It’s Hard, God. But, Well Done, My Dear

98599f06de8fd96aabf86c939ed6e835

Source: Pinterest

 

“Well done, My dear.”

Ini adalah sebuah kalimat yang seorang Ninta dengar ketika dia berdiri, mengantre untuk masuk ke dalam toilet. Seketika itu juga air mata meluncur membasahi pipi ini. Mendengar kalimat tersebut rasanya mengalahkan perasaan ditembak gebetan atau mendapatkan Nobel. Well, ditembak gebetan pastinya pernah. Sedangkan Nobel, mungkin masih di angan-angan. But, at least i received a compliment from The Almighty One. 

“What? Are you kidding me?”

Yeah, maybe this question is up on your head. It’s oke. I know, maybe right now you wont believe it. But, if you have the same experience… i’m pretty sure you believe in me.

So, what is the cause that bring The Almighty One talk that sweet to me? *pardon my bronglish a.k.a broken english.

Suatu hari bertahun yang lalu, God just sent me a mission. Memang benar, bertahun yang lalu aku sendiri pergi ke gereja dan mendengar kotbah dari Ps. Sidney Mohede. Actually, the sermon is not about purpose, but because of that sermon i’ve got my vision. Percaya nggak percaya, sih. Nah, satu kalimat yang terlintas dalam pikiranku saat itu adalah tentang anak-anak broken home. Maybe, we’re broken. But, we’re not a broken creation.

Maybe, we’re broken.
But, we’re not a broken creation.

Then, because of i love to write… i thought i will write a book. Mulailah dengan perencanaan pengumpulan materi, bukunya akan seperti apa, tentang apa, siapa yang harus aku wawancarai, dan lain-lain. Yes, i think and plan that far.

Kemudian, berjalannya waktu kok kayaknya ribet dan lama-lama mulai kendor semangatnya. Tapi, aku tetap menulis tentang hal-hal yang bisa aku bagikan melalui blog yang satu ini. Dan semua berjalan dengan baik sampai suatu hari aku melihat sebuah testimoni tentang seorang remaja lesbian yang bertobat. Penyebab awalnya nggak lain dan nggak bukan adalah keretakan keluarga.

Yup, peran keluarga adalah hal yang sangat penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Terutama, peran ayah. So, nggak heran kalau kamu harus teramat sangat hati-hati dalam memilih laki-laki as your spouse nantinya. Karena iblis sangat senang “bekerja” menghancurkan generasi melalui laki-laki. Kamu bisa tonton video Ps. TD Jakes tentang laki-laki  di sini.

Nah, aku benar-benar terinspirasi dengan testimoninya. Dalam hati bilang, one day aku bisa nggak ya melakukan hal yang sama seperti dia? It’s an honour for me untuk menyaksikan kebaikan Tuhan yang sudah menyelamatkan aku. Then, kamu pikir iblis seneng dengar permintaan bodohku? Nggak!

Setelah lama berselang, suatu hari di bulan Juli aku beribadah di Kota Kasablanka. Telat. Jadilah aku harus beribadah di depan pintu. Waktu lagi asyik penyembahan (sambil malu-malu karena telat, booo!) Holy Spirit speaks to me. Terjadilah percakapan yang luar biasa dalam hati.

Notes: Kamu boleh bayangkan suara Roh Kudus sesuai kemampuan dan kepercayaan kamu, ya.

“Ninta, kamu harus membagikan pengalamanmu.”

“Hee? Yang mana, nih?” , sambil merem melek menyembah.

“Yang memalukan itu. That one.

What? Sekarang banget? Are you kidding me? Aku baru saja pindah komsel. Sama komsel lama saja aku nggak cerita, gimana komsel baru. They don’t know me at all. Gimana kalau mereka judge aku? Aku anak baru.”

Just do it. Kamu kan mau bicara tentang ini di depan banyak orang. Mulai lah dari DATE kamu. Lalu, This Is My Story. Dan semua akan terjadi sesuai sama rencanaKu.”

Hmm… gini deh, iya aku tahu aku ingin ‘menyelamatkan generasi’ dan punya purpose ke sana. Tapi, aku belum siap ini. Kalau memang aku harus membagikan tentang hal ini, kasih aku jadwal 5 minutes sharing. Aku nggak mau ujug-ujug share tentang ini. Malu kali…”

Suara itu menghilang.

Hari berganti dan jadwal tugas di DATE alias komselku pun tiba. You know that Holy Spirit can use everyyyyyybody to fulfill the plan. Jadwal 5 minutes sharing tertulis nama NINTA. Mau mengelak gimana lagi?

Stage one, done.

Setelah itu, Roh Kudus nggak berhenti bicara sama aku.

“Kapan mau susun naskah untuk This Is My Story?”, “Kapan dirampungkan?”, “Ayo, dong mulai nulis.”, “Cepetan kirim.”, “Udah tinggal sent, tuh.”

Percayalah, ini benar nyata. Kalau kamu belum pernah dikejar deadline nya Roh Kudus, mungkin kamu perlu minta sama Dia.

Mudah? Nggak. Segala sesuatunya aku pikirkan. Bagaimana nantinya kalau ternyata karena hal ini nggak ada yang mau sama aku? Apa kata orang-orang yang kenal sama aku? Apa kata keluargaku? Dan banyak pertimbangan lainnya. But, at the end, Tuhan cuma ingatkan aku.

Ketika video ini muncul, ini akan menjadi berkat yang besar untuk aku dan banyak orang. Jadi, aku harus menyelesaikan misi ini. Huft. Dan aku meng-iya-kan apa kataNya. Setidaknya, dengan video ini aku bisa menyaring mereka-mereka yang akhirnya memiliki hati untuk aku. Aku nggak perlu repot menjelaskan siapa aku dan percaya kalau Tuhan bekerja melalui aku. Dia backup aku. Aku alatNya.

Aku alatNya.

Stage two, cerita sudah dikirim. No response. Sampai suatu siang, Ps. Alvi mengirim e-mail yang berisi akan menjadikan ceritaku sebagai video testimoni terpilih. Selang waktu berjalan, aku menunggu lama untuk merealisasikannya. Hampir setahun berselang, akhirnya pesan itu datang juga. Namun, dasarnya iblis nggak suka, ada saja halangan yang membuat syuting video ini nggak lancar. But, ini nggak sepenuhnya salah iblis. Ini juga ada salahnya aku.

Tapi, Tuhan baik. Intinya, Tuhan nggak mau aku dipermalukan. Dia benar-benar menyelesaikan masalahku sepenuhnya, baru Ia mengizinkan video ini selesai dan ditayangkan. Jarak antara syuting terakhir dan pemutaran video hanya satu minggu. Jarak yang cukup singkat. Final stage, done.

 

bfdd6b0a4d7f4ed1d8d7129e3f02fe73

Source: Pinterest

20 Januari 2018.

Aku berdoa sekitar setengah jam waktu itu. Jam 1 sampai jam 1.30 am. Can’t sleep. Aku berdoa untuk video yang besoknya akan diputar. Inti doaku adalah:

  1. Editor sudah mengedit video dengan baik
  2. Video ini bisa benar-benar jadi berkat
  3. Pesan dari video ini benar-benar sampai ke yang membutuhkan
  4. Ada satu orang saja yang messagge aku sebagai respon konfirmasi dari videoku
  5. Aku tidak dipermalukan, jujur, aku tetap nggak siap karena aku cukup dikenal di gereja. Dan ini bukan hal lumrah untuk disaksikan.

21 Januari 2018.

Jujur (lagi), aku sebenarnya ragu apakah benar video ini diputar minggu ini. Hari ini. Hampir setiap jam aku terbangun dan menantikan pesan di layar gadget. Dan tepat pukul 08.11 am, salah satu teman panitia pada waktu DATE gabungan kemarin mengirimkan pesan.

“Hi, Nin. Thanks for sharing what God has done for you. It’s kind of…. confirmation to me. Happy Sunday and God bless you.”

HOAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAH! *sorry alay.

What is this, God?

Kemudian, pesan demi pesan bermunculan seharian.

“We thankful for your courages, your bravery heart. So, we know we’re not alone. And we are blessed.”

Tanpa melebih-lebihkan, inilah kesimpulan yang aku dapatkan atas jawaban doaku selama ini. Dan 21 Januari 2018 akan menjadi sebuah tanggal bersejarah untuk perjalanan hidup dan panggilan hidup seorang Erninta Afryani Sinulingga, or you can call me Ninta Afryani.

Yes, it’s not easy to share your scars, but God can use it if you want.

Seorang pemimpin berani terbuka akan masa lalunya (weakness) supaya menjadi inspirasi untuk orang lain.

Aku mendapatkan kalimat ini dari salah seorang leader di gerejaku. Frankly, i’m speechless. Begitu banyak pesan yang datang dan mengatakan kalau mereka terberkati. Dan semakin banyak lagi cerita yang aku dapatkan. Bagaimana mereka pun mengalami hal yang sama, tetapi nggak tahu mau cerita pada siapa. Dan aku semakin yakin untuk mengatakan, “Yes, God. You can use me.”

 

c87e61182d460eb9ca79e09b5f217d0b

Source: Pinterest

 

Dari penyerahan tugas pertama hingga video ditayangkan memakan waktu hampir 2 tahun. Tuhan bekerja. Melalui pergumulan selama 2 tahun tersebut. Melalui jatuh bangun di 2 tahun tersebut. And i’m SURE that God is working in holistic way. Pekerjaannya untuk sebuah  misi nggak pernah setengah-setengah. Dia tahu kapan waktu yang tepat.

By the way, few days before the video coming up… Aku ikut DMS (Discipleship Ministry School). Di sana, aku berdamai sama Tuhan. Ya, aku sempat ngambek sama Tuhan dan ini termasuk dalam proses jatuh bangunnya aku. Dan bersyukur melalui semua materi yang diajarkan, aku semakin paham tentang Dia dan cintaNya. PekerjaanNya di bumi ini. Di hari terakhir, kami belajar tentang nubuatan. Salah satu nubuatan yang aku dapatkan dari leaderku adalah:

“Saya merasa bahwa Tuhan akan memberikan sebuah kehangatan yang baru di dalam hidupmu. Mungkin ada masanya kamu merasa dingin dan beku. Tapi Tuhan ingin membawa satu kehangantan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan itu akan membuat engkau merekah dan engkau akan seperti bunga yang merekah yang akan bisa dinikmati oleh orang-orang.

Engkau akan jadi sebuah tanda yang baik buat orang-orang. Sebagai satu kesaksian yang baik bagi orang lain. Hidupmu yang merekah itu, menjadi berkat buat orang lain dan akan keluar bau yang harum dari engkau untuk orang lain. I feel that. The warm of the Lord.”

Percaya nggak percaya (sekali lagi), Tuhan bisa bicara lewat siapa saja. Dan hal ini nggak hanya dinubuatkan oleh satu orang. Nubuatan lainnya akan aku tulis in another page, ya.

And, at the end. Aku ingin menyampaikan bahwa siapapun kamu, kamu bisa dipakai oleh Tuhan. Kesaksian tentang kasihNya, kekuatanNya, kebaikanNya, nggak hanya bisa diceritakan melalui kesuksesanmu. Luka, cacat, cela, yang terjadi dalam hidupmu pun bisa dipakaiNya untuk pekerjaan tanganNya.

Kalau kamu mau, Dia bisa pakai. Asal kamu mau, kamu  menyerahkan hidup kamu sama Dia, dan bersedia di proses (proses itu nggak enak tapi membahagiakan pada akhirnya). Dia mengasihi kamu.

P.S: For video, you can PM me. 🙂

XOX and to God be the glory,

Ninta

dd62d371cd589e766b74bafd0356fd72

Source: Pinterest

 

Advertisements

Sesulit Itukah Meninggalkan Jeva?

4e62ff96fe3a68e6401a55786b0895b3

Source: Pinterest

“Ca, kenapa bengong aja?”, pagi-pagi benar Ica, dengan rambut yang digulung ke atas, menggunakan piyama kesayangannya, lengkap dengan bantal dalam pelukan, sudah menghela napas berkali-kali sambil menghirup aroma teh kamomil. Ia seakan menghirupnya dalam-dalam untuk melepaskan segenap pikiran yang sudah sesak memenuhi semua ruang bahkan rongga otaknya yang cemerlang itu. Tebakanku, Ia kembali memimpikan Jeva.

Matanya masih terus memandangi langit pagi yang tidak begitu terang hari ini. Sinarnya bahkan tak cukup kuat untuk menembus hati Ayesa yang harus dilelehkan kembali. Yang selalu kembali kelabu, ketika Jeva datang ke mimpinya.

“Aku kan sudah selesai sama dia, Ge. Lalu kenapa aku harus berkali-kali memimpikan dia? Tapi… kali ini berbeda…”, ucapnya sambil menelungkupkan wajahnya ke bantal berwarna biru keabuan itu. Bantal favorit Ayesa setiap kali ia datang kepadaku.

Yaahh… Ayesa dan Jevanda, pasangan yang tak terpungkiri kemesraannya belasan tahun lalu. Mereka menghabiskan masa SMA hingga akhir perkuliahan bersama-sama. Sampai suatu kali semua itu harus berakhir. Restu tak kunjung datang atas hubungan mereka berdua. Salahnya, Ayesa lelah. Tapi, jika aku adalah Ayesa, mungkin aku akan mengambil keputusan itu lebih cepat darinya. Tapi, Ayesa itu anaknya berjuang banget, dia percaya dan masih selalu percaya kalau suatu hari akan ada perubahan. Namun, entah apa yang disembunyikannya sampai ia akhirnya mengambil keputusan untuk melepaskan.

Kini, Jeva sudah memiliki Hanin, bayi mungil dengan mata persis seperti mata Jeva. Mata yang selalu menggoda Ayesa kala itu. Bulu mata panjang yang selalu merayu Ayesa kala ingin menikmati makanan favoritnya namun Ayesa tidak mengizinkannya. Mata bulat yang menangis sepanjang malam ketika Ayesa mengambil keputusan berat saat itu. Keputusan untuk mengakhiri mimpi-mimpi mereka.

Mungkin, Jeva tidak tahu bagaimana Ayesa tersiksa. Jeva tidak mengetahui begitu banyak rahasia yang Ayesa simpan tentang perasaannya. Ayesa memang selalu terlihat tertawa dan dekat dengan banyak pria, tapi ketika ia kembali ke sarangnya, si tupai kecil itu akan meringkuk dan mengingat semua yang pernah ia lewati. Bagaimana Jeva begitu menyayanginya.

Sepenglihatanku, ada yang pernah menyayangi Ayesa lebih daripada Jeva. Tapi, ketika mereka kembali berjalan masing-masing, Ayesa tak pernah kembali pada siapapun yang sebelumnya. Ia akan kembali ke titik awal, Jeva. Seakan ia masih menyimpan Jeva sebagai obatnya. Mereka memang sudah seperti teman yang terlalu dekat. Mereka terlalu dekat.

Bahkan, terakhir kali aku main ke apartemen Ayesa yang minimalis dan serba putih, dengan sentuhan pastel pada setiap perabotnya, aku masih menemukan surat-surat cinta mereka waktu SMA. Aku masih melihat cincin yang dijanjikan Jeva untuk jari manis Ayesa, “Aku yang akan memasukkan cincin ini ke jari manismu” tertulis jelas di suratnya.  Cincin itu tidak pernah bergeser dari tempatnya lengkap dengan surat dan kotak hati berwarna merah. Cihhh… anak SMA mana yang bisa seyakin itu? But, sometimes i envy her.

Ayesa pernah menjalin hubungan dengan beberapa orang, namun mereka tak bisa menggeser apa yang ada di dalam palung hatinya. Cinta dari Jeva. Surat cinta bahkan pas foto ukuran 4×6 milik Jeva masih tersimpan cantik di sana. Pernah Jeva memberikan sebuah kotak musik yang berisi penari balet dengan lagu kesukaan Ayesa. Kotak musik itu mungkin sudah terlihat usang, namun setiap kali Ayesa membukanya, memori itu kembali terkuak. Kotak musik itu masih memainkan melodi lagu natal yang akan selalu Ayesa dengarkan setiap tahun, ketika bersama Jeva.

Kadang, aku rasa Ayesa adalah perempuan yang sedikit gila karena move on ternyata tak semudah yang ku kira. Dia sudah move on, aku tahu. Tapi, aku rasa pasangan Ayesa selanjutnya harus sedikit rela kalau Jeva tak akan tergantikan. Hmm… bukan, Jeva pasti tergantikan. Namun, mereka harus memiliki apa yang tidak Jeva miliki. Dan hanya Ayesa yang tahu, apa itu.

Pernah suatu malam, aku pulang terlalu larut. Saking lelahnya, aku malas kembali ke apartemen ku sendiri. Aku memutuskan untuk menyinggahi apartemen Ayesa yang lebih dekat. Jaraknya hanya sekitar satu kilometer. Sesampainya di sana, aku berdiri di depan pintu kamar Ayesa. Ku dengar suara tangisan. Ku dengar suara isak tangis Ayesa sambil memanggil nama Nathan.

Jevanda Nathan. Itu adalah nama lengkap Jeva dan memang mereka pasangan yang aneh, mereka sudah merencanakan nama yang sama untuk anak mereka kelak, dan anak laki-laki itu dipanggilnya Nathan. Mereka hidup bersama bayangan Nathan.

“Mama kangen Nathan… mama kangen Nathan…”

Yah, terpaksa aku biarkan dia menikmati tangisannya. Kemudian aku memutuskan untuk menghilang.

“Ge…” , panggil Ayesa lembut sambil mengusap air matanya. Suaranya membuyarkan ingatanku tentang kisah cintanya dulu.

“Ya…”, ngomong-ngomong, aku yakin barusan Ayesa berdoa. Suaranya lembut melantunkan doa yang biasa ia lakukan dalam agamanya.

“Apa seharusnya dulu aku nggak menyerah, ya?”, ia mengatakannya sambil menatap mataku. Aku terdiam.

Belasan tahun aku kenal Ayesa, aku nggak pernah liat dia seperti ini. So, desperate!

“Ca, nggak ada yang salah dengan keputusan kamu. Ingat, Tuhan bakalan ngasih kamu orang yang lebih tepat buat kamu. Kamu punya mimpi yang luar biasa, kamu punya sesuatu yang nggak dimiliki Jeva. Tuhamu punya seseorang yang lebih dari Jeva buat kamu.”

“Iya, aku percaya.”

“Lalu?”

“Tadi malam, aku mimpi Jeva lagi. Tapi…”

“Tapi apa?” Aku menarik kursi ke arah meja makan, mendekati dia sambil memberikan roti yang sudah ku olesi selai stroberi. Ia mengambilnya dan menggiggit bagian ujung roti itu.

“Kami berpisah baik-baik. Di mimpi itu, aku bertemu kembali dengan dia. Semacam acara gathering. Kemudian, kita berenang. Dia dan aku saling melihat, tapi kami menghindar. Kemudian, sampai akhirnya kita harus pulang kembali dan menyebrangi sebuah jurang dengan jembatan yang sangat rentan. Aku melangkah lebih dulu, dia ada di belakangku. Tidak persis, tetapi setelah beberapa orang di belakangku. Aku melihat kakak senior kita, dia menggoda aku dan Jeva. Ku lihat Jeva tersenyum.”

“Lalu?”

“Lalu ku lihat beberapa orang jatuh ke dalam jurang. Dan aku kembali melangkah sambil ketakutan. Aku bergoyang di atas jurang itu, aku hampir jatuh. Lalu, aku kembali berjalan ke seberang. Ku lihat sudah banyak orang di sana. Oia… waktu di kolam renang, aku menyelam. Saat aku menyelam, aku sengaja bertahan lama di dalam air untuk bisa menikmati dia dari dalam air, dari kejauhan. Walau hanya kakinya.”

“Hmm…”

“Sesampainya di seberang, kami berpelukan. Entahlah. Kami masuk ke sebuah kedai. Semua orang yang berhasil menyebrang beristirahat di sana. Kemudian aku dan dia, kami memisahkan diri berdua. Kami bercanda, bermain, dia duduk tepat di belakangku. Aku bisa merasakan tubuhku bersandar pada tubuhnya. Lalu, aku bilang padanya ‘anakmu, cantik.’, kemudian dia sedikit menjauh, ‘Terima kasih.’ itu katanya. Kemudian dia membelai kepalaku, seperti yang biasa ia lakukan. ‘Kamu sih, main-main dulu.’ aku nggak ngerti. Lalu aku tersenyum dan memeluknya. Kami menghabiskan waktu mengobrol sampai akhirnya aku dijemput oleh Melinda dan yang lainnya. Mobil mamanya sudah menantiku untuk pulang. Dan…”

“Dan apa?”

Ayesa mulai berkaca-kaca.

“Kami berpamitan. Selamat tinggal. Itu yang aku ucapkan. Aku melihatnya kembali merapikan barang-barangnya bersiap pulang. Dan sempat ku dengar kalau kedai itu miliknya. Entah apa hubungannya…”

Ia menitikkan air mata sambil tersenyum. Kemudian, ia menggigit kembali roti yang kuberikan tadi.

“Menurutmu bagaimana?”, Tanyaku datar.

“Hmmm… Aku harap ini mimpi terakhir setelah bertahun-tahun. Mimpi yang sama terulang, mimpi di mana kami bertemu dan dia meminta aku untuk kembali bersamanya. Mimpi yang ketika aku membuka mata, membuat aku akan kembali merasakan kasih sayangnya.”

Jeva, seandainya kamu tahu ini… Oh, Ayesa sahabatku…

It will be better. Aku tahu kok, kamu selalu berusaha menyembunyikan ini. Aku tahu kamu sudah berusaha melepaskan dan meninggalkan Jeva. Aku juga tahu, kamu serius sama hubungan-hubunganmu yang lain. Walau Jeva ada di dalam sana. Jeva sudah tidak memberikan pengaruh apa-apa sama kamu.”

“Iya. Kamu tahu? Aku sudah membakar semua surat cinta, membuang cincin dari Jeva, dan semuanya.”

Whaatttt??? When?? Akhirnya, Ayesa…Akhirnya. Aku mengedipkan mataku beberapa kali untuk menutupi ekspresiku.

“Semua sudah selesai, Ge. Aku sayang sama dia. Dia juga pasti sayang sama aku.”

Sure. So?

“Sudah. Begitu saja. Aku sudah berdoa. Aku minta dan putuskan ini yang terakhir. Aku sudah berpamitan dengannya di dalam mimpi. Karena aku sudah siap melangkah, bersama Bram.”

“Jadi, kamu sudah mengambil keputusan untuk menerima Bram?”

“Ya. Seumur hidupku.”

Aku tak dapat menahan air mataku untuk Ayesa. Aku memeluknya dengan erat dan aku menghilang. Terima kasih, Bram. Sudah berusaha, menjaga dan menemani hari-hari Ayesa. Terima kasih untuk setiap kata-kata dan penerimaanmu atas Jeva. Terima kasih untuk perjuangan mengenal dan memberi lebih banyak untuk hidup Ayesa. Aku pamit.

***

“Angkasa Bramastya, aku Ayesa Geadinda menerima lamaranmu.”

Sent.

Kemudian aku terpaku, tersenyum menatap cermin.

Mama: Pernikahan Bukan Tentang Cincin

Salah satu yang menjadi elemen penting dalam sebuah pernikahan adalah cincin. Cincin yang berbentuk bulat pun sering dianggap sebagai simbol ikatan yang nggak akan pernah berujung, yang diharapkan terjadi dalam setiap pernikahan. Cincin juga merupakan hadiah terindah yang diharapkan kebanyakan perempuan dari pasangannya lebih dari apapun.

Aku punya cerita tentang cincin…

Suatu hari waktu aku masih kecil, kedua orang tuaku mengunjungi sebuah toko emas. Seingatku, aku tinggal di dalam mobil dan menunggu beberapa waktu bersama adikku. Tidak lama kemudian, papa dan mama datang ke mobil dan kemudian kami pulang. Beberapa waktu kemudian aku menemukan cincin di jari manis mama menghilang.

Satu cerita lain yang aku ingat adalah ketika mama menggadaikan perhiasannya. Entah itu termasuk cincin pernikahan milik mama atau tidak. 

Aku lupa mana cerita yang benar, tapi aku ingat dua kejadian di atas. Kejadian di masa laluku. Ketika semua benar-benar tidak enak.

Hmmm… Dulu aku pernah hidup dalam kelimpahan. Aku pernah merasakan hidup dengan dua pembantu di rumahku yang kecil. Aku pernah merasakan bagaimana hidup berkecukupan. Sampai suatu saat, aku harus menerima kenyataan kalau kehidupan berubah. Bahkan kenyataan kalau mama nggak akan pernah memakai cincin pernikahannya.

Sebabnya adalah cincin itu dipakai untuk membantu biaya kehidupan keluarga kami atau mungkin dipakai untuk menambah biaya sekolah kami. Jujur, sampai sebelum aku cukup dewasa aku kesal. Sangat kesal.

Bagaimana mungkin begitu tega menjual cincin pernikahan? Bagaimana mungkin merelakan cincin pernikahan untuk setumpuk uang? Pernikahan itu kan sekali seumur hidup. Trus, kalau cincinnya dijual nanti gimana? Sejak saat itu, aku bercita-cita untuk mengembalikan cincin tersebut. Cincin pernikahan untuk menjadi salah salah satu wish aku di tahun ini.

Saat itu, mungkin aku masih terlalu naif untuk memahami bahwa pernikahan bukan hanya masalah cincin. Lebih dari itu, pernikahan adalah sebuah pelayanan yang besar yang Tuhan berikan pada kita, kelak. Pernikahan berarti memberikan komitmen seumur hidup pada satu cinta. Pernikahan berarti beradaptasi dan menyesuaikan. Pernikahan berarti bagaimana bertumbuh bersama. Dan lebih dari itu semua pernikahan adalah hal yang sulit dijalani untuk mereka yang masih tidak tahu apa yang mereka inginkan. Pernikahan itu pengorbanan. Pernikahan itu mengisi kotak kosong dengan kebahagiaan. Pernikahan adalah hal yang sulit dijalani untuk mereka yang tidak mau berubah, belajar, dan berusaha. Pernikahan adalah hal yang sulit jika tidak dijalani dengan bahagia dan belajar membahagiakan pasangannya.

Marriage is a work in progress. – AR.Bernard

Aku sendiri belum menikah. Beberapa kali membaca buku tentang pernikahan, aku hanya berpikir apakah aku benar mampu menjalaninya kelak? Apakah aku bisa bertemu dengan pasangan yang bisa bekerjasama dengan baik? Berkomunikasi dengan baik? Memiliki keterbukaan yang baik? Dan banyak sekali pertanyaan yang ada di dalam kepala ini. 

Namun, belajar dari pengalaman mama. Pernikahan bukan sekadar cinta dan cincin semata. Pernikahan adalah tentang komitmen, kasih, penerimaan, memaafkan, mengupayakan, tidak bertoleransi dengan hal yang tidak benar, pertumbuhan, perubahan ke arah lebih baik, menjadi diri sendiri, bekerjasama dalam sebuah visi, jauh dari keterpaksaan, dll.

And today, I really thank God because after years I can make my dream comes true. I thank God ‘coz I can bought a beautiful ring for my mom as a present. For her birthday, mother’s Day, and Christmas gift.

This hand is my favorite. This hand is my home. Thank you for everything, Mom.

Love,

Ninta.

Apanya Yang Baik? Please, Lah!

“Good morning, everyone. Everything’s good????”
Dan dalam hitungan detik hampir semua orang di dunia ini bisa dipastikan akan menjawab, “Great. Luar biasa. Puji Tuhan. Alhamdulilah.”

Berapa banyak sih dari kamu mau menjawab dengan jujur tentang keadaan yang lagi kamu hadapi ketika pertanyaan itu datang tepat di depan mukamu yang sebenarnya mau senyum aja susah?

e5fba411fdf12d855add49e2df5fc1a7--one-word-truths

Source: Pinterest

 

Oo.. tunggu dulu, nanti kalau aku jawab jujur apa kata orang? Yah, apa kata orang nanti. Nah, sebelumnya saya mau sedikit mengingatkan untuk tulisan kali ini, tolong siapkan waktu dan pikiran yang agak lebih, ya. Karena akan sedikit berat dan bisa saja kamu ninggalin artikel ini di tengah jalan. Jadi, kalau nggak siap lebih baik tutup halaman ini sekarang. You choose 🙂

Okei, jadi kamu memutuskan untuk lanjut membacanya sampai habis? Good then.

Lately, saya sendiri berada dalam keadaan yang nggak baik-baik banget juga, sih. Kalau ditanya kabarnya, ya sebisa mungkin menjawab sejujurnya. Masalah ini terjadi di banyak aspek, baik relationship, pekerjaan, pelayanan, dan banyak lagi. Terutama, my relationship with God. Hubungannya sih baik-baik saja, tapi sempat berada di masa-masa banyak pertanyaan yang nggak jelas.

Yup, setelah beberapa kejadian yang menurut saya nggak enak, banyak sekali pertanyaan yang muncul di dalam kepala saya. Bukan, bukan marah-marah dan merengek-merengek nggak jelas ke Tuhan gitu, tapi pertanyaan semacam… ya.. iya.. mungkin yang sekarang lagi ada di kepalamu saat membaca tulisan ini. Then, suatu hari waktu saya sedang pelayanan di Women Conference, salah seorang sahabat saya menghadiahkan buku judulnya You’ll Get Through This: Hope and Help for Your Turbulent Times – Max Lucado.

What? Orang ‘patah hati’ dikasi buku yang berat macam itu? Yeah… since that day i committed to read that book. Setiap 1 bab harus dihabiskan dalam 1 malam. Dan setiap malam pula saya benar-benar ‘belajar’.

Salah satu bab di dalam buku itu bilang sama saya, kalau saya (kamu juga) harus menaruh Allah di tengah kehidupan. Ini sama banget dengan kotbah Ps. Jose Carol – What To Do When We Don’t Know What To Do yang jadi salah satu kotbah pegangan saya. Keduanya sama-sama menjelaskan bagaimana kita harus meletakkan Tuhan itu jadi jembatan antara masalah dan hidup kita.

Nggak percaya? Coba ingat beberapa tokoh Alkitab yang kamu tahu dan ceritanya. Di buku yang saya baca, Yusuf menjadi tokoh utamanya. Kamu mungkin bisa pakai Ayub atau siapapun yang kamu tahu. Dijelaskan dalam Alkitab, pola seperti ini terus berulang:

Kejahatan. Allah. Kebaikan. 

Hidupnya Yusuf itu ‘drama’ banget! Ngalahin telenovela, sinetron India, atau pun drama Korea. Di awal, dia mengalami kejahatan seperti dikhianati, dijual, dibuang, nggak dipedulikan, dipenjara, dll (name it with your problem now). Kemudian, dia membawa Allah dalam setiap masalahnya itu, ini merupakan perbuatan berserah dan bukan pasrah. Kenapa? Soalnya, Yusuf bisa aja lho nggak jadi excellent ketika menghadapi masalah-masalahnya, tapi dia nggak memilih seperti itu. Dia tetap melakukan bagiannya dan Tuhan juga ngerjain bagian Dia. Dan dalam periode yang cukup lama semua rasa nggak enak yang dia alami menjadi kebaikan. Bahkan kebaikan untuk banyak orang.

Simpelnya, sama seperti waktu kamu naik pesawat. Kamu duduk, pakai seat belt, pesawat take off dan perjalanan di mulai. Di tengah perjalanan, nggak diduga-duga kamu ngalamin turbulent. Apa yang akan kamu lakukan? Ninggalin tempat duduk dan marah-marah ke pramugari atau pilotnya? Atau kamu terjun dari pesawat karena nggak suka sama keadaan itu? Deuh…

Satu-satunya yang bisa kamu lakukan saat itu adalah percaya pada pilot yang menerbangkan pesawatnya sampai waktu guncangan itu terlewati, kan? Beriman dan percaya sama Tuhan juga sama seperti itu.

Ps. Rick Warren bilang faith is not denying reality. Faith is facing reality without being discouraged by it.

 

Faith is facing reality without being discouraged by it.

 

Hmmm… lalu gimana dengan saya ketika menghadapi banyak kejadian kemarin? Sejujurnya, saya sempat nanya sama Tuhan apa saya masih beriman apa nggak. Rasanya masih kok, tapi kayak ada yang mengganjal di dada, ya? Dan beberapa kali beragam pertanyaan muncul di kepala saya. Dan pertanyaan-pertanyaan itu cukup berlebihan. Kenapa? Karena saya merasa panik dan mulai ‘goyang’. Semua plan saya meleset, saya harus ubah semua dari nol. Saya harus restore hati yang hancur, saya harus kembali menstabilkan keadaan sekitar saya, saya harus ini dan itu. Too much to ask, too much to do, too much. Bleeh!

But, i’ve learnt that everything need process. 

Everything you are going through right now is to prepare you for everything you have asked for. – Ps. Sidney Mohede

 

Jadi, gimana dengan iman? Apa jangan-jangan saya mulai meragukan? Atau saya cuma terguncang aja sih. Jujur saya takut, lho waktu membayangkan ini. Rick Warren mengatakan bahwa Iman, Faith, Pistin/Pistis bukan berarti kita menolak keadaan terpuruk, sedih, dan selalu berkata “I’m good. I’m fine.” tetapi bagaimana dalam masalah kita tetap maju dan nggak berkecil hati. Terus minta hati yang baru, hari yang baru. Fiuh…

Kenapa? Kok bisa? Okei, begini… Lagi-lagi ngutip kata-kata pastor, ya. Ps. Steven Furtick bilang karena Tuhan nggak pernah menciptakan penderitaan, tetapi Dia menggunakannya untuk mendevelop apa yang ada di dalam diri kita. Kehidupan kita. Ini asli bukan kebetulan, this morning me and my mom have a great chat and she has sent me a great story.

Ada seseorang yang menanam pohon jeruk Bali di Florida. Namun. dia kecewa karena pohonnya nggak berbuah banyak. Ia pun mencari tahu pada pakar perkebunan. Bapak ini mendapat saran untuk memukul batang pohon jeruk tersebut dengan sebuah papan beberapa kali. Faktanya, hormon yang mendorong pertumbuhan bunga di pohon itu terhambat, sehingga harus dibantu dengan cara dipukul hingga muncul memar di batang pohon tersebut.

Sekarang, kamu sedang merasa dipukul dari segala arah? Banyak pertanyaan yang muncul di kepalamu? Sakit, yaa.

Tapi ‘pukulan’ ini, lho, yang bisa merangsang pertumbuhan dalam diri kita. Syaratnya gampang, asal kita mengizinkan diri kita diproses untuk bertumbuh supaya menghasilkan buah yang lebih banyak. Coba bandingkan proses si jeruk itu dengan proses penanaman hingga panen anggur.

Terus, apa dong kuncinya biar bisa melalui ini semua? Kan nggak gampang katanya. Ini kuncinya,

2 Corinthians 4:18.

So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen, since what is seen is temporary, but what is unseen is eternal.

 

Jadi, sudut pandang apa yang kamu lihat? Sudut pandang kamu sendiri atau sudut pandang Tuhan? Is it conflict or chance to grow? (Ps. Steven Furtick)

Salah satu panutan saya di gereja adalah Hana Carol. Dalam sebuah ibadah, dia pernah menyampaikan hal yang belum pernah ia ungkapkan di muka umum about her background. Kamu bisa cari kotbahnya dengan judul Reserved for A Purpose. 

Melihat bagaimana saat ini dia dan keluarganya bisa berbuah, mungkin banyak yang nggak menyangka perjalanan hidupnya seberat itu. Sedikit banyak saya bisa merasakan karena saya pun sempat dan pernah mengalaminya. Tetapi, dia sendiri dengan yakin mengatakan kalau Tuhan bisa membalikkan semua keadaan menjadi kebaikan.

Tuhan bisa membalikkannya menjadi kebaikan. I’m grateful that He never let me go.- Hana Carol

 

Coba ingat lagi apa yang saat ini sedang kamu hadapi, apakah keadaan itu datang dari luar atau diri kamu sendiri? Apa kamu ngerasa hancur? Apa kamu ngerasa kenapa hidup kamu musti kayak gini? Apa kamu ngerasa kenapa semua nggak berjalan sesuai apa yang sudah kamu rencakan? Apa kamu ngerasa sendirian? Ditinggalkan? Daaaaan lain-lain…

9670cba2fb39da70e187c6e3a4d05592--handwritten-quotes-jeremiah---calligraphy

Source: Pinterest

Come, fix your eyes. Seek Jesus. He is always willing to give us a new beginning.

Look into Jesus, seek His face, and you will find that everything is under His control.

Kejahatan. Allah. Kebaikan. RencanaNya dan caraNya nggak pernah salah, asal kita percaya dan mau melihat dari sudut pandang yang berbeda (reframing).

Xox,

Ninta

 

Oh My God! This Is Gray Hair…

“Oh my God! What is this?”

Jujur saja saya sempat teriak dalam hati saat menemukan uban pertama di kepala saya. Uban ini saya temukan ketika saya sedang mengeringkan dan menata rambut sebelum berangkat ke gereja.

Wait, usia saya belum setua itu. Masih berada di kepala dua. Masih muda dan rasanya saya ingin menolak kenyataan kalau saya memiliki uban.

Sejujurnya, kurang tahu juga apa penyebab uban ini ada. Apakah memang karena pigmen rambut saya yang tidak begitu kuat? Ataukah ini akibat pewarnaan rambut beberapa tahun yang lalu? Atau memang sudah waktunya saja uban itu tumbuh?

Lalu, kenapa harus cemas? Kebanyakan orang cukup cemas saat mengetahui bahwa ia memiliki uban karena ini adalah salah satu tanda kalau mereka sudah mulai tua. Is that right?

Lalu, bagaimana dengan saya sendiri? Jelasss… Pertama melihatnya saya tercengang, diam, dan berusaha mencabut nya. “Malu lah kalau tahu punya uban.”

But, sambil meneruskan untuk menata rambut dan berdandan saya mendapatkan hal yang berharga. Saya mulai berpikir seperti ini…

“Ninta, tahukah kamu, banyak sekali orang di luar sana yang harus kembali pada Bapa sebelum ia melihat ubannya sendiri. Yang belum sempat melakukan banyak hal untuk dirinya dan orang lain. Yang belum sadar bahwa ia semakin tua dan tak banyak melakukan apa-apa. Karena nyatanya nggak semua orang punya usia yang panjang dan berkesempatan untuk melihat bagaimana satu persatu rambut mereka memutih. Kamu begitu beruntung. Kamu masih bisa menyadari kasih dan penyertaan Tuhan selama ini. Sejak kamu dilahirkan hingga kini kamu bisa melihat satu persatu rambutmu mulai memutih…”

Dan saya mulai berkaca-kaca sambil membubuhkan bedak lipstik. Bisa saya bayangkan betapa Tuhan sayang saya sampai hari ini. Dengan semua yang sudah saya lakukan, mau kemana lagi saya berlari? Tuhan itu baik.

Bahkan Dia masih terus dan terus menggandeng tangan saya di saat apapun. Saya masih bisa melakukan banyak hal sampai saat ini juga hanya karena kasihNya. Lalu, apa yang salah dengan uban?

Sekarang, saya membalikkan pertanyaannya. Sampai rambut saya perlahan memutih… Apa yang sudah saya buat untuk Dia, yang benar-benar mengasihi saya?

Bagaimana dengan kamu? 🙂

Xox,

Ninta

Ketika Kamu Menjadi Jawaban Doa

ab74b40b8392f678dd95c577a62f1a03--future-quotes-teen-quotes

Source: Pinterest

“Kamu adalah jawaban doaku…”

Apa yang kira-kira kamu rasakan dan pikirkan ketika seseorang mengatakan hal ini di depan matamu? Basi, klise, gombal, atau justru kamu merasakan joy yang nggak mudah kamu dapatkan?

Menjadi jawaban doa memang terdengar seperti bualan belaka atau sebuah kalimat klise yang biasanya kamu dengar dari pasangan kamu. Kebanyakan sih memang seperti itu. Tapi, beberapa hari yang lalu, saya benar-benar merasakan (kembali) apa artinya menjadi jawaban doa.

Awalnya, di hari itu memang saya harus ke ICE, BSD Tangerang, untuk menghadiri conference. Mumpung di BSD, entah kenapa saya ingin sekali menjenguk Oma dan keponakan yang memang tinggal di sana. Bertepatan juga saya ingin memberikan hadiah kecil pada kakak dan keponakan saya yang baru saja berulang tahun.

Long story short, saya datang membawa makanan kesukaan orang rumah. Namun, diluar dugaan ternyata Oma baru saja tertimpa musibah. Saya lihat Oma sedang bicara dengan salah satu anaknya yang juga datang ke sana. Saya sempat heran kenapa si Om ada di sana juga. Kakak dan Abang belum tiba di rumah, saya menghabiskan waktu untuk menemani keponakan saya bermain dan menyuapinya makan.

Malam itu saya hanya berpikir untuk datang dan bermain saja, tapi Tuhan selalu punya rencana. “Untung ada auntie Ninin datang, jadi Abel ada yang temenin main. Oma lagi lemes banget. Kasian Abel kalo nggak ada yang ajak main juga.” Siapa juga yang tahu kalau Oma sedang kena musibah, siapa juga yang tahu kalau di rumah si Abel nggak ada teman mainnya. Semua terjadi begitu saja (sesuai rencana Tuhan).

Kemudian, malam itu hujan turun sangat deras. Tadinya saya mau langsung pulang ke Jakarta namun saya memutuskan untuk menunda kepulangan saya dan menginap di sana. Kakak pulang sekitar jam 10, waktu kita makan snack di ruang tamu dia bilang, “Tahu nggak, tadi aku pengen banget makan ini, trus ternyata kamu bawain ini ke rumah.” Then, lupa kalimat jelasnya dan kapan dia mengatakan, yang jelas dia bilang, “Kamu udah jadi jawaban doa tahu nggak? Sesimpel datang ke rumah dan bawain makanan ini.”

And my first reaction is jumping like a child! I jump and running to her and i hug her. I’m just too happy! This is joy.

Terkadang, kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan di luar sana. Tanpa kita sadari kebahagiaan itu benar berasal dari dalam.

29a00cc0dc17ded393fbc6655f76b71f

Source: Pinterest

Oia, bicara tentang jawaban doa nggak semuanya hadir dalam bentuk yang menyenangkan, lho. Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan insight dari Kak Christofer Tapiheru. It’s a simple message dan kita sudah sering banget mendengarkannya. Dia bercerita bagaimana kita sering meminta untuk menjadi sabar, untuk menjadi tekun, untuk menjadi bijaksana, dan hal-hal baik lainnya.

Lalu, tiba-tiba keesokan harinya kita mengalami the worst day ever karena mood kita dirusak sama orang yang bikin kita kesal. Kemudian, dengan santai kita bilang sama Dia, “Tuhan, tu orang nyebelin banget deh. Gengges banget. Rese’. Siapa juga yang bisa sabar ngadepin orang kayak dia?”

Eitsss… kemarin kayaknya ada yang baru saja berdoa untuk minta jadi orang yang lebih sabar.

You know, orang itu merupakan jawaban doa kamu. Dan hal ini juga berlaku untuk kamu yang mungkin menjadi jawaban doa seseorang yang sedang meminta kebijaksanaan atau kelemahlembutan.

 

Amsal 27:17

Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.

Tapi, sudut pandang ini nggak bisa dilihat semua orang. Beberapa orang bahkan menganggap ini adalah kondisi yang ingin cepat-cepat mereka lalui. Kondisi yang bikin hidup mereka nggak nyaman.

Kamu baru bisa menganggap hal yang nggak menyenangkan ini menjadi jawaban doa atau sebuah pelajaran berharga, jika kamu benar-benar menyerahkan hidupmu ke Tuhan. Jika kamu meminta hati yang lembut untuk benar-benar tunduk terhadap otoritas Tuhan. Kalau nggak, ya kamu akan beranggapan kalau Tuhan nggak sayang sama kamu makanya kamu ngalamin hal ini. Kamu nggak pernah menganggap bahwa proses ini menguntungkan untuk kamu.

Oia, waktu kamu mengalami hal yang nggak menyenangkan ini juga nggak ada kaitan langsungnya dengan kesalahan atau dosa yang kamu perbuat. Terkadang, Tuhan hanya ingin memperbesar kapasitas kamu. Nggak percaya? Baca kitab Ayub. 🙂

Mudah? Nggak.
Mendapatkan insight ini nggak semudah itu, butuh proses untuk mau tetap mengikuti rencana Tuhan yang nggak pernah kita mengerti.

Kesimpulannya menyenangkan atau pun tidak, Tuhan bisa pakai siapa saja untuk menjadi jawaban doa. Asal mau dipakai dan menyediakan dirinya untuk dipakai. Simple yes to God may change everything.

Mungkin saat ini kamu lagi sedih, kamu lagi galau, kamu lagi nggak sabar, kamu lagi senang banget, kamu lagi berbunga-bunga. Tapi, apapun keadaan yang sedang kamu alami, tetap sediakan dirimu untuk mendengar dan bersedia dipakai Tuhan. Kamu nggak akan pernah tahu apa arti kehadiranmu untuk orang lain kalau kamu menutup telinga dan hatimu.

So, coba ingat-ingat lagi apakah kehadiranmu, hidupmu, dan apa yang kamu lakukan menjadi jawaban doa untuk orang lain? 🙂

xox,

Ninta.

When God Speak In Your Mind

If you feel God is so far, you’re wrong. Totally wrong.
God is always in us. You can feel it, you can hear His voice clearly if you want.

This morning, I’m coming late to go to morning chapel at the office. When I decide to not join them, holy spirit tell me “Go!” then I can’t deny but obey. I just think, “Yaudalah ya. Paling lagi sesi baca Firman. Daripada di sini gamang nggak jelas.”

I open the door and looking for the sit. Then, one of the counselor wave her hand and tell me to sit beside her. After the last sentence of the story, suddenly the counselor beside me speak and she told us that she want to share about “Cognitive Therapy”.

Cognitive therapy is a therapy for the mind to always set the positive. You know… Then she asked to open the Bible, Phillipians 4:8 (KJV)

“Finally, brethren, whatsoever things are true, whatsoever things are honest, whatsoever things are just, whatsoever things are pure, whatsoever things are lovely, whatsoever things are of good report; if there be any virtue, and if there be any praise, think on these things.”

This is the third time I heard about this. God speaks louder to me again and again. In this condition, so many things entering my mind, with many speculation, many choices, many wrong insight. But, He know that His children, specialy me, is so weak and need to strengthen. So, He always speak through everything to keep me strong.

Then, the counselor continue her story about this verse. Yes, it is not easy but not impossible. She added another verse. Rome 12:3 (KJV)

“For I say, through the grace given unto me, to every man that is among you, NOT TO THINK of himself MORE HIGHLY than he ought to think; but to think soberly, according as God hath dealt to every man the measure of faith.”

Sometimes, we take everything around us to our mind and process it to be something bad. Without filter it. That’s human’s tendency. Then, that minds cause us to worry, anxious, sad, stress, depression. I talk this because I’ve been there. But, if you win from this feelings, you’ll become stronger.

One more time I tell you, this is not easy. But, if we willing to hear God’s voice, obey to where holy spirit guide us, and still believe that our Father is so so good, we will never be the same. We know what we should do.

I write this to remind me. I know this is for me. And I know that God is always be with me, I’m not alone no matter what. I’m His no matter what. And He loves me no matter what. The thing is, problem still there. While we’re crowling, we have freedom to choose to keep moving or to stop and give up. 

My pastor said, devil doesn’t worried when you have faith, devil worried when you always HOPE. Devil worried when you KEEP MOVING, even you’re crowling, because you know there’s a HOPE. Because you don’t want to stop.

So, I ask my self, “Do you want to let go the negativity and keep moving or still live in that mind and it’ll makes you weaker and hurted more and more?”  So, I decide to keep moving with Him. And these days I feel better. I can smile again. And… What about you?

Pardon my English, xox

Ninta.

Ps: i wanna say thank you for one of my friends who text me in the middle of the night and say..

“Ok, let’s pray for peace and wisdom to be upon you. You really need it. I can’t say much but I know for sure He has a plan in the midst of this uneasy season.”