He Never Leave Us

Pernah nggak sih ngebayangin gimana rasanya berjalan di jalan setapak, di antara semak belukar yang berduri, yang berwarna hitam pekat, nggak ada cahaya, dan kamu berjalan sendirian? It sounds creepy. But, I have feel it.

Beberapa waktu lalu saya terus mengalami pergumulan demi pergumulan yang jujur membuat saya sempat merasa sangat lelah. Perasaan ini bahkan membuat saya berpikir bagaimana kehidupan setelah kematian? Bagaimana saya mengatasi suatu hal ketika saya sudah benar-benar nggak mau lagi berurusan sama hal tersebut?

Saya kerap mengalami sulit tidur karena rasa kesal pada diri sendiri (dan orang lain) yang saya miliki, rasa nggak mampu lagi percaya sama orang lain, rasa di mana saya nggak mau ketemu dan berurusan sama siapa-siapa lagi.

Suatu malam, saat saya sulit tidur dan mengalami delusi, saya merasa saya makin sulit bernapas, saya ingin menutup mata namun takut jika saja saya nggak akan bangun lagi. Setengah nyawa, saya melihat suasana kamar saya berubah. Dinding yang biasanya gelap, semua mendadak terang bagai dicat putih.

Sisi kanan, kiri, depan, belakang. Nggak ada bayangan ventilasi. Nggak ada bayangan lemari. Sampai-sampai saya merasa saya harus tampar diri saya supaya saya kembali sadar.

Alhasil, setelah menggelengkan kepala beberapa kali, saya mulai melihat kembali bentuk kamar saya. Am scared about that. I know, too much burden and traumatic can cause anything. And I feel it at that time.

Hmmh…

Kira-kira begitulah “semak belukar” yang saya alami. It makes me so down. I feel like I can’t trust nobody. I just feel that only God knows me. Tapi, walau demikian aku seakan berjalan tanpa harapan.

Beralih sedikit ke cerita lain, aku baru saja melakukan rock climbing. Dan ini adalah salah satu bucketlist dalam hidupku. Dulu, sebenarnya bungee jumping adalah keinginan utama. Tapi, rasanya nggak mampu jadi aku memilih untuk mencoba olahraga ekstrem yang lain.

Gunung yang aku panjat ini adalah Gunung Parang, Purwakarta. Ini adalah gunung dengan via ferrata tertinggi se-Asia Tenggara. Memang aku nggak manjat sampai puncak. Tapi, aku berhasil mengalahkan diriku sendiri di ketinggian 350M. And I proud of my self.

Lalu, apa hubungannya dengan cerita sebelumnya?

Setiap kita di dunia ini memiliki gunung atau lembah sendiri dan seringkali kita melihatnya sebagai sebuah hal yang menakutkan. Hal yang nggak bisa kita taklukkan. Kita melihatnya sebagai sebuah kegelapan yang pekat dan ketinggian yang menembus langit. Impossible banget lah rasanya.

Ditambah lagi, seringkali kita berteriak, “God, I can’t do this! I can’t do this anymore.” Then we’re crying. Peeps, I wanna ask you something.

Seberapa cepat kita meminta tolong sama Tuhan, curhat sama Tuhan ketika kita menghadapi kegelapan atau ketinggian yang menjadi masalah kita tersebut? Saat itu juga? Atau kita justru langsung mencari our gadget to update our status. Atau kita justru langsung panik menelpon atau menghubungi teman-teman kita untuk meminta tolong supaya mereka mendengar apa yang ingin kita sampaikan?

That fast!

Kita nggak terbiasa untuk langsung memanggil Dia sang penyelamat dan pelindung kita. Kita akan berlari sangat cepat untuk dunia. Padahal, kita tahu kemana kita harus mencari pertolongan pertama.

Now, i realize about that.

Kita nggak sebegitunya mengandalkan Dia. Kita nggak sepenuhnya mau dipegang sama Dia. Kita berusaha mencari jalan duluan, sedikit sabar, dan merasa nggak mampu tanpa nanya atau ngomong dulu sama Bapa kita.

We’re affraid. We’re worry. But, we are not let God take control. Kita sibuk sama cara kita sendiri. I told you this cz I know what am talking about.

Setiap kali aku membayangkan lembah atau jalan setapak yang penuh semak belukar tadi, aku seakan menangis dan benar-benar nggak bisa melewatinya sendiri. Sampai suatu waktu aku kembali memutuskan untuk bilang sama Tuhan kalo aku nggak sanggup lagi. Aku butuh digendong.

You know, saat itu juga Tuhan nunjukin kalau dia itu nggak pernah ninggalin kita. Aku benar-benar melihat dia berjalan bersama-sama denganku, menggandeng tanganku, dan nggak ada satu pun bagian dari semak belukar itu yang menyakiti aku. Luka atau lecet itu ada, tapi Tuhan menggandeng aku melewatinya.

Sama seperti ketika aku mendaki gunung batu setinggi 350M itu. Awalnya, aku merasa itu pasti akan sulit untuk dijalani. Tapi, nyatanya saat aku sudah mulai melangkah setapak demi setapak, aku berhasil tiba di puncak. Setiap kali selalu menyemangati diri sendiri. Setiap kali selalu minta Tuhan tolong.

Lalu kenapa nggak melakukan hal yang sama dalam kehidupan? Toh, hasilnya Tuhan mampukan.

Perjalanan saya dan teman-teman mendaki gunung tersebut direkam oleh seorang teman. Setelah videonya jadi, kami melihatnya dan nggak percaya kalau kami mampu dan berhasil menaklukkan gunung setinggi itu dengan cara memanjat.

So, peeps… Saat ini, mungkin kamu dan aku sedang berada dalam kondisi yang penuh kalimat “Nggak mungkin. Ini sulit. Aku ingin berhenti.” Tapi, kalau kita tahu kita mengandalkan siapa, kalau kita mau menyerahkan kendali sama Dia, percaya penuh sama Dia, dan keep being nice, percayalah… Kita akan sampai di tempat seharusnya dengan bangga dan bahagia. Achieve! Achieve! Achieve!

Dan ketika melihat kembali ke belakang hasil “rekaman” perjalanan kita, kita bisa menyadari kalau sesuatu yang awalnya nggak mungkin itu jelas dan sangat mungkin untuk Tuhan.

Aku nggak bilang setelah menyerahkan semuanya maka dalam waktu cepat semua akan baik-baik saja. Tapi, Tuhan pastikan Dia nggak akan pernah ninggalin kamu di saat semua orang pergi bahkan nggak peduli sama kamu.

Dan pada akhirnya…

Aku melihat serta menitikkan air mata ketika menyembah dan mengadu pada Dia dengan sebuah lagu. Saat aku menutup mataku, aku jelas melihat Dia menggandeng tanganku erat, dan aku sangat kecil, dan kita berdua berjalan bersama-sama walau kepalaku masih tertunduk.

“Engkau ada bersamaku
Di s’tiap musim hidupku
Tak pernah Kau biarkan ku sendiri
Kekuatan di jiwaku
Adalah bersamaMu
Tak pernah ku ragukan kasihMu…
BersamaMu Bapa
Kulewati semua
PerkenanMu yang teguhkan hatiku
Engkau yang bertindak memberi pertolongan
AnugerahMu besar melimpah bagiku…”

#amjusthuman

Advertisements

Daughter

88e7f7cd59be225b6255b0773b4584f3

Source: Pinterest

Sometimes, i feel sucks to be a daughter

I don’t have any power to make it double

It’s hard to be a daughter

When am being in trouble

And knowing that i’m alone

But, you know…

Daughter can make a trouble if she can’t handle herself

Daughter…

I should handle this and that

Everyone just look at me like am good in everyway

They don’t know what happend inside

The wave, the burden, the joy, the brokeness, the power that i should gain everyday

To make a day just a good day

I smile

I pray

I try to handle this like always

And throw away my true feelings to be a good daughter

Sometimes, i want to lay down and hug and tell that my day is hard

But, daughter can be like that

Cheer up, daughter!

I wish i can be a gloomy daughter for a while.

#amjusthuman

Piyama Dan Anak Perempuan


Suatu hari di sebuah kota kecil, tinggallah seorang Anak Perempuan yang sangat mencintai ayahnya. Sang Ayah pun sangat mencintai gadis kecilnya.

Ayah selalu bekerja dengan jam yang tidak pasti. Setiap kali Ayah bertugas malam dan pulang larut, sang Anak sudah sengaja tidur di ruang tamu agar nantinya ia digendong ke kamar oleh sang Ayah. Hal ini menjadi sebuah kebiasaan untuknya.

Selain menggendong, Ayah juga memiliki kebiasaan untuk membawa makanan. Bihun goreng kecap kesukaan Ayah, akhirnya menjadi makanan favorit tengah malam si Anak Perempuan.

Selain menggendong, Ayah suka membangunkan Anak Perempuannya untuk ikut mencicipi makanan yang ia bawa. Ini menjadi momen paling menyenangkan untuk Ayah dan dia.

Di hari ulang tahunnya, Ayah memberikan kado spesial untuk Anak Perempuan. Ia memberikannya sebuah baju tidur berwarna biru dengan lengan yang panjang dan juga celana yang panjang. Alasannya sederhana, Anak Perempuan kerap digigit nyamuk dan menggaruknya hingga luka. Itulah mengapa Ayah memberikan semua yang serba panjang.

Baju tidur itu menjadi baju tidur favorit Anak Perempuan. Ia terus menggunakannya hingga baju tidur itu rusak dan berlubang.

Namun, itu adalah baju tidur pertama dan terakhirnya.

Tak lama setelah baju itu rusak, Ayah pergi meninggalkan dia. Dia pun tak peduli lagi pada baju tidur Anak Perempuan.

Dulu, jika Anak Perempuan sakit, baju Ayah dan pijatannya adalah pertolongan pertama. Namun, sejak ditinggalkan ia berusaha mengobati dirinya sendiri dengan pijatan Ibu.

Baju-baju Ayah satu persatu tidak ada di lemari lagi. Baunya pun sudah tak tercium lagi. Ya, aroma khas yang menjadi obat pelepas rindu Anak Perempuan.

Sejak saat itu, Anak Perempuan tak lagi memakai baju tidur. Ia memakai apa saja untuk tidur. Ya… Ia tahu, itu takkan pernah mengobati rindu pada ayahnya.

Tak akan ada yang bisa menggantikan gendongan Ayah saat itu. Tak akan ada yang bisa menggantikan ciuman Ayah pada dahi dan pipinya kala itu. Tak akan ada yang bisa menggantikan pelukan, pangkuan, dan nyanyian Ayah kala itu.

Hal yang paling dirindukannya dari Ayah adalah menemani Ayah berolah raga dan juga bernyanyi. Ya, Ayah adalah seorang penyanyi. Semua orang kenal Ayah dan tahu kalau Ayah adalah sosok yang pintar, ulet, cerdas, dan memiliki suara yang luar biasa. Ayah juga bisa memainkan gitar dan keyboard. Ayah sangat luar biasa.

Namun, Ayah pergi meninggalkan Anak Perempuan.

Dewasa sudah kini anak perempuannya. Ia sudah bisa membeli pakaian sendiri. Satu hal yang pasti ia cari adalah piyama.

Piyama dengan lengan panjang dan celana panjang. 

Ini akan selalu mengingatkan dia pada kasih sayang Ayah di masa kecilnya. Ia merasa aman dan nyaman ketika ia menggunakannya.

Kado yang paling indah untuknya, seumur hidup.

“I love you, Pa.”

Xox,

Kakak

The Girl On The Window

Once in a sunny day, there is a girl on the window.
That’s her favourite window.

From that window, the girl seeing people. That’s her favourite routine.

One day, someone knock on her window.

“What are you doing? Come and play with me!”

The girl just peeping from the window and hide behind the curtain.

“Come on.”

She still looking at the boy who knocked her window.

“I… I don’t know.”

She’s still hiding.

And the boy leave her alone.

The little girl regret it.

She’s sad.

Next day, she’s ready to play if the boy ask her to play with him.

She’s peeping out. There are so many people.

Knock. Knock.

“Hei, look at your bangs. It’s funny. What are you doing there? Come play with me!”

She’s prepare everything. Everything before she going to sleep last night. But, she’s still affraid.

The little girl really want to play. But, she’s affraid that the boy won’t like her.

So, the girl close the curtain. Again.

The next day, she open her window and let the boy playing with her. At her window. That’s her favourite corner.

They’re so happy.

Slow but sure the little girl open the window wider and wider.

Now, she’s smile to that boy. She’s happy.

The next week, they’re getting closer. The man come with some toys. The girl tell the boy how hard her day.

For the next month, they share their sandwiches. Her favourite jam and his favourite snacks.

Month passes, the girl throw the bricks around the window. She knows that the boy really enjoy playing with her, either she.

One brick, two bricks, until almost every bricks fall from the window.

The sun comes up. In the daylight, she’s very happy and want to share everything with the boy. She meets the unicorn in her dream.

But…

The moon show its face. The girl still open the window. She thought, maybe the boy is sick. Maybe, the boy just bored with her. Or maybe the boy just can’t come.

She waits.

“That’s oke. I’ll wait.”

The sun comes up. She’s looking the boy from the window. The boy comes up. She waves her hand with wide smile.

The boy just stare at her and run.

She’s confused. She’s sad.

The next day, she’s waiting again. The wall start to build.

“There you are, boy.”, She whispered. She waves her hand again.

The boy just stare at her, waving, and run through the window.

The wall getting higher.

The sun comes up. The girl still waiting at her window. She’s looking at the boy. He become far away from her. She waves her hand.

The boy not coming up. He stand still, right over there.

The little girl shows him his favourite snacks. But, the boy ignore it and just leave.

The little girl is very sad.

She packs her snacks. She feels so stupid. 

She build the wall with her bricks again. She close the curtain.

“It’s not easy to break the wall. It’s not easy to standing here without the curtain. It’s not easy to show my stupidity. But, at the end… The boy leave me alone…”

She said.

She’s sad.

#amjusthuman

Intense

There’s an ocean i could dive in
Call me to search what he hide behind that wide smile

There’s a light i couldn’t stand

Teasing me to find out what he bury in his heart

There’s a magnet that makes me always staring him

Moved my heart to make his happiness my priority

Those eyes, so intense

I know i will always love it…

#amjusthuman