisa saya bayangkan betapa Tuhan sayang saya sampai hari ini. Dengan semua yang sudah saya lakukan, mau kemana lagi saya berlari? Tuhan itu baik.

Bahkan Dia masih terus dan terus menggandeng tangan saya di saat apapun. Saya masih bisa melakukan banyak hal sampai saat ini juga hanya karena kasihNya. Lalu, apa yang salah dengan uban?

Sekarang, saya membalikkan pertanyaannya. Sampai rambut saya perlahan memutih… Apa yang sudah saya buat untuk Dia, yang benar-benar mengasihi saya?

Bagaimana dengan kamu? ūüôā

Xox,

Ninta

Ketika Kamu Menjadi Jawaban Doa

ab74b40b8392f678dd95c577a62f1a03--future-quotes-teen-quotes

Source: Pinterest

“Kamu adalah jawaban doaku…”

Apa yang kira-kira kamu rasakan dan pikirkan ketika seseorang mengatakan hal ini di depan matamu? Basi, klise, gombal, atau justru kamu merasakan joy yang nggak mudah kamu dapatkan?

Menjadi jawaban doa memang terdengar seperti bualan belaka atau sebuah kalimat klise yang biasanya kamu dengar dari pasangan kamu. Kebanyakan sih memang seperti itu. Tapi, beberapa hari yang lalu, saya benar-benar merasakan (kembali) apa artinya menjadi jawaban doa.

Awalnya, di hari itu memang saya harus ke ICE, BSD Tangerang, untuk menghadiri conference. Mumpung di BSD, entah kenapa saya ingin sekali menjenguk Oma dan keponakan yang memang tinggal di sana. Bertepatan juga saya ingin memberikan hadiah kecil pada kakak dan keponakan saya yang baru saja berulang tahun.

Long story short, saya datang membawa makanan kesukaan orang rumah. Namun, diluar dugaan ternyata Oma baru saja tertimpa musibah. Saya lihat Oma sedang bicara dengan salah satu anaknya yang juga datang ke sana. Saya sempat heran kenapa si Om ada di sana juga. Kakak dan Abang belum tiba di rumah, saya menghabiskan waktu untuk menemani keponakan saya bermain dan menyuapinya makan.

Malam itu saya hanya berpikir untuk datang dan bermain saja, tapi Tuhan selalu punya rencana. “Untung ada¬†auntie Ninin¬†datang, jadi Abel ada yang temenin main. Oma lagi lemes banget. Kasian Abel kalo nggak ada yang ajak main juga.” Siapa juga yang tahu kalau Oma sedang kena musibah, siapa juga yang tahu kalau di rumah si Abel nggak ada teman mainnya. Semua terjadi begitu saja (sesuai rencana Tuhan).

Kemudian, malam itu hujan turun sangat deras. Tadinya saya mau langsung pulang ke Jakarta namun saya memutuskan untuk menunda kepulangan saya dan menginap di sana. Kakak pulang sekitar jam 10, waktu kita makan¬†snack di ruang tamu dia bilang, “Tahu nggak, tadi aku pengen banget makan ini, trus ternyata kamu bawain ini ke rumah.” Then, lupa kalimat jelasnya dan kapan dia mengatakan, yang jelas dia bilang, “Kamu udah jadi jawaban doa tahu nggak? Sesimpel datang ke rumah dan bawain makanan ini.”

And my first reaction is jumping like a child! I jump and running to her and i hug her. I’m just too happy! This is joy.

Terkadang, kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di luar sana. Tanpa kita sadari kebahagiaan itu benar berasal dari dalam.

29a00cc0dc17ded393fbc6655f76b71f

Source: Pinterest

Oia, bicara tentang jawaban doa nggak semuanya hadir dalam bentuk yang menyenangkan, lho. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan¬†insight dari Kak Christofer Tapiheru.¬†It’s a simple message¬†dan kita sudah sering banget mendengarkannya. Dia bercerita bagaimana kita sering meminta untuk menjadi sabar, untuk menjadi tekun, untuk menjadi bijaksana, dan hal-hal baik lainnya.

Lalu, tiba-tiba keesokan harinya kita mengalami¬†the worst day ever karena¬†mood kita dirusak sama orang yang bikin kita kesal. Kemudian, dengan santai kita bilang sama Dia, “Tuhan, tu orang nyebelin banget deh. Gengges banget. Rese’. Siapa juga yang bisa sabar ngadepin orang kayak dia?”

Eitsss… kemarin kayaknya ada yang baru saja berdoa untuk minta jadi orang yang lebih sabar.

You know, orang itu merupakan jawaban doa kamu. Dan hal ini juga berlaku untuk kamu yang mungkin menjadi jawaban doa seseorang yang sedang meminta kebijaksanaan atau kelemahlembutan.

 

Amsal 27:17

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Tapi, sudut pandang ini nggak bisa dilihat semua orang. Beberapa orang bahkan menganggap ini adalah kondisi yang ingin cepat-cepat mereka lalui. Kondisi yang bikin hidup mereka nggak nyaman.

Kamu baru bisa menganggap hal yang nggak menyenangkan ini menjadi jawaban doa atau sebuah pelajaran berharga, jika kamu benar-benar menyerahkan hidupmu ke Tuhan. Jika kamu meminta hati yang lembut untuk benar-benar tunduk terhadap otoritas Tuhan. Kalau nggak, ya kamu akan beranggapan kalau Tuhan nggak sayang sama kamu makanya kamu ngalamin hal ini. Kamu nggak pernah menganggap bahwa proses ini menguntungkan untuk kamu.

Oia, waktu kamu mengalami hal yang nggak menyenangkan ini juga nggak ada kaitan langsungnya dengan kesalahan atau dosa yang kamu perbuat. Terkadang, Tuhan hanya ingin memperbesar kapasitas kamu. Nggak percaya? Baca kitab Ayub. ūüôā

Mudah? Nggak.
Mendapatkan insight ini nggak semudah itu, butuh proses untuk mau tetap mengikuti rencana Tuhan yang nggak pernah kita mengerti.

Kesimpulannya menyenangkan atau pun tidak, Tuhan bisa pakai siapa saja untuk menjadi jawaban doa. Asal mau dipakai dan menyediakan dirinya untuk dipakai. Simple yes to God may change everything.

Mungkin saat ini kamu lagi sedih, kamu lagi galau, kamu lagi nggak sabar, kamu lagi senang banget, kamu lagi berbunga-bunga. Tapi, apapun keadaan yang sedang kamu alami, tetap sediakan dirimu untuk mendengar dan bersedia dipakai Tuhan. Kamu nggak akan pernah tahu apa arti kehadiranmu untuk orang lain kalau kamu menutup telinga dan hatimu.

So, coba ingat-ingat lagi apakah kehadiranmu, hidupmu, dan apa yang kamu lakukan menjadi jawaban doa untuk orang lain? ūüôā

xox,

Ninta.

When God Speak In Your Mind

If you feel God is so far, you’re wrong. Totally wrong.
God is always in us. You can feel it, you can hear His voice clearly if you want.

This morning, I’m coming late to go to morning chapel at the office. When I decide to not join them, holy spirit tell me “Go!” then I can’t deny but obey. I just think, “Yaudalah ya. Paling lagi sesi baca Firman. Daripada di sini gamang nggak jelas.”

I open the door and looking for the sit. Then, one of the counselor wave her hand and tell me to sit beside her. After the last sentence of the story, suddenly the counselor beside me speak and she told us that she want to share about “Cognitive Therapy”.

Cognitive therapy is a therapy for the mind to always set the positive. You know… Then she asked to open the Bible, Phillipians 4:8 (KJV)

“Finally, brethren, whatsoever things are true, whatsoever things are honest, whatsoever things are just, whatsoever things are pure, whatsoever things are lovely, whatsoever things are of good report; if there be any virtue, and if there be any praise, think on these things.”

This is the third time I heard about this. God speaks louder to me again and again. In this condition, so many things entering my mind, with many speculation, many choices, many wrong insight. But, He know that His children, specialy me, is so weak and need to strengthen. So, He always speak through everything to keep me strong.

Then, the counselor continue her story about this verse. Yes, it is not easy but not impossible. She added another verse. Rome 12:3 (KJV)

“For I say, through the grace given unto me, to every man that is among you, NOT TO THINK of himself MORE HIGHLY than he ought to think; but to think soberly, according as God hath dealt to every man the measure of faith.”

Sometimes, we take everything around us to our mind and process it to be something bad. Without filter it. That’s human’s tendency. Then, that minds cause us to worry, anxious, sad, stress, depression. I talk this because I’ve been there. But, if you win from this feelings, you’ll become stronger.

One more time I tell you, this is not easy. But, if we willing to hear God’s voice, obey to where holy spirit guide us, and still believe that our Father is so so good, we will never be the same. We know what we should do.

I write this to remind me. I know this is for me. And I know that God is always be with me, I’m not alone no matter what. I’m His no matter what. And He loves me no matter what. The thing is, problem still there. While we’re crowling, we have freedom to choose to keep moving or to stop and give up. 

My pastor said, devil doesn’t worried when you have faith, devil worried when you always HOPE. Devil worried when you KEEP MOVING, even you’re crowling, because you know there’s a HOPE. Because you don’t want to stop.

So, I ask my self, “Do you want to let go the negativity and keep moving or still live in that mind and it’ll makes you weaker and hurted more and more?”  So, I decide to keep moving with Him. And these days I feel better. I can smile again. And… What about you?

Pardon my English, xox

Ninta.

Ps: i wanna say thank you for one of my friends who text me in the middle of the night and say..

“Ok, let’s pray for peace and wisdom to be upon you. You really need it. I can’t say much but I know for sure He has a plan in the midst of this uneasy season.”

Please Tell Me It’s Not 17.15pm

Why people crying?

Favim.com-art-barbie-cool-girl-hair-286070

Kenapa Tuhan menciptakan air mata? Kenapa Tuhan nggak mengganti air mata itu dengan sesuatu yang lebih berharga yang bisa dijual seperti di drama-drama. Kenapa air mata itu memiliki makna?

Sejujurnya saya bukanlah tipikal orang yang bisa menangis sembarangan. Yup, pada dasarnya memang saya cengeng dan sensitif, but i never let people melihat saya menangis. Once saya bisa menangis sesuka hati saya di hadapan kamu, iya kamu, itu berarti saya sudah benar-benar nggak berdaya, nggak punya kekuatan ekstra, dan bahkan itu berarti aku sudah menunjukkan kelemahan yang paling saya nggak sukai. Satu lagi, itu artinya saya bisa percaya sama kamu sepenuh hati saya karena saya menyerahkan air mata saya ke kamu.

Air mata atau tangisan yang saya maksud di sini adalah ketika saya sudah benar-benar menyerah sama pertarungan di dalam diri saya. Untuk hal tertentu iya saya menangis. Misalnya, di pesta pernikahan. Saya paling ‘benci’ adegan salam-salaman sama orangtua. Karena saya pasti menangis. Jika itu terjadi, otomatis saya akan berbalik badan atau melihat ke langit-langit agar air mata ini nggak turun begitu saja.

giphy (11).gif

Ketika ada teman yang bersedih, saya biasanya berusaha untuk memeluk. Begitu saya meninggalkan dia, baru saya menangis sejadi-jadinya, karena saya merasakan apa yang dia rasakan. Jika kuat, saya akan tetap bersama dia tanpa suara agar tetap kuat menahan air mata di dalam kantungnya.

Dalam kondisi lainnya, saya bisa menutupi semuanya dengan tawa yang terpaksa. Dan kalau kamu peka, itu hanyalah tangis di balik tawa.

Kadang, saya menangis dalam bentuk pelukan. Saya tidak mengeluarkan air mata. Saya hanya meminta sebuah pelukan. Bentuk dukungan paling kuat. “Please, hug me!” ini kode saya. Ketika saya memeluk kalian, itu adalah ekspresi saya. Tapi, ketika saya mengeluarkan kalimat ini, berarti saya butuh saluran tenaga dari kalian.

Dalam sebuah kotbah Ps. Jose Carol yang bertema “What to do when you don’t know what to do”,  pelukan adalah salah satu langkah pasti untuk memulihkan kekuatan yang disarankan ketika kita nggak tahu harus berbuat apa. That’s why, we need others, we need community, we need DATE (komsel).

  • 3. Tenggelamkan dirimu dalam Kasih.
    Kita sebagai makhluk sosial kita butuh Kasih Tuhan. Kadang yang kita butuhkan bukan ide, khotbah dan nasihat, namun yang dibutuhkan adalah, seorang sahabat yang datang memeluk dan memberikan kasih. Ada sebuah kekuatan yang datang ketika dipeluk. Waktu engkau memeluk ada endorfin yang keluar dan menenangkan. Ada sesuatu yang bekerja dalam Kasih. Ada kekuatan yang keluar dari dalam diri kita.
    Inilah yang saudara butuh kan – Kasih, sebuah penerimaan yang tulus dan sebuah pelukan hangat dari seseorang.
    Courtesy: GR.Faith

Ketika kita membutuhkan kekuatan, ketika kita memeluk seseorang, kita nggak akan otomatis mendapatkan kekuatan itu kalau orang yang kita peluk nggak membalas pelukan kita. So, when i ask someone to hug me, itu sudah merupakan sebuah permohonan yang bersifat urgent and hopeless. Tentu saja saya nggak sembarangan meminta pelukan.

Pelukan ini akan mendatangkan kekuatan yang bisa menahan air mata ketika mereka adalah orang-orang yang benar-benar attached sama saya. Mereka adalah orang-orang yang kenal saya. Bukan hanya sekadar tahu.

Kenapa sih saat ini saya bisa sampai merasa begitu membutuhkan kekuatan?

Setiap manusia itu punya pembelajarannya sendiri. Dalam masa ini, sejujurnya Tuhan sangat-sangat membentuk pribadi saya melalui orang yang paling dekat sama saya.

Amsal 27:17 (TB) Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Tuhan pakai kita masing-masing untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang nggak baik kedepannya. Tapi, percayalah kalau partner kita (nanti) nggak punya tendensi yang jahat untuk menyakiti. Percaya saja. Dan sebagai manusia kita harus terus mau diubah alias nggak begitu-begitu. Tuhan jelas minta kita memperbaharui diri kita hari demi hari supaya makin sempurna (dewasa), otomatis kita bukanlah orang yang sama setiap saat. We change! Dan kita dituntut untuk terus berubah.

Tips: Ketika kamu masih pacaran, percayalah kamu harus buka telinga dan hati kamu lebar-lebar untuk menerima kritik dan saran. Selanjutnya, eksekusi antara kamu dan pasangan adalah keputusan kalian berdua. Bukan lagi orang lain. Dan jelas, setiap keputusan ada risikonya. Hal ini berbeda ketika kamu sudah menikah nanti, nama baik partnermu adalah tanggung jawabmu. Nggak bisa sembarangan orang tahu masalah internal kalian. Mungkin nanti kalau saya sudah merasakan pernikahan, saya bisa share sama kalian. Nah, jadi jangan malu atau takut salah di depan orang lain. Kalau ada yang harus diperbaiki, ya perbaiki.

Dalam menjalani hal ini, Tuhan sudah ngomong pesan yang sama dan berulang-ulang. Tentang masalah PERCAYA.

To trust God in the light is nothing, but to trust Him in the dark – that is FAITH. – Charles Haddon Spurgeon.

Dia bilang lagi dan lagi sama saya, “Kamu percaya nggak sama Saya?”.

Masalah percaya.
Dalam sebuah hubungan antara manusia, rasa percaya nggak bisa diterima begitu saja tanpa pembuktian atau usaha (gitu juga nggak sih ke Tuhan?). Waktu PDKT kamu pasti berusaha menginvestasikan segalanya supaya gebetan kamu percaya kamu bisa bahagiakan dia kan? Supaya si gebetan mau terima kamu.

Ketika sudah berpartner. jangan sampai hal itu hilang lho. Biasanya saya dan partner akan saling kasih kabar jalan sama siapa, atau saya kemana. Komunikasi. Untuk saya pribadi, ini adalah salah satu hal yang bisa saya lakukan untuk menjaga kepercayaan dia.

Kenapa sih mesti begitu? IMHO, hal ini penting (lagi dan lagi) karena rasa percaya itu BERSYARAT dan harus dibangun setiap saat (Marriage gathering 2017). Kebayang kan ketika kamu nggak mengomunikasikan ini dengan baik dengan pasangan kamu? Ini sulit (Yang pernah ngerasain boleh tunjuk diri sendiri :)).

Selain komunikasi, menjaga kepercayaan bisa kamu lakukan dengan menjaga apa yang sudah kamu bilang (integritas). Ketika kamu bilang cinta atau sayang sama orang, apakah kamu bisa benar-benar berintegritas sama apa yang kamu bilang? Apakah kamu melakukan usaha yang maksimal untuk partner kamu? Apakah kamu menyimpang ke kanan dan ke kiri? Ups.

Kalau saya tarik hubungan saya sama Pencipta saya, gimana sih caranya biar kepercayaan itu tetap ada? Komunikasi. Berdoa. Baca Alkitab (mau digital, mau shermon, mau buku fisik, apapun, pokoknya usaha baca). Dia pasti senang ketika komunikasi kita lancar. Ketika saya nggak lancar komunikasi sama Dia, percaya deh, saya bisa hilang arah dan nggak bisa dengar mana suara Dia dan mana suara saya sendiri. Kepercayaan saya ke Dia pun otomatis goyang, deuh. Jadi, sebisa mungkin saya akan mengusahakan untuk tetap ngobrol sama Dia. Walau sebentar atau ngantuk-ngantuk hehehe… Walau kadang malas pasti ada juga. Asli.

Integritas. Ketika saya bilang saya sayang sama Dia, apakah saya bisa tetap kontak dia ketika saya sibuk dan menyempatkan baca surat cintanya Dia? Atau saya memilih tidur dan akhirnya satu hari, dua hari, tiga hari, lama-lama saya lupa gimana relationship saya sama Dia. Kita sama pasangan saja kita nggak mau diginiin, masakan kita begitu sama Tuhan kita? Asli, ini berat ngomong seperti ini karena saya yang menulis ini juga masih berusaha untuk menghidupi apa yang saya tulis. At least, saya tahu rasanya makanya saya nggak mau gini lagi ke Dia. Karena saya tahu rasanya gimana.

Trus, sekarang saya gimana? Saya nggak lagi dalam suasana yang enak juga. Mana ada sih masa ujian yang enak. Tapi, nggak ada pemenang di ring tinju yang keluar sebagai pemenang tanpa memar dan luka-luka. So, sakit, BT, sebel, emosi, itu pasti terjadi ketika kita ada di dalam ring tinju. Problemnya, bisa nggak tetap percaya sama Tuhan ketika masa sulit ini ada? Bisa nggak kita menang dari ‘pertandingan’ kita, walau ‘berdarah-darah’ tapi memutuskan untuk kembali mengasihi dan mengusahakan yang terbaik untuk kebaikan bersama saat ini dan di masa depan. Rasa takut itu ada, tapi mana yang lebih besar? Rasa takutnya apa rasa percayanya?

Nulisnya gampang ya, tapi percayalah saya masih membutuhkan kekuatan untuk setia dalam berdoa, percaya, dan beriman sama Tuhan. Saya butuh kekuatan untuk menerima kalau setiap hari saya harus melewati pukul 17.15pm tanpa apa-apa. Saya butuh kekuatan untuk membuktikan kalau saya sayang sama Dia, dia juga. So, please send your hug in your prayer, every night, before you sleep, for me. ūüôā

Thanks,
Xox

Ninta.

Pray

Praying woman hands
I need you to soften my heart
And break me apart
I need you to open my eyes
To see that You’re shaping my life

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

I need you to soften my heart

And break me apart
I need you to pierce through the dark
And cleanse every part of me

All I am, I surrender

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will 
I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Give me faith to trust what you say
That you’re good and your love is great
I’m broken inside, I give you my life

‘Cause I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

I may be weak
But Your spirit strong in me
My flesh may fail
My God you never will

Christopher Joel Brown / London Weidberg Gatch / Mack Donald Iii Brock / Wade Joye

(Sometimes) The Answer is Pray

6301285382075

Source: Divineheartcouples

Suatu waktu, saya bertemu dengan pemimpin komsel saya dan membahas beberapa hal tentang berpasangan. Menurut kalian ada yang aneh nggak menanyakan apa yang tidak disukai dari masing-masing pasangan? Padahal, mereka sedang dalam honeymoon periode.

Menurut saya, sedikit aneh. Di mana-mana, ketika kamu menemukan pasangan yang sedang berbahagia, yang ditanyakan pasti, “Apa sih yang membuat kamu suka sama dia? Apa kelebihan dia yang membuat kamu jatuh cinta?” Dan beragam pertanyaan menyenangkan lainnya.

Tapi, hal di atas tidak ada salahnya juga jika ditanyakan di awal kalian saling membangun hubungan, lho. Kenapa? Walau masih baru, kalau kalian harus benar-benar mengenal masing-masing pribadi. Kalian harus tahu apa yang kalian nggak sukai dari pasangan kalian masing-masing. Ini bisa menjadi bahan evaluasi kalian nantinya saat sudah melewati beberapa masa. Apakah ada perubahan atau tidak.

Kalau kata Tulus,

“Jangan cintai aku apa adanya… tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan…”

Dari ketidaksukaan ini kalian akan menghadapi banyak masalah. Namanya juga dua orang yang berbeda. Tapi, berdoalah saat menghadapi masalah, belajarlah mengerti serta mencintai pasanganmu dengan segala kekurangan-kekurangannya. Tetapi, tetap ingat, ini adalah masa kalian mengenal satu sama lain. Masalah akan membuat kalian berakhir pada satu keputusan, untuk melanjutkan perjalanan ke pernikahan atau tidak. But, don’t worry.

Ketika masalah sudah selesai, jangan jadi lemah untuk berdoa. Ingin meminta pengertian, berdoalah. Ingin agar pasangan kamu berubah, berdoalah. Ingin jalan keluar dalam masalahmu, berdoalah. Ingin menyerahkan hati dan hidupmu untuk dikontrol, berdoalah. Karena ketika kamu berdoa, kamu masuk ke dalam sebuah medan perang. Berperanglah, entah untuk melawan dirimu sendiri atau tidak. Berperanglah dan menangkan pertempuran itu.

While you are praying, you jump into the battlefield!


Dear my future partner, i wish you to know that i’ve been learn everyday to be the best version of me. Maybe, i’ll always asked you about everything, but, thank you for understanding me and say good words. Please, love me constantly and gimme time, so we can enjoy the process. We can start the journey, we will sailing.
 

 

Xox,

Ninta.